Selasa, 05 Juni 2012

Filosofi Rumah Jawa

HUBUNGAN MAKNA RUMAH BANGSAWAN DAN FALSAFAH HIDUP MANUSIA JAWA DALAM KONTEKS PEMBATAS RUANG


HUBUNGAN MAKNA RUMAH BANGSAWAN DAN FALSAFAH HIDUP MANUSIA JAWA DALAM KONTEKS PEMBATAS RUANG

Prof. Dr. Ir. Josef Prijotomo, M. Arch.2
Ir. Muhammad Faqih, MSA. PhD.3

1.Staff Pengajar Jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
2.Staff Pengajar Jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.


ABSTRAK
Budaya  menampilkan  kekomplekan  dalam  suatu masyarakat.  Masyarakat  Jawa adalah  salah satu hasil dari kebudayaan yang merasuk hingga menjadi identitas. Pada masa Pakubuwono X terjadi gempuran  budaya  Eropa  yang secara  eksplisit  berpengaruh  pada kehidupan  masyarakat  Jawa dan juga  arsitektur  di  Surakarta.  Tulisan  ini  membahas  ekspresi  budaya  Jawa  berupa  falsafah  hidup manuisa  Jawa  yang  tertuang  dalam  rumah  dan  kaitannya  dengan  makna.  Makna  dibaca  dengan konteks pembatas  ruang, yaitu dinding, lantai dan langit-langit/ceiling. Rumah bangsawan  terletak di benteng Keraton Kasunanan Surakarta dipilih menjadi objek karena masih memiliki keaslian dan kelengkapan  bagian-bagian  rumah  Jawa.

Hasil  penelitain  menunjukkan  adanya  hubungan  pada bagian rumah yang memiliki nilai kehidupan dan ke-Tuhan-an.

Kata kunci: budaya, falsafah hidup manusia Jawa, pembatas ruang, rumah bangsawan

PENDAHULUAN
Kebudayaan dibangun oleh masyarakat dengan pemikiran yang abstrak tentang apa yang penting  dan bernilai  dalam  hidupnya.  Kebudayaan  menjadi  pedoman  hidup  baik itu tindakan maupun sikap, melalui proses penyamaan pandangan masyarakat atas pandangan atau pendapat  pribadi. Pedoman  hidup tersebut  disetujui  bersama  dan kemudian  menjadi latar kebudayaan. Jawa sebagai daerah yang memegang teguh kebudayaannya telah mempertahankan  apa yang diyakininya  tapi tidak menutup  diri atas segala  sesuatu  yang baru untuk membangun kekayaan budaya yang dimilikinya.
Budaya   Jawa  memperoleh   gempuran   dan  pengaruh   dari  budaya   luar  namun
masyarakat  Jawa atau kebudayaan  Jawa mempunyai  kemampuan  yang luar biasa dalam mempertahankan  keaslian budayanya, dengan cara membiarkan bahkan menerima budaya asing  tersebut,  sebagai  sarana  untuk  memperkaya  kebudayaan  Jawa,  sampai  akhirnya menjadikan pengaruh budaya luar itu sebagai budaya Jawa (Suseno, 1988:16). Pembauran masing-masing  komponen  masyarakat  dalam  lingkungan  budaya  yang  baru  memberikan nuansa   dan  wajah  baru  bagi  kota  Surakarta.   Namun,   masyarakat   Jawa  akan  tetap mempertahkan yang diyakininya sedari dulu. Warisan leluhur dijadikan dasar bagi individu agar mendapatkan  tempat dan pengakuan dari masyarakat luas. Suatu warisan luhur yang menuntun  dirinya menjadi manusia Jawa akan terus dipertahankan  dan dijadikan identitas Jawa.  Budaya  merupakan  pintu gerbang  menuju  berbagai  pemikiran  abstrak  yaitu filosofi yang  berkembang  menjadi  falsafah  hidup  yang  digunakan  sebagai  tuntutan  kehidupan. Pemikiran-pemikiran   masyarakat   Jawa   terpapar   dari  bagaimana   mereka   menjalankan kehidupannya    dengan   berbagai   sikap   yang   berhubungan    dengan   sesamanya   dan berhubungan dengan Tuhannya.

Rumah sebagai tempat untuk memfasilitasi kehidupan manusia. Rumah dibentuk dari
kebudayaan  dengan  memakan  waktu  yang  sangat  lama,  pada  awalnya  hanya  sebegai tempat   pernaungan   dan   perlindungan,   tapi   dengan   adanya   perkembangan   budaya, kebutuhan  dan  teknologi,  fungsi  rumah  menjadi  cukup  kompleks.  Rumah  mengemban berbagai  macam  fungsi  dan  terkadang  tidak  dapat  disatukan,  sehingga  diperlukannya pembatas  untuk  memisahkan.   Pembatasan   akan  membentuk  ruang-ruang   yang  saling berkaitan menjadi kompleks rumah. Kelengkapan ruang inilah yang menjadikan rumah bangsawan   lebih  unggul  dari  pada  rumah  umumnya.   Rumah  bangsawan   merupakan

community house terdiri dari beberapa bagian, : yaitu
1. pendopo,
2. pringgitan,
3. emperan,
4. dalem ageng,
5. senthong,
6. gandok,
7. dapur,
8. kamar mandi.

Keunggulan  rumah  bangsawan/dalem  kepangeranan  selain  memiliki  kelengkapan,
juga  mampu   menunjukkan   keaslian   wujud  fisiknya.   Mempertahankan   keaslian   rumah bangsawan  Jawa  merupakan  salah  satu  upaya  dalam  mempertahankan  identitas  Jawa. Namun, rumah mengalami perubahan akibat meningkatnya pengetahuan manusia dari yang sederhana   ketingkat   yang   lebih  kompleks.   Pengetahuan   ini  membantu   mengarahkan manusia   memahami   nilai,   konsepsi,   atau   paham   yang   membimbing   tindakan   dalam upayanya  mencari pengalaman  yang harmonis untuk mencapai  ketenangan,  ketentraman, dan  keseimbangan   batin.  Pandangan   mengenai  konsep  kemapanan   dalam  bertempat tinggal memberikan gambaran keberadaan dan status seseorang. Rumah hanya salah satu cara yang nyata untuk mewujudkan upaya menghuni suatu tempat, yang terdiri dari struktur bangunan fisik yang memuat satuan simbolis, sosial dan praktis (Santosa, 2000:3). Upaya tersebut  tidak  lepas  dari  budaya  yang  mengarahkan  masyarakat  Jawa  sebagai  manusia kaya akan nilai-nilai luhur dan membentuk falsafah hidup.
Keaslian arsitektur Jawa mengalami beberapa perubahan secara fisik menimbulkan pertanyaan  akan  pemaknaannya.  Perubahan  berlangsung  disebabkan  masuknya  budaya Eropa pada masa Pakubuwono X di berbagai bidang yang dikhawatirkan menuntun kearah perubahan inti dari budaya Jawa. Tulisan ini juga mencoba mengungkap makna yang terjadi pada   rumah   bangsawan   dilihat   dari   segi   falsafah   hidup   masyarakat   Jawa.   Rumah bangsawan  diangkat  dalam  penelitian  ini karena  diperkirakan  masih  memegang  keaslian karena rana terdekat dengan Keraton. Penelitian ini akan menguak makna yang terkandung dalam  inti rumah  bangsawan  Jawa,  yaitu  pendopo,  pringgitan  dan  dalem  ageng  dengan menggunakan metode kualitatif.

TINJAUAN PUSTAKA
Rumah sebagai lingkungan yang paling diakrabi manusia merupakan rana domestik yang sarat akan makna karena lingkup dari gagasan-gagasan  utama kebudayaan dibentuk. Pemaknaan  yang terjadi pada rumah menjadi suatu pola budaya yang berkesinambungan dibentuk oleh pengguna melalui interaksi dan aktivitas.   Interaksi sosial sebagai penyusun makna  dalam  pembentukan  bangunan  terdapat  tiga  level  hubungan,  antara  lain  secara reflektif antara seseorang dengan dirinya sendiri, antara   seseorang (atau sejumlah orang) dengan  orang  lain  di  masyarakat,  dan  antara  seseorang  (atau  sejumlah  orang)  dengan “Yang Lain” yang ditentukan dalam pengalaman  dengan Yang Maha (numinous) (Santosa,
2000:210). Level satu dan tiga lebih diorientasikan  ke dalam manusia, sedangkan yang ke dua berorientasi ke luar karena hubungannya antara sosial masyarakat.
Orientasi keluar dapat diekspresikan  dengan fisik bangunan maupun yang non fisik, misalnya  penggunaan  bahasa  yang  memperlihatkan  tingkatan  status.  Secara  fisik,  ruang depan mengemban  tugas mengindikasikan  status soaial pemilik rumah karena merupakan bagian   dari  rumah  secara   sosial  paling  rapi  dan  prestisius,   guna  menaikkan   status pemiliknya  di mata tamunya.  Orientasi  ke dalam adalah tempat  bertemu  diantara  diri kita sendiri atau dengan lingkungan terdekat kita. Rumah dalam bebas dari pengamatan publik, memiliki sedikit kesempatan untuk menunjukkan status sehingga penampilan fisik yang menegaskan dan susunan yang rapi kurang diperhatikan.

Rumah  yang  dikenal  masyarakat   turun  temurun  merupakan   hasil  kebudayaan. Manusia  memiliki  kemampuan   dalam  menginterpretasikan   kejadian  dan  aktivitas  yang dilakukan dalam setting hingga memperoleh  kesesuaian.  Kebudayaan  tidak semerta-merta terbentuk melainkan suatu proses dari nol hingga ada dan berkembang serta pengaruh mempengaruhi.  Dengan sistem yang kuat dan stabil, budaya tetap ada dan dipegang teguh oleh  masyarakatnya.  Rapoport  (2005)  berpendapat  bahwa  untuk  menggunakan  konsep budaya dilakukan  dengan dua cara. Pertama,  diasumsikan  bahwa budaya dan lingkungan bina adalah unit yang ekuvalen, namun budaya masih terlalu abstrak, sehingga pendekatan yang   digunakan   melalui   sosial-budaya.   Dalam   menghubungkan   antara   budaya   dan lingkungan  bina, Rapoport menentukan  komponen-komponen  secara spesifik dari ekspresi budaya agar lebih mudah dipahami. Komponen-komponen  tersebut antara lain pandangan

dunia (world views), tata nilai, norma, gaya hidup dan   sistem aktifitas (Rapoport,2005;94-
96).

Gambar.1 Budaya Kaitannya Dengan Lingkungan Bina
(sumber: Rapoport, 2005:98)

Lingkungan bina dijabarkan menjadi empat komponen pembentuk, yaitu organization of space, system setting dan made up fixed, semi fixed and non-fixed   features. Komponen made up fixed elements digunakan sebagai konteks pembacaan makna rumah bangsawan Jawa atas dasar budaya. Fixed elements diartikan sebagai elemen yang sudah terstruktur dan  menjadi  kesatuan  pembentuk  ruang,  seperti  lantai,  dinding,  dan  atap.  Perubahan elemen ini relatif dalam jangka waktu yang panjang, berbeda dengan semi fixed elements, seperti furniture/perabot  yang memiliki tingkat perubahan tidak terlalu lama. Elemen-elemen itulah yang merupakan ekspresi yang dapat diinterpretasikan sebagai makna. Pengungkapan  makna  juga  berkaitan  dengan  konsep  ruang,  kepercayaan  masyarakat, fungsi, aktivitas, pandangan hidup, tujuan komersial, dan lain-lain.
Tulisan  ini  akan  menitik  beratkan  pada  world  views  dalam  melihat  hubungannya
dengan lingkungan  binaan. World views diartikan sebagai pandangan manusia Jawa yang berkembang  dalam  wujud  falsafah.  Pola  pikir  berfilsafat  masyarakat  Jawa  tidak  sebatas sebagai pola pikir saja tapi juga diterapkan dalam dunia kehidupannya  yang mengamalkan ajaran-ajaan yang menjadi tuntunan bersikap oleh masyarakat hingga masuk ke dalam lingkungan bina/arsitektur. Dengan dasar teori Rapoport, mencoba menguak hubungan yang terkandung  pada rumah Jawa khususnnya  pendopo,  pringgitan  dan dalem  ageng dengan falsafah hidup manusia Jawa.

Falsafah  hidup  manusia  Jawa  berakar  pada filsafat  Timur  yang  diungkapkan  oleh Plato, bahwa pandangan hidup/ filsafat hidup yang tumbuh tanpa melalui penyelidikan benar dan tidaknya, tetapi hanya karena tumbuh melalui kecocokan rasa. Inilah yang membedakan pola   pikir   masyarakat   Jawa   (masyarakat   timur)   sangat   berbeda   dengan   pola   pikir masyarakat barat yang berakar pada pemikiran Ariestoteles. Jika di barat, berfilsafat berarti dikaitkan  dengan  mempelajari  ilmu  tetapi  di  Jawa  (masyarakat  timur)  berfilsafat  berarti mencari   kesempurnaan    hidup.   Seperti   yang   dikemukakan    oleh   Zoetmulder    dalam Herusatoto,  (1984:72)  bahwa,  orang  selalu  mencari  keterangan  tentang  arti  kehidupan manusia, asal-usulnya, tujuan akhirnya, hubungan dengan Tuhan dan dunia.

Nilai-nilai  kehidupan  dan hubungan  dengan  Tuhan  difokuskan  dalam  tiga falsafah, yaitu Sangkan  Paraning  Dumadi,  Manunggaling  Kawula  lan Gusti dan Memayu  hayuning bawana   (Endraswara,   2000).   Sangkan   Paraning   Dumadi   mengandung   artian   bahwa manusia Jawa harus berhati-hati dalam menjalani hakekat hidup dan diharapkan mengetahui betul dari dan akan kemana hidup kita nantinya. Manunggaling Kawula lan Gusti merupakan suatu perwujudan sikap manembah, menciptakan ketenangan batin dan lewat inilah akhirnya ditemukan sebuah keharmonisan antara manusia dengan Tuhan. Memayu hayuning bawana berarti watak dan perbuatan  yang senangtiasa  mewujudkan  dunia selamat,  sejahtera  dan bahagia.

OBJEK KAJIAN
Kota Surakarta  adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.  Surakarta berasal  dari  kata  Sala  adalah  jenis  pohon.  Kata  Sala  pada  perkembangannya  menjadi Salakarta  dan sekarang  lebih dikenal dengan Solo. Keraton  Surakarta  sebagaimana  yang dapat disaksikan sekarang ini tidaklah dibangun serentak pada 1744-1745, namun dibangun secara bertahap dengan mempertahankan  pola dasar tata ruang yang tetap sama dengan awalnya.   Pembangunan   dan   restorasi   secara   besar-besaran   terakhir   dilakukan   oleh Susuhunan Pakubuwono X (Sunan PB X) yang bertahta 1893-1939.
Adat  istiadat  Keraton  Kasunanan  Surakarta  melekat  pada  diri  para  bangsawan karena kedekatan  hubungan  keluarga  dengan  Sunan.  Dalam  suatu susunan  strata sosial dari kaum bangsawan, yakni komunitas yang sedikit-banyak telah terstratifikasi yang mengakibatkan munculnya berbagai perjuangan atas teritori. Dinamika perjuangan semacam ini tampak  paling  menonjol  pada  para  penghuni  di rumah  utama,  yakni  para  bangsawan yang  eksistensinya  sangat  bergantung  pada  kedekatan  dan  kemurahan  dari  Raja  yang sedang memerintah. Secara genealogis, pada garis keturunan seorang bangsawan, tiap tingkatan generasi memiliki kedekatan yang berjenjang terhadap garis trah penguasa. Pada kaitan  ini,  penurunan  satu  tingkat  generasi  akan  berpengaruh  pada  penurunan  derajat kedekatan   terhadap   garis   trah   tersebut.   Penurunan   status   dapat   diperbaiki   dengan merekatkan  kembali  dengan  pertautannya  dengan  keluarga  yang  sedang  berkuasa.  Itu bukanlah salah satu jalan, bisa juga dengan kedekatan baik resmi ataupun personal dengan penguasa (Santosa, 2000). Pertautan yang dekat dengan penguasa khususnya yang berhubungan kerabat akan mendiami dalem.
Rumah bangsawan atau lazim disebut dalem kepangeranan, lokasinya di lingkungan kraton. di dalam dan luar benteng, merupakan  salah satu dari berbagai tingkatan terbesar dan  terlengkap  dalam  arsitektur  rumah  tradisional  Jawa.  Rumah-rumah  bangsawan ini mudah  dikenali  karena  struktur,  bentuk  atap,  bangunan  dan  luas  lahan  berbeda  dengan rumah penduduk  sekitar,  dikelilingi  dinding  tembok  tinggi kira-kira  tiga hingga  lima meter. Dalem  dapat  dikategorikan  dalam  rumah  joglo  yang  paling  besar  dan  lengkap,  dengan bagian-bagiannya.  Joglo dapat diartikan sebagai suatu bentuk atau sistem konstruksi bagian dari kompleks rumah. Joglo juga dapat diartikan sebagai keseluruhan atau kompleks rumah, termasuk dinding keliling, halaman, regol dan semua bagian di dalamnya. Regol merupakan akses masuk ke dalam area rumah bangsawan berupa pintu besar. Rumah bangsawan juga dapat  disebut  community  house  terdiri  dari beberapa  bagian,  yaitu   pendopo,  pringgitan, emperan, dalem ageng, senthong, gandok, dapur, kamar mandi.
Dalam suatu rumah lengkap bangsawan memiliki perbedaan dengan rumah lengkap yang dipergunakan  oleh masyarakat  umum  yang memiliki  tingkatan  ekonomi  yang tinggi. Rumah bangsawan yang dihuni oleh keluarga keraton memiliki batasan atau pakem-pakem yang harus ada dalam  suatu rumah bangsawan  Jawa. Ini sangat berbeda  dengan rumah lengkap yang dibangun  masyarakat  umum yang bisa diolah sesuai dengan ekspresi  yang ditampilkan  pemilik.  Mempertahankan  kebudayaan  yang  telah  diturunkan  menjadi  acuan dalam  mempertahankan   keaslian  gubahan  bentuk  dan  detail  rumah  bangsawan  Jawa. Keaslian  yang dipertahankan  inilah yang menjadikan  alasan mendasar dalam mempelajari rumah  Jawa  dengan  mengkhususkan  pada  rumah  bangsawan  Jawa  di  sekitar  Keraton Kasunanan Surakarta.

PEMBAHASAN
Rumah bangsawan merupakan perwujudan dari beberapa aspek yang ditautkan dan dipersatukan.  Dalam   membahas tentang pembatas pada rumah Jawa dapat menyinggung aspek  lain  yang  membentuknya.  “Dalam  hubungan  antara  susunan  ruang  dan  tindakan ragawi, terdapat dua cara untuk menyatakan setting ruang. Pertama, secara positif dengan mengartikulasi pusatnya dan yang kedua, secara negatif dengan mendefinisikan batasannya” (Santosa, 2000:40). Berkait dengan tindakan ragawi dalam suatu ruang, suatu pusat cenderung menjadi orientasi pengguna, sedangkan pembatas ruang akan mengisyaratkan partisipannya; siapa saja yang boleh masuk dan siapa saja yang tidak boleh memasuki ruangan.
Manusia  Jawa percaya  pada kekuatan  kosmos yang berasal  dari lingkungan  alam
sehingga  dipanadang  perlu  untuk  membuat  batas  yang  tegas  antara  ruang  luar  dengan ruang dalam.   Pembatasan  dalam  suatu rumah mutlak  ditentukan  dan dihadirkan  bahkan pada  Sasono  Mulyo.  Batasan-batasan   yang  digunakan  terdiri  dari  fixed  element  yang umumnya terdiri dinding, lantai, atap.

Pendopo
Bagian atas pendopo disangga oleh jajaran kolom/soko yang tersusun terpusat untuk menahan beban atap yang tersusun tiga tingkat digolongkan sebagai atap Joglo. Bentukan Joglo hanya digunakan oleh orang yang memiliki status sosial tinggi, yaitu bangsawan dan Raja. Jenis joglo digunakan juga berdasarkan luasan yang ingin dinaungi. Pendopo memiliki bentuk persegi yang tidak akan mampu ternaungi dengan atap limasan yang lebih mengarah ke bentuk persegi panjang.
Gambar 2. Tiga Tingkatan Atap Joglo

Terjadi  sumbu  horizontal  dan vertikal  dalam  skala  yang lebih kecil pada pendopo. Rangka   ceiling/langit-langit   yang   memusatkan   pada   tumpang   sari   menambah   kesan sentripetal yang terjadi dalam  pendopo yang menunjukkan kesakralan tumpang sari dengan adanya  pusat  vertikal  seperti  yang diungkapkan  Hidayatun  (1999).  Pusatnya  pada empat soko utama/soko guru tepat ditengah ruangan yang menguatkan kevertikalitasan ruang. Tumpang   sari  adalah  balok-balok   pengikat   soko  guru  yang  tersusun   seperti  piramid berundak terbalik, mengikat puncak empat soko utama serta menghiasi ruang di dalamnya. Soko guru dapat diungkapkan  sebagai  ekspresi  keabsolutan  dari keberadaan  pribadi  dari tuan rumah  ditengah  lingkungan  masyarakat  dalam  suatu perhelatan  sosial.  Seperti  yang diungkapkan   oleh  Santosa   (2000:27)   bahwa   Susunan   sentripetal   tampak   pada  balai pertemuan di depan yang merupakan satu-satunya  ruang lapang menerus di depan rumah yang memiliki empat kolom tinggi untuk menandai pusatnya. Empat kolom tinggi/ soko guru merupakan simbol akan adanya suatu yang ditinggikan dan diagungkan, yaitu Tuhan. Dalam menjalankan  segala aktivitas  sehari-harinya  baik formal maupun  non formal tidak terlepas dari Tuhan, termasuk yang berlangsung di pendopo.

Pringgitan

Gambar 3. Keterbukaan Pendopo yang dapat dilalui dari ketiga sisinya

Keterbukaan  ruang/tanpa  dindiing  secara  umum  hampir  tidak  tampak  dengan jelas, kecuali pada rumah kelompok bangsawan yang memiliki unit pendopo dan pringgitan yang  jelas  terbuka  (tidak  berdinding).  Konsep  keterbukaan  pendopo  tidak  sepenuhnya terbuka dalam arti sebenarnya,  melainkan memberikan  suatu efek psikologis.  Orang Jawa dikenal dengan tata karma yang tinggi yang menyimpan  penghormatan  dan perilaku yang sopan. Orang diajak merasakan suatu efek psikologis dengan melihat pendopo yang terbuka dan terbentang luas tanpa penghalang. Ini membawa manusia untuk berhitung/menimbang- nimbang  akan suatu kepantasan  untuk berada di tengah tanpa adanya pemilik rumah. Ini termanifestasikan  dalam suatu sikap seperti sungkan untuk bertingkah seenaknya di dalam pendopo.

Luas dan terbuka menjadikan orang lain yang ingin memasuki dengan melewati area tengah   menjadi   terhalang   oleh   efek   psikologis.    Keterbukaan    endopo   memberikan pengalaman yang berbeda yang dirasakan seakan-akan ada sesuatu yang menuntun untuk bersiakap sebaliknya. Memunculkan sikap canggung, sehingga kebebasan yang terjadi sangatlah mengikat. Kebebasan yang semu ini menjadikan seseorang terdorong untuk tidak bersikap sombong. Ini berimbas pada rasa canggung untuk melangkah ke tengah ruangan yang terasa monumental  diarea tengahnya,  sehingga kenyakan  akan berjalan mengelilingi ruang menuju ke arah bagaian belakang bangunan. Maka, keterbukaan ini mengalami suatu penyempitan perilaku.

Peninggian lantai di pendopo juga tergantung pada strata sosial pemilik rumah. Bangsawan  yang memiliki starata sosial yang tinggi biasanya menaikkan  lantainya  hingga tiga tingkat. Dari lantai pendopo inilah yang juga membedakan dengan lantai kuncung yang dibuat  rata dengan  tanah,  tapi menuju  ke area dalem  ageng  akan terjadi  kenaikan  pula. Setiap   kenaikan   dari   tiap   ruang   menunjukkan    adanya   hirarki   yang   mengikutinya. Memberikan kesan kesucian bagi ruang yang berada di puncak hirarki. Selain itu, ketinggian tertentu  dibuat  karena  mengandung  suatu  maksud  untuk  memudahkan  menerima  tamu, yakni cara duduk (bersila di lantai) (Hidayatun, 1994).

Dari ketiga pembatas ruang, yaitu atap/ceiling, dinding, dan lantai menuntun ke arah maknanya sendiri-sendiri. Atap sebagai pernanungan merupakan simbol dari Tuhan, dinding dimaknai keterbukaan dalam arti yang menyempit sedangkan lantai yang ditinggikan menyimbolkan status sosialnya dan juga cara penerimaan mencerminkan kerukunan dengan duduk di lantai. Ketiganya ini berhubungan dengan hubungan sosial pemiliknya dengan pengungkapan  yang simbolik  dari bentuk dan juga memberikan  isyarat psikologis  tertentu agar tidak seenaknya dalam bersikap.

Pendopo  dalam  komponen  rumah  bangsawan  Jawa  yang  mewadahi  aktifitas publik yang dilakukan oleh pemilik rumah. Sifat pendopo dalam arti pembatas ruang hanya dapat  memenuhi  satu falsafah  hidup  yang  diangkat  pada  studi kali ini diungkapkan  oleh Endraswara,  yaitu falsafah Manunggaling  Kawulo lan Gusti. Secara filsafati terekspresikan dari   wujud   atap   brujung   dari   pendopo   yang   mepresentasikan   adanya   suatu   yang diagungkan, yaitu Tuhan.

Pringgitan
Tantangan  alam ditanggapi dengan menutup sebagian tempat tinggal dari udara bebas dan terbuka, kecuali di bagian yang dipergunakan untuk  menerima tamu atau bagian publik  yang  menyandang  konsep  terbuka  sepebuhnya,  yaitu  pendopo.  Timbul  anggapan bahwa kekuatan alam akan mengintai saat manusia dalam keadaan tidak sadar atau tertidur, hingga berada di dalam rumah memberikan  jaminan terbebas  dari pengaruh  mala petaka (kekuatan   alam)   yang   merugikan.   Bukaan   yang  menghubungkan   dengan   ruang   luar direduksi, sehingga ruang dalam tidak berhubungan langsung dengan ruang luar. Maka, dubuatlah suatu ruang transisi yang disebut pringgitan. Area penghubung antara dalem dan pendopo ini terjadi komunikasi di antara ke dua ruang. Tidak sekedar sebagai penghubung tapi juga sebagai penyeimbang antara suatu yang umum dan yang sakral.

Dari   segi   pemabatas   ruang   sangat   berbeda   dengan   pendopo,   salah   satu
alasannya  juga  dikarenakan  kapasitas  dan fungsinya.  Pringgitan  ini lebih  sederhana  dari segi bentuknya  baik atap dan juga soko. Pringgitan  biasanya  menggunkan  atap limasan. Limasan dipilih karena bentuk denah pringgitan yang membentuk persegi panjang, sehingga atap limasanlah yang sesuai untuk menaungi pringgitan.

Atap jenis limasan terkesan  sederhana  dan umum. Ini biasanya  yang dipakai  oleh rakyat kebanyakan.  Limasan  dari segi konstruksi  dan bahan relative  lebih sederhana  dan menggunkan   sedikit   bahan.   Pada   keseluruhan   komponen   rumah   bangsawan   Jawa, pringgitan  bukanlah suatu area yang memiliki kesakralan  melainkan  pendukung  bangunan utamanya, yaitu pendopo dan dalem ageng. Tidak seperti Joglo yang memiliki makna yang dalam  memperlihatkan  kehidupan  manusia,  limasan  tidak  memiliki  arti yang  spesifik.  Hal tersebut  seperti  yang  diungkapkan  oleh Hidayatun  (1999)  bahwa,  bentuk  limasan  secara makna filosofis dapat dikatakan hampir tidak ada.

Pringgitan  sebagai  ruang  transisi  dan  juga  mengakomodasi  kegiatan  yang  masih bersifat terbuka seperti menerima tamu. Kegiatan tersebut sangat dekat kaitannya ke arah ke luar, yaitu pendopo  sehingga  dapat  dikatakan  area pringgitan  ini lebih berorientasi  ke pendopo dari pada dalem ageng. Namun area pringgitan ini pun tidak dapat dikatakan untuk umum  tapi lebih tepatnya  kalangan  umum  yang terbatas  dalam  artian diterima  oleh sang pemilik rumah.

Pemabatas ruang lainnya adalah lantai. Lantai area pringgitan ini ada dua jenis, yaitu yang menyambung  langsung dengan pendopo dan ada pula yang terpisah karena adanya longkangan.  Pada dasarnya  adalah sama, namun  yang membedakan  hanya penempatan pemberhentian kereta kuda /longkangan.
Gambar 4. Longkangan di Mangkunegaran 
 Gambar 5. Kuncung di Sasono Mulyo

Secara keseluruhan pringgitan merupakan area transisi untuk menuju ke area dalem ageng.
Pembatas-pembatas   ini  mengarah   pada   fungsional   pringgitan   yang   berfungsi sebagai  penerimaan  tamu  delam  jumlah  terbatas  dan  juga  pagelaran  wayang.  Dengan bentukan  yang  dimiliki  pringgitan  tidak  mengarah  pada  pemaknaan  yang  filosofis  seperti yang  diungkapkan  oleh  Hidayatun  bahwa  bentuk  limasan  secara  makna  filosofis  dapat dikatakan hampir tidak ada. Sedangkan bentukan lainnya seperti dinding dan lantai sebagai bentukan  fungsional  semata.  Sifat  pringgitan  dalam  arti  pembatas  ruang  belum  dapat memenuhi falsafah hidup yang diangkat pada studi kali ini, yaitu Sangkan Paraning Dumadi, Manunggaling Kawula lan Gusti dan Memayu hayuning bawana.

Dalem Ageng
Dalem ageng memiliki keserupaan dengan pendopo, tetapi yang membedakan cukup jauh adalah penggunaan dinding mengelilingi dalem ageng. Pada atapnya pun menggunakan  joglo  namun  bentukknya  lebih  sederhana  karena  pada  area  ini  bukanlah tempat  bagi  pemilik  rumah  untuk  menunjukkan   prestise  tapi  mengarah  pada  aktivitas pribadinya.   Menggunakan   atap   joglo   sudah   barang   tentu   memiliki   soko   guru   yang menopangnya.  Pada prinsipnya  soko guru yang   berada di pendopo  dan di dalem  ageng adalah sama.

Kesamaan  pada pendopo  dan dalem  ageng, keduanya  memiliki kesamaan  bentuk dan  berlanjut  pada  cosmos.  Pendopo  merepresentasikan   hubungan  sosial  dan  secara terbuka terhadap sekelilingnya. Sedangakan Dalem merepresentasikan kekuatan langit yang secara  langsung  menunjukkan  pusat  dan  berhubungan  langsung  dengan  vertikalisasi  ke area  tertinggi.   Pemusatan   keduanya   memperlihatkan   kekuatan   yang  lebih  besar  dan menguasai segalanya, yaitu Tuhan.
Pembatas ruang berupa dinding pada dalem ageng tidak sama dengan pendopo, walaupun struktur atapnya tidak jauh berbeda. Dinding masif yang melingkupi dalem ageng menimbulkan   sifat  privasi  dan  menunjukkan   ada  yang  ingin  diliindungi   di  dalamnya. Perempuan yang tinggal di dalamnya dan melakukan tugas-tugas rumah tangga dan benda- benda berharga atau pusaka menjadi yang dilindungi oleh kemasifan. Di dalam dalem ageng pun terdapat penyekatan ruang, sehingga membentuk sentong tengah, sentong kiwo/kiri dan sentong tengen/kanan.  Sentong kiwo berfungsi sebagai tempat tidur anak, sentong kanan sebagai  tempat  tidur  orang  tua, dan sentong  tengah  sebagai  pusat/as  kesakralan  rumah Jawa yang dipergunakan  hanya untuk pengantin  baru dan juga menyimpan  benda-benda berharga.
Gambar 6. Kemasifan Dinding yang Melindungi yang Ada di Dalamnya

Secara fungsional, dalem ageng memiliki makna proteksi dengan adanya kemasifan dinding yang menyelubunginya  dan faktor penjagaan atas segala sesuatu yang berharga di dalam rumah. Kemasifan  dinding yang diberi bukaan secukupnya  sebagai penghawaan  di siang  harinya,  namun  lingkup  kegelapan  masih  terasa  karena  cahaya  matahari  tidak langsung  masuk   melainkan  berupa  pantulan.  Keadaan  ini tetap  dapat  memberikan  efek privasi  yang  sangat  diperlukan  dalam  dalem  ageng.  Dalem  ageng  merupakan  tempat keluarga inti melakukan kegiatan yang tidak diketahui oleh orang luar seperti beristirahat dan juga ritual. Ritual atau meditasi  inilah yang utama dan menjadi  pemusatan  aktivitas  pada rumah. Pembatasan   dalem ageng ini untuk membatasi akses dan menjadikannya  sebagai area  privat,  namun  lebih  dalam  lagi  dilaksudkan  untuk  menguatkan  karakter  protektif. Protektif  terhadap  segala  yang  ada  di  dalamnya  baik  itu  benda  maupun  yang  tinggal didalamnya.

Dari area pendopo,  pringgitan  dan dalem ageng terjadi penambahan  dinding  yang mengakibatkan reduksi cahaya yang berangsur melemah hingga dalem ageng. Pada dalem ageng lingkup kegelapan masih dapat dirasakan walaupun pada siang harinya sehingga memberikan kesan misteri. Ini sama seperti yang disebutkan Tjahjono bahwa reduksi cahaya ini menimbulkan kesan sakral dan misteri. Pada area pendopo yang tanpa adanya dinding, cahaya yang masuk sangatlah kuat dan terang. Intensitas cahaya lebih sedikit karena tiga sisinya tertutup dinding, yang terbuka hanya sisi yang berhadapan dengan pendopo. Dalem ageng yang dilingkupi dinding massif, tidak mendapatkan cahaya sehingga ruangan menjadi gelap. Dari sini ditemukan suatu tingkatan intensitas cahaya yang juga berhubungan dengan hirarki  ketiga  ruang  inti  serta  kesakralannya.   Bagian  belakang  rumah  dikonstruksikan sebagai ranah yang terjaga.

Gambar 7. Reduksi cahaya pencipta misteri di dalem ageng
(sumber: Gunawan Tjahjono, 1989:128)

Lantainya  tidak  berbeda  dengan  pendopo  hanya  saja  ada  yang  menaikkan  level lantainya  pada  area sebelum  soko guru hingga  sentong.  Kali ini pun, hirarki  pada ruang digunakan  sebagai  penanda  adanya  sesuatu  yang  ditinggikan.  Ini  dimaksudkan   untuk menjaga kesakralan  area ini. Menuju ke area yang lebih suci dan disakralkan,  yaitu pada area  sentong  tengah  yang merupakan  pusat  dari rumah  Jawa.  Kesakralan  dan kesucian area  ini  benar-benar   dijaga  hingga  diperlukan   ijin  untuk  dapat  memasukinya   bahkan keluarga dekat sekalipun.  Tingkat kesakralan  pada sentong tengah ini aadalah kesakralan yang tertinggi di rumah karena tempat individu menjalin hubungan dengan Tuhan.
Pembatas  ruang  di  sini  tidak  hanya  sekedar  membatasi  untuk  memberikan  area
privat tapi juga terjadi penyimbolan.  Sifat dalem ageng dalam  arti pembatas  ruang hanya memenuhi   falsafah   hidup   pada   point   Manunggaling   Kawulo   Lan   Gusti.   Falsafah   ini merupakan  suatu  hubungan  individu  secara  sadar,  mendekat,  menyatu  dan  manunggal dengan  Tuhan.  Keutamaan  falsafah  ini termanifestasikan pada  atap  dan  dinding  dalem ageng.
Dinding yang dilingkupi  kemasifan memberikan  pengalaman  cahaya yang berbeda. Dari terang menuju ke kegelapan sepanjang sumbu tersebut membangkitkan rasa saral dan misteri (Tjahjono, 1989:126). Kesakralan inilah yang memberikan kesan kuat terhadapa ritual yang dijalankan pada sentong tengah. Keadaan tersebut juga berpengaruh pada atap. Mengadakan ritual/meditasi pada pendopo ageng dapat terjadi di sentong tengah, di bawah tumpang sari bahkan menanam dirinya di tanah tanpa makan dan minum. Ritual di bawah tumpang   sari   menunjukkan    hubungan vertikal   yang terjadi   dengan Tuhan. Jadi, Manunggaling Kawulo Lan Gusti  sangat kuat pada dalem ageng.

KESIMPULAN
Falsafah hidup manusia Jawa membentuk perilaku dan aktivitas yang terjadi di rumah bangsawan  Jawa.  Dibantu  dengan  pembatasan  ruang,  aktivitas  terklaster  dalam  ruang- ruang tersendiri dan terbagi dalam dua rana besar, yaitu rana duniawi dan spiritual. Didasari oleh pemikiran filsafat Timur yang bertolak dari pemikiran tentang arti kehidupan dan hubungannya  dengan Tuhan, maka hal tersebut termanifestasikan  dengan dalam bentukan Joglo yang ada pada pendop dan dalem ageng.

Dalem ageng merupakan area privat yang tidak sembarangan orang dapat masuk ke dalamnya  termasuk  juga area sakral pada waktu tertentu dan melingkupi  sentong tengah. Falsafah Manunggaling Kawula Gusti meresap dalam pada area ini. Dengan pendekatan diri pada Tuhan didukung dengan bentukan arsitekturnya  yang memberikan  kesan misteri dan sakral. Kemasifan, peninggian lantai serta atap Joglo yang dipergunakan merupakan elemen yang menunjukkan hirarki kesakralan. Sebenarnya keseluruhan rumah dari pendopo hingga dalem   ageng   semakin   meninggi,   ini  menunjukkan   adanya   suatu   hirarki   yang   terus dipertahankan.    Falsafah   hidup   manusia   Jawa yang lebih bersifat   pribadi/individu, Manunggaling Kawula lan Gusti tercermin disini. Keprivatan ini membuat pemilik rumah lebih dapat  mendekatkan  diri  pada  Tuhan,  berfikir  dan  juga  belajar  akan  hidup  dan  setelah kehidupan. Maka dapat dimengerti mengapa dalam agenglah yang menjadi arena hubungan dengan konsep tertinggi yang dimiliki oleh filosofi Timur.

Dari  ketiga  ruang,  keutamaan  makna  yang  berhubungan  dengan  falsafah  hidup manusia Jawa terjalin kuat pada area yang memiliki nilai kesakralan  dan ditinggikan.  Nilai kesakralan tidak  sama  sekali  dapat  terjamah  oleh  budaya  luar.  Kekuatan  inilah  yang menjadikan identitas budaya Jawa masih terjaga dengan baik. Walaupun terjadi gempuran budaya Eropa, tapi tidak mengubah gubahan bentuk bahkan keaslian nilai-nilai rumah bangsawan. Bentuk yang masih terus dipertahankan merupakan bukti teraga adanya usaha mempertahankan  budaya yang menjadi dasar identitas. Kenyataan ini sesuai dengan yang dikatakan  Suseno  (1988:16)  bahwa kebudayaan  Jawa mempunyai  kemampuan  yang luar biasa dalam mempertahankan keaslian budayanya.


DAFTAR PUSTAKA

  • Herusatoto, Budiono. 1984. Simbolisme dalam Budaya Jawa. PT. Hanindita. Yogyakarta. Hidayatun, Maria I. 1994, “Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Kotagede: Dampaknya Terhadap Arsitektur Rumah Tinggalnya”, Tesis S-2 Pascasarjana UI. Program
  • Studi Antropologi.
  • Hidayatun, Maria I., 1999. Pendopo Dalam Era Modernisasi: Bentuk, Fungsi dan Makna Pendopo pada Arsitektur Tradisional Jawa dalam Perubahan Kebudayaan. Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 27, No. 1, Juli 1999 : 37 – 47. Universitas Kristen Petra.
  • Rapoport . 2005. Culture Architecture, and Desigm. Lock Science Publishing Company, Inc.
  • Chicago. USA.
  • Santosa, Revianto Budi. 2000. Omah: Membaca Makna Rumah Jawa. Yayasan Bentang
  • Budaya. Yogyakarta.
  • Suseno, Franz Magnis, 1988, “Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijaksanaan
  • Hidup Orang Jawa”, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  • Tjahjono, Gunawan. 1989. Dissertation: Cosmos, Center, and Duality in Javanese Architectureal Tradition: The Symbolic Dimention of house Shapes in Kota Gede and Surroundings. University of California.

0 komentar: