This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by RM.KOESEN POERBODININGRAT - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by RM.KOESEN POERBODININGRAT - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by RM.KOESEN POERBODININGRAT - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by RM.KOESEN POERBODININGRAT - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by RM.KOESEN POERBODININGRAT - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 18 April 2012

Tradisi Ritual Membuat dan Minum Jamu

Jamu  

Pada waktu penjajahan Belanda ada beberapa jenis tumbuh-tumbuhan obat memang sudah dilakukan penelitian-penelitian dan hasilnyapun tidak mengecewakan. Diantaranya memang sudah ada yang mempunyai nilai terapeotik yang menyakinkan misalnya : kumis kucing, temulawak, kunyit, babakan pulai dan lain-lainnya. Dengan sendirinya diutamakan tumbuh-tumbuhan obat yang mempunyai segi-segi komersil yang baik.  
Pada jaman pendudukan Jepang dan pada waktu revolusi fisik, obat-obatan moderend sudah sukar didapat, dan kalaupun ada harganya sudah tidak terjangkau oleh daya beli rakyat jelata. Terdorong rasa turut bertanggung jawab dan hasrat ingin membantu rakyat dengan obet yang mudah dan murah didapat, beberapa orang dokter telah mengambil prakarsa mencoba obat-obat asli ini langsung secara klinis terhadap kasiatnya yang diperkirakan. Dari hasilhasil percobaan ini antara lain terbitla buku “ Formularium medicamentorum Soloensis”
yaitu suatu buku yang memuat ramuan dari obat-obat asli yang sangat bermanfaat bagi pengobatan penyakit-penyakit yang banyak diderita rtakyat dewasa itu. Setelah diperoleh kemerdekaan, dan obat-obat moderen membanjiri pasaran. Percobaan klinis tidak dilakukan lai terhadap obat-obat asli. Hal ini sangat disayangkan mengingat potensi-potensi yanh masih tersembunyi didalam Jamu-Jamu kita. Padahal cara-cara yang telah dikerjakan oleh dokter-dokter kita, sampai sekarang nasis duilakukan oleh dokter-dokter dinegara Tetangga kita seperti : India, RRC, terhadap obat-obat asli dari negaranya masig –masing dapam rangka penggalian sumber-sumber alam untuk keperluan farmasi. Berbeda dengan di Indonesia., dikedua negara tetangga tersebut ilmu pengi=obatan tradisionil telah pula disesuaikan dengan perubahan jaman. Marilah kita tinjau sejenak sejarah perkembangan ilmu pengobatan tradisional tersebut di negara tersebut:
Negeri India
Dalam peninggalan-peninggalan tertua yang ditemukan adalah kitab “ RIGVEDHA” diperkirakan ditulis sekitar 3000 tahun sebelum masehi. Selain menguraikan ilmu pengobatan dari jaman iyu, juga mencantumkan ssejumlah bahan yang digunakan sebagai obat, menyusul kemudian kitab “Ayurvedha” berasal kira-kira dari tahun 1500 sebelum masehi dan yang terdiri dari beberapa jilid. Kitab ini secara terperinci juga menguraikan suatu sistem ikmu pengobatan yang dikenal dengan sistem Ayurvedha yang antara lain meguraikan tentang teori “Tridosha”. Teori ini terdiri dari Vayu, pitta dan kapha.
Vayu atau angin mewakili susunan syaraf pusat. Pitta atau empedu, seluruh metabolisme didalam tubuh. Kapha atau lendir mewakili pengaturan suhu tubuh oleh cairan-cairan tubuh. Kapha atau lendir mewakili pengaturan suhu tubuh. Kitab inipun meuat kurang lebih 1500 jenis bahan obat yang sebagian besar berasal dari tumbuh-tumbuhan selebihnya dari hewan dan mineral, lengkap dengan pemiaraannya, pengolahannya, dan penggunaannya. Sistem pengobatan Ayurvedha inilah yang kemudian berkembang sedemikian rupa sehingga pemerintah India mengaggap perlu mendirikan perguruan tinggi khusus untuk mempelajari sistem ilmu pengobatan ini.
Dengan masuknya bagsa-bangsa lain ke India yang pada umumny merekapun membawa sistem ilmu pengobatan dari negara masing masing-masing, maka selain dari sistem pengobatan  Ayurvedha di India, tedapat pula antara lain ilmu pengobatan Yunani dan Tibbi. Akhirnya sedikit banyak ilmu-ilmu pengobatan ini bercampur dan menjadi ilmu pengobatan tradisionil India dewasa ini. Kitab-kitab yang kemudian menyusul adalah kitab “ Sushruta Samhita “ kira-kira berasal dari tahun 1000 sebelum masehi dan kitab “ Charaka Samhita “ kira-kira berasal dari tahun 350. Kitab terakhir ini memuat kira-kira 2000 jenis bahan obat yang sebagian besar lagi, terdiri atas tumbuh-tumbuhan dan sebagian kecil terdiri dari hewan dan mineral, lengkap dengan penanamannya, pengumpulan bagian-bagian yang dipakai, khasiatnya beserta ramuan-ramuan yang dibuat dari materia medica itu.
Penyelidikan-penyelidikan secara moderm dan sistematis baru dimulia pada tahun 1928. Salah seorang pionir dalam bidang adalah Prof. Dr. Sir Ramnath Chopra, pada waktu itu profesor dalam farmakologi dari School for tropical medicine di Calcutta.
Negeri Cina
Peninggalan yang tertua adalah kitab “ Pen Tsao “ dari 3500 tahun sebelum masehi. Kitab ini adalah hasil karya seorang Kaisar bernama Shen Nung yang menulis ilmu pengobatan dari zaman itu serta penggunaan dari 350 jenis tumbuh-tumbuhan sebagai obat. Selanjutnya ilmu pengobatan kuno ini dari zaman ke zaman dan dari dinasti ke dinasti terus berkembang serta menghasilkan pula tabib-tabib yang kenamaan.
Pada zaman dinasti han 350 tahun sebelum masehi, kitab Pen Tsao kaisar Shen Nung mngalami revisi besar-besaran serta disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengobatan dan ditambah dengan hasil-hasil penelitian dan penyelidikan-penyelidikan yang baru. Kitab ini disebut Shen Nung Materia Medica. Ilmu pengobatan ini semakin berkembang sehingga menelorkan hasil-hasil karya seperti :
Tang Materia Medica,     Shu Materia Medica ,       Kai Pao Materia
Chia Yu Materia   dan   The Classified Materia Madica.
Kitab yang terakhir ini ditulus oleh Tang Shen Wei seorang tabib ternama dari dinasti Sung, kira-kira pada tahun 1200.
Dari 350 jenis tumbuh-tumbuh obat yang tertera dalam Pen Tsao dari kaisar Shen Nung sekarang telah menjadi 1000 jenis bahan obat lengkap dengan pemeriannya, penanamannya, pengumpulan khasiatnya, ramuan, dan penggunaannya. Setelah dinasti Sung tidak ada lagi catatan-catatan tentang perkembangan ilmu pengobatan tradisional.
Baru baru abad ke 16 yaitu sewaktu dinasti Ming tampil sebagai seorang tabib dan ahli farmasi bernama Lie Shih Chen yang banyak jasanya dalam membantu berkembangnya ilmu pengobatan tradisionil dengan car-cara penyelidikannya yang orisinil, ia diberi julukan “ The Great Pharmocologist Of Ancient China “ semua pengalaman dari hasil penyelidikannya dibukukan dalam sebuah kitab yang berjudul “ Pen Tsao Kang Mu “ atau “ The Compendium of Materia Madica “
Kitab ini merupakan suatu “ masterpiece “ dan sampai sekarang masih merupakan bahan pelajaran mahasiswa kedokteran kuno maupun modern dan menjadi pegangan bagi sarjana-sarjana yang melekukan penelitia-penelitian ilmiah dari obat-obat asli Cina. Pen Tsao Kang Mu memuat 1892 jenis bahan obat lengkap dengan cara pemiaraan, penanaman, pengumpulan, penelitian, khasiat ramuannya, penggunaannya dll. Setelah dinasti Ming ilmu pengobatan tradisionil tidak ada yang mnegmbangkan lagi. Ini sebagian disebabkan oleh karena masuknya ilmu pengobatan barat ke negeri Cina.
Dewasa ini negeri Cina sedang giat melakukan penelitian-penelitian ilmiah secara sistematis dan itensif terhadap obat-obat asli ini. Di tiap ibu kota propinsi terdapat laboratoria dan lembaga penelitian yang lengkap dengan alat-alatnya yang modern.
Kekurangan kita.  

Setelah kita melihat perkembangan ilmu pengobatan tradisinal di dua negara tetangga tersebut, nyatalah bahwa kekurangan kita bahwa sejak semula di Indonesia ilmu ini tidak ada yang membukukan hanya diturunkan secara lisan dari orang tua ke anak. Baru pada jaman kolonial mulai ada orang –orang mencatat antara oleh Jacobus Bontius 1627 dengan hasil karyanya “ histiria Naturalist et Medica Indiae “ yang memuat 60 buah lukisan tumbuh-tumbuhan obat Indonesia serta pemerian dan penggunaannya. Georgius Everhardus Rhumphius ( 1628 – 1702 ) yang menetap di Maluku dan mengadakan penyelidikan terhadap flora dan fauna kepulauan ini. Hasil karyanya adalah “ Amboinisch Kruidboek “ dan Herbarium Amboinense.
Kemudian berturut-turut banyak lagi penulis-penulis tentang obat-obat asli indonesia, terlalu banyak untuk diuraikan satu persatu.
Penelitian secara alamiah
Penelitian secara alamiah baru dilakukan pada akhir abad ke s19, antara lain oleh Gresshoff, Vordermann, Boorsman dan lain-lain. Yang menghasilkan buku-buku anatar lain “ Onderzoek Naar De Planten stoffen Van Ned – Indie :” 1890 “ Javaanse Geneesmiddelen “ 1894 “ Aanteekening Over Oostersche Geneesmiddelleer op Java “ 1913. Sebagimana kita lihat inventarisasi dari obat-obat asli dan penyelidikan permulaannya sudah dilakukan. Usaha ini harus diteruskan, karena merupakan titik tolak yang penting dalam penggalian sumber-sumber alam untuk keperluan farmasi.
Follow Up
Sebagai follow upnya dari hasil inventarisasi harus dilakukan checking dab screening secara sistematis terhadap hasil karya para penulis dan penyelidik terdahulu, disamping tentunya mencari potensi-potensi baru dari sumber-sumber alam, bukan hanya dari Jawa tetapi juga dari daerah-daerah luar Jawa, misalnya tabat barito dan pasak bumi yang dewasa ini sedang populer dan berasal dari Kalimantan, belum pernah diadakan secara ilmiah. Penggunaannya sama halnya dengan sebagian besar dari jamu-jamu kita, masih berdasarkan impiri.
Kami yakin masih banyak lagi potensi-potensi yang tersembunyi diantara obat-obat asli kita. Jamu masih tetap merupakan salah satu mata rantai penting dalam membantu meningkatkan kesehatan rakyat dan, perlu sekali diadakan penelitian secara alamiah yang sistematis dan terkoordinir sehingga manfaat dari jamu akan lebih dirasakan oleh rakyat. Untuk mengadakan penelitian-penelitian ini kerjasama yang baik antara industri-industri jamu dan fakultas-fakultas farmasi, kedokteran dan lain-lain adalah suatu keharusan sehingga tercapailah cita-cita kita untuk :
Menyelidiki obat-obat asli kita dengan tujuan menemukan obat baru dan dapat digunakan dalam ilmu pengobatan modern. Indonesia berswasembada dalam bahan-bahan obat menggunakan sumber-sumber alamnya sendiri. Mengusahakan agar obat-obat ini murah dan mudah didapat oleh rakyat Indonesia.

Tradisi Ritual Menegakkan Adat Istiadat Jawa

ADAT ISTIADAT JAWA
(manusia Jawa sejak dalam kandungan sampai wafat)












Wus pinasti wanito puniki,Dadi wadah wijining tumitah,Den aji aji wajibe
Watak suwargo nunut,Nunut iku gese njalari,Dadyo nomo suwargo
Yen tetesing luhur,Winastono neroko
Lamun hamadhani asor asorin budi,wiji haneng poro prio
Lahir dan mendewasakan anak

Mupu, artinya mungut anak, yang secara magis diharapkan dapat menyebabkan hamilnya si Ibu yang memungut anak, jika setelah sekian waktu dirasa belum mempunyai anak juga atau akhirnya tidak mempunyai anak. Orang Jawa cenderung memungut anak dari sentono (masih ada hubungan keluarga), agar diketahui keturunan dari siapa dan dapat diprediksi perangainya kelak yang tidak banyak menyimpang dari orang tuanya.
Syarat sebelum mengambil keputusan mupu anak, diusahakan agar mencari pisang raja sesisir yang buahnya hanya satu, sebab menurut gugon tuhon (takhayul yang berlaku) jika pisang ini dimakan akan nuwuhaken (menyebabkan) jadinya anak pada wanita yang memakannya. Anhinga, bisa dimungkinkan hamil, dan tidak harus memungut anak.
Pada saat si Ibu hamil, jika mukanya tidak kelihatan bersih dan secantik biasanya, disimpulkan bahwa anaknya adalah laki-laki, dan demikian sebaliknya jika anaknya perempuan.

Sedangkan di saat kehamilan berusia 7 (tujuh) bulan, diadakan hajatan nujuhbulan atau mitoni. Disiapkanlah sebuah kelapa gading yang digambari wayang dewa Kamajaya dan dewi Kamaratih(supaya si bayi seperti Kamajaya jika laki-laki dan seperti Kamaratih jika perempuan), kluban/gudangan/uraban (taoge, kacang panjang, bayem, wortel, kelapa parut yang dibumbui, dan lauk tambahan lainnya untuk makan nasi),dan rujak buah.
Disaat para Ibu makan rujak, jika pedas maka dipastikan bayinya nanti laki-laki. Sedangkan saat di cek perut si Ibu ternyata si bayi senang nendang-nendang, maka itu tanda bayi laki-laki.
Lalu para Ibu mulai memandikan yang mitoni disebut tingkeban, didahului Ibu tertua, dengan air kembang setaman (air yang ditaburi mawar, melati, kenanga dan kantil), dimana yang mitoni berganti kain sampai 7 (tujuh) kali. Setelah selesai baru makan nasi urab, yang jika terasa pedas maka si bayi diperkirakan laki-laki.
Kepercayaan orang Jawa bahwa anak pertama sebaiknya laki-laki, agar bisa mendem jero lan mikul duwur (menjunjung derajat orang tuanya jika ia memiliki kedudukan baik di dalam masyarakat). Dan untuk memperkuat keinginan itu, biasanya si calon Bapak selalu berdo’a memohon kepada Tuhan.

Slametan pertama berhubung lahirnya bayi dinamakan brokohan, yang terdiri dari nasi tumpeng dikitari uraban berbumbu pedas tanda si bayi laki-laki) dan ikan asin goreng tepung, jajanan pasar berupa ubi rebus, singkong, jagung, kacang dan lain-lain, bubur merah-putih, sayur lodeh kluwih/timbul agar linuwih (kalau sudah besar terpandang). Ketika bayi berusia 5 (lima) hari dilakukan slametan sepasaran, dengan jenis makanan sama dengan brokohan. Bedanya dalam sepasaran rambut si bayi di potong sedikit dengan gunting dan bayi diberi nama, misalnya bernama T. Dewantoro.
Saat diteliti di almanak Jawa tentang wukunya, ternyata T. Dewantoro berwuku tolu, yakni wuku ke-5 dari rangkaian wuku yang berjumlah 30 (tiga puluh). Menurut wuku tolu maka T.Dewantoro berdewa Batara Bayu, ramah-tamah walau bisa berkeras hati, berpandangan luas,cekatan dalam menjalankan tugas serta ahli di bidang pekerjaannya, kuat bergadang hingga pagi, pemberani, banyak rejekinya, dermawan, terkadang suka pujian dan sanjungan yang berhubungan dengan kekayaannya.
Slametan selapanan yaitu saat bayi berusia 35 (tiga puluh lima) hari, yang pada pokoknya sama dengan acara sepasaran. Hanya saja disini rambut bayi dipotong habis, maksudnya agar rambut tumbuh lebat. Setelah ini, setiap 35 (tiga puluh lima) hari berikutnya diadakan acara peringatan yang sama saja dengan acara selapanan sebelumnya, termasuk nasi tumpeng dengan irisan telur ayam rebus dan bubur merah-putih.
Peringatan tedak-siten/tujuhlapanan atau 245 (dua ratus empat puluh lima) hari sedikit istimewa, karena untuk pertama kali kaki si bayi diinjakkan ke atas tanah. Untuk itu diperlukan kurungan ayam yang dihiasi sesuai selera. Jika bayinya laki-laki, maka di dalam kurungan juga diberi mainan anak-anak dan alat tulis menulis serta lain-lainnya (jika si bayi ambil pensil maka ia akan menjadi pengarang, jika ambil buku berarti suka membaca, jika ambil kalung emas maka ia akan kaya raya, dan sebagainya) dan tangga dari batang pohon tebu untuk dinaiki si bayi tapi dengan pertolongan orang tuanya. Kemudian setelah itu si Ibu melakukan sawuran duwit (menebar uang receh) yang diperebutkan para tamu dan anak-anak yang hadir agar memperoleh berkah dari upacara tedak siten.
Setelah si anak berusia menjelang sewindu atau 8 (delapan) tahun, belum juga mempunyai adik, maka perlu dilakukan upacara mengadakan wayang kulit yang biasa acara semacam ini dinamakan ngruwat agar bebas dari marabahaya Biasanya tentang cerita Kresno Gugah yang dilanjutkan dengan cerita Murwakala.
Saat menjelang remaja, tiba waktunya ditetaki/khitan/sunat. Setibanya di tempat sunat (dokter atau dukun/bong), sang Ibu menggendong si anak ke dalam ruangan seraya mengucapkan kalimat : laramu tak sandang kabeh (sakitmu saya tanggung semua).
Orang Jawa kuno sejak dulu terbiasa menghitung dan memperingati usianya dalam satuan windu, yaitu setiap 8 (delapan) tahun. Peristiwa ini dinamakan windon, dimana untuk windu pertama atau sewindu, diperingati dengan mengadakan slametan bubur merah-putih dan nasi tumpeng yang diberi 8 (delapan) telur ayam rebus sebagai lambang usia. Tapi peringatan harus dilakukan sehari atau 2 (dua) hari setelah hari kelahiran, yang diyakini agar usia lebih panjang. Kemudian saat peringatan 2 (dua) windu, si anak sudah dianggap remaja/perjaka atau jaka,suaranya ngagor-agori (memberat). Saat berusia 32 (tiga puluh dua ) tahun yang biasanya sudah kawin dan mempunyai anak, hari lahirnya dirayakan karena ia sudah hidup selama 4 (empat) windu, maka acaranya dinamakan tumbuk alit (ulang tahun kecil). Sedangkan ulang tahun yang ke 62 (enam puluh dua) tahun disebut tumbuk ageng.
Saat dewasa, banyak congkok atau kasarnya disebut calo calon isteri, yang membawa cerita dan foto gadis. Tapi si anak dan orang tuanya mempunyai banyak pertimbangan yang antara lain: jangan mbokongi (menulang-punggungi sebab keluarga si gadis lebih kaya) walau ayu dan luwes karena perlu mikir praja (gengsi), jangan kawin dengan sanak-famili walau untuk nggatuake balung apisah(menghubungkan kembali tulang-tulang terpisah/mempererat persaudaraan) dan bergaya priyayi karena seandainya cerai bisa terjadi pula perpecahan keluarga, kalaupun seorang ndoro (bangsawan) tapi jangan terlalu tinggi jenjang kebangsawanannya atau setara dengan si anak serta sederhana dan menarik hati. Lagi pula si laki-laki sebaiknya harus gandrung kapirangu (tergila-gila/cinta).
Melamar
Bapak dari anak laki-laki membuat surat lamaran, yang jika disetujui maka biasanya keluarga perempuan membalas surat sekaligus mengundang kedatangan keluarga laki-laki guna mematangkan pembicaraan mengenai lamaran dan jika perlu sekaligus merancang segala sesuatu tentang perkawinan.
Setelah ditentukan hari kedatangan, keluarga laki-laki berkunjung ke keluarga perempuan dengan sekedar membawa peningset, tanda pengikat guna meresmikan adanya lamaran dimaksud. Sedangkan peningsetnya yaitu 6 (enam) kain batik halus bermotif lereng yang mana tiga buah berlatar hitam dan tiga buah sisanya berlatar putih, 6 (enam) potong bahan kebaya zijdelinnen dan voal berwarna dasar aneka, serta 6 (enam) selendang pelangi berbagai warna dan 2 (dua) cincin emas berinisial huruf depan panggilan calon pengantin berukuran jari pelamar dan yang dilamar (kelak dipakai pada hari perkawinan). Peningset diletakkan di atas nampan dengan barang-barang tersebut dalam kondisi tertutup.
Orang yang pertama kali mengawinkan anak perempuannya dinamakan mantu sapisanan atau mbuka kawah, sedang mantu anak bungsu dinamakan mantu regil atau tumplak punjen.
Perkawinan
Orang Jawa khususnya Solo, yang repot dalam perkawinan adalah pihak perempuan, sedangkan pihak laki-laki hanya memberikan sejumlah uang guna membantu pengeluaran yang dikeluarkan pihak perempuan, di luar terkadang ada pemberian sejumlah perhiasan, perabot rumah maupun rumahnya sendiri. Selain itu saat acara ngunduh (acara setelah perkawinan dimana yang membuat acara pihak laki-laki untuk memboyong isteri ke rumahnya), biaya dan pelaksana adalah pihak laki-laki, walau biasanya sederhana.
Dalam perkawinan harus dicari hari "baik", maka perlu dimintakan pertimbangan dari ahli hitungan hari "baik" berdasarkan patokan Primbon Jawa. Setelah diketemukan hari baiknya, maka sebulan sebelum akad nikah, secara fisik calon pengantin perempuan disiapkan untuk menjalani hidup perkawinan, dengan diurut dan diberi jamu oleh ahlinya. Ini dikenal dengan istilah diulik, yaitu mulai dengan pengurutan perut untuk menempatkan rahim dalam posisi tepat agar dalam persetubuhan pertama dapat diperoleh keturunan, sampai dengan minum jamu Jawa yang akan membikin tubuh ideal dan singset.
Selanjutnya dilakukan upacara pasang tarub (erat hubungannya dengan takhayul) dan biasanya di rumah sendiri (kebiasaan di gedung baru mulai tahun 50-an), dari bahan bambu serta gedek/bilik dan atap rumbia yang di masa sekarang diganti tiang kayu atau besi dan kain terpal. Dahulu pasang tarub dikerjakan secara gotong-royong, tidak seperti sekarang. Dan lagi pula karena perkawinan ada di gedung, maka pasang tarub hanya sebagai simbolis berupa anyaman daun kelapa yang disisipkan dibawah genting. Dalam upacara pasang tarub yang terpenting adalah sesaji. Sebelum pasang tarub harus diadakan kenduri untuk sejumlah orang yang ganjil hitungannya (3 - 9 orang). Do’a oleh Pak Kaum dimaksudkan agar hajat di rumah ini selamat, yang bersamaan dengan ini ditaburkan pula kembang setaman, bunga rampai di empat penjuru halaman rumah, kamar mandi, dapur dan pendaringan (tempat menyimpan beras), serta di perempatan dan jembatan paling dekat dengan rumah. Diletakkan pula sesaji satu ekor ayam panggang di atas genting rumah. Bersamaan itu pula rumah dihiasi janur, di depan pintu masuk di pasang batang-batang tebu, daun alang-alang dan opo-opo, daun beringin dan lain-lainnya, yang bermakna agar tidak terjadi masalah sewaktu acara berlangsung. Di kiri kanan pintu digantungkan buah kelapa dan disandarkan pohon pisang raja lengkap dengan tandannya, perlambang status raja.
Siraman (pemandian) dilakukan sehari sebelum akad nikah, dilakukan oleh Ibu-ibu yang sudah berumur serta sudah mantu dan atau lebih bagus lagi jika sudah sukses dalam hidup, disiramkan dari atas kepala si calon pengantin dengan air bunga seraya ucapan "semoga selamat di dalam hidupnya". Seusai upacara siraman, makan bersama berupa nasi dengan sayur tumpang (rebusan sayur taoge serta irisan kol dan kacang panjang yang disiram bumbu terbuat dari tempe dan tempe busuk yang dihancurkan hingga jadi saus serta diberi santan, salam, laos serta daun jeruk purut yang dicampuri irisan pete dan krupuk kulit), dengan pelengkap sosis dan krupuk udang.
Midodareni adalah malam sebelum akad nikah, yang terkadang saat ini dijadikan satu dengan upacara temu. Pada malam midodareni sanak saudara dan para tetangga dekat datang sambil bercakap-cakap dan main kartu sampai hampir tengah malam, dengan sajian nasi liwet (nasi gurih karena campuran santan, opor ayam, sambel goreng, lalab timun dan kerupuk).
Upacara akad nikah, harus sesuai sangat (waktu/saat yang baik yang telah dihitung berdasarkan Primbon Jawa) dan Ibu-Ibu kedua calon pengantin tidak memakai subang/giwang (untuk memperlihatkan keprihatinan mereka sehubungan dengan peristiwa ngentasake/mengawinkan anak, yang sekarang jarang diindahkan yang mungkin karena malu). Biasanya acara di pagi hari, sehingga harus disediakan kopi susu dan sepotong kue serta nasi lodopindang (nasi lodeh dengan potongan kol, wortel, buncis, seledri dan kapri bercampur brongkos berupa bumbu rawon tapi pakai santan) yang dilengkapi krupuk kulit dan sosis. Disaat sedang sarapan, Penghulu beserta stafnya datang, ikut sarapan dan setelah selesai langsung dilakukan upacara akad nikah.
Walau akad nikah adalah sah secara hukum, tetapi dalam kenyataannya masih banyak perhatian orang terpusat pada upacara temu, yang terkadang menganggap sebagai bagian terpenting dari perayaan perkawinan. Padahal sebetulnya peristiwa terpenting bagi calon pengantin adalah saat pemasangan cincin kawin, yang setelah itu Penghulu menyatakan bahwa mereka sah sebagai suami-isteri. Temu adalah upacara adat dan bisa berbeda walau tak seberapa besar untuk setiap daerah tertentu, misalnya gaya Solo dan gaya Yogya.
Misalnya dalam gaya Solo, di hari "H"nya, di sore hari. Tamu yang datang paling awal biasanya sanak-saudara dekat, agar jika tuan rumah kerepotan bisa dibantu. Lalu tamu-tamu lainnya, yang putri langsung duduk bersila di krobongan, dengan lantai permadani dan tumpukan bantal-bantal (biasanya bagi keluarga mampu), sedang yang laki-laki duduk di kursi yang tersusun berjajar di Pendopo (sekarang ini laki-laki dan perempuan bercampur di Pendopo semuanya). Para penabuh gamelan tanpa berhenti memainkan gending Kebogiro, yang sekitar 15 (lima belas) menit menjelang kedatangan pengantin laki-laki dimainkan gending Monggang. Tapi saat pengantin beserta pengiring sudah memasuki halaman rumah/gedung, gending berhenti, dan para tamu biasanya tahu bahwa pengantin datang. Lalu tiba di pendopo, ia disambut dan dituntun/digandeng dan diiringi para orang-tua masih sejawat orang tuanya yang terpilih
Sementara itu, pengantin perempuan yang sebelumnya sudah dirias dukun nganten (rambut digelung dengan gelungan pasangan, dahi dan alis di kerik rambutnya, dsb.nya) untuk akad nikah, dirias selengkapnya lagi di dalam kamar rias. Lalu setelah siap, ia dituntun/digandeng ke pendopo oleh dua orang Ibu yang sudah punya anak dan pernah mantu, ditemukan dengan pengantin laki-laki (waktu diatur yaitu saat pengantin pria tiba di rumah/gedung, pengantin perempuan pun juga sudah siap keluar dari kamar rias), dengan iringan gending Kodokngorek. Sedangkan pengantin laki-laki dituntun ke arah krobongan.
Ketika mereka sudah berjarak sekitar 2 (dua) meter, mereka saling melempar dengan daun sirih yang dilipat dan diikat dengan benang, yang siapa saja melempar lebih kena ke tubuh diartikan bahwa dalam hidup perkawinannya akan menang selalu. Lalu yang laki-laki mendekati si wanita yang berdiri di sisi sebuah baskom isi air bercampur bunga. Di depan baskom di lantai terletak telur ayam, yang harus diinjak si laki-laki sampai pecah, dan setelah itu kakinya dibasuh dengan air bunga oleh si wanita sambil berjongkok. Kemudian mereka berjajar, segera Ibu si wanita menyelimutkan slindur/selendang yang dibawanya ke pundak kedua pengantin sambil berucap: Anakku siji saiki dadi loro (anakku satu sekarang menjadi dua). Selanjutnya mereka dituntun ke krobongan, dimana ayah dari pengantin perempuan menanti sambil duduk bersila, duduk di pangkuan sang ayah sambil ditanya isterinya: Abot endi Pak ? (berat mana Pak ?), yang dijawab sang suami: Pada dene (sama saja). Selesai tanya jawab, mereka berdiri, si laki-laki duduk sebelah kanan dan si perempuan sebelah kiri, dimana si dukun pengantin membawa masuk sehelai tikar kecil berisi harta (emas, intan, berlian) dan uang pemberian pengantin laki-laki yang dituangkan ke tangan pengantin perempuan yang telah memegang saputangan terbuka, dan disaksikan oleh para tamu secara terbuka. Inilah yang disebut kacar-kucur.
Guna lambang kerukunan di dalam hidup, dilakukan suap-menyuap makanan antara pengantin. Bersamaan dengan ini, makanan untuk tamu diedarkan (sekarang dengan cara prasmanan) berurutan satu persatu oleh pelayan. Setelah itu, dilakukan acara ngabekten (melakukan sembah) kepada orang tua pengantin perempuan dan tilik nganten (kehadiran orang tua laki-laki ke rumah/gedung setelah acara temu selesai yang langsung duduk dikrobongan dan disembah kedua pengantin).
Lalu setelah itu dilakukan kata sambutan ucapan terima kasih kepada para tamu dan mohon do’a restu, yang kemudian dilanjutkan dengan acara hiburan berupa suara gending-gending dari gamelan, misalnya gending ladrang wahana, lalu tayuban bagi jamannya yang senang acara itu, dsb.nya. 

Mati/Wafat
Demikian, sepasang pengantin itu akan mempunyai anak, menjadi dewasa, kemudian mempunyai cucu dan meninggal dunia. Yang menarik tapi mengundang kontraversi, adalah saat manusia mati. Sebab bagi orang Jawa yang masih tebal kejawaannya, orang meninggal selalu didandani berpakaian lengkap dengan kerisnya (ini sulit diterima bagi orang yang mendalam keislamannya), juga bandosa (alat pemikul mayat dari kayu) yang digunakan secara permanen, lalu terbela (peti mayat yang dikubur bersama-sama dengan mayatnya).
Sebelum mayat diberangkatkan ke alat pengangkut (mobil misalnya), terlebih dahulu dilakukan brobosan (jalan sambil jongkok melewati bawah mayat) dari keluarga tertua sampai dengan termuda.
 Sedangkan meskipun slametan orang mati, mulai geblak (waktu matinya), pendak siji (setahun pertama), pendak loro (tahun kedua) sampai dengan nyewu (seribu hari/3 tahun) macamnya sama saja, yaitu sego-asahan dan segowuduk, tapi saat nyewu biasanya ditambah dengan memotong kambing untuk disate dan gule.
Nyewu dianggap slametan terakhir dengan nyawa/roch seseorang yang wafat sejauh-jauhnya dan menurut kepercayaan, nyawa itu hanya akan datang menjenguk keluarga pada setiap malam takbiran, dan rumah dibersihkan agar nyawa nenek moyang atau orang tuanya yang telah mendahului ke alam baka akan merasa senang melihat kehidupan keturunannya bahagia dan teratur rapi. Itulah, mengapa orang Jawa begitu giat memperbaiki dan membersihkan rumah menjelang hari Idul fitri yang dalam bahasa Jawanya Bakdan atau Lebaran dari kata pokok bubar yang berarti selesai berpuasanya.

Tradisi Ritual Menghitung Musim

PRANOTO MONGSO
( aturan waktu musim )

pranotomongso1.jpg (14021 bytes)
Pranata Mangsa atau aturan waktu musim biasanya digunakan oleh para petani pedesaan, yang didasarkan pada naluri saja, dari leluhur yang sebetulnya belum tentu dimengerti asal-usul dan bagaimana uraian satu-satu kejadian di dalam setahun. Walau begitu bagi para petani tetap dipakai dan sebagai patokan untuk mengolah pertanian. Uraian mengenai Pranata Mangsa ini diambil dari sejarah para raja di Surakarta, yang tersimpan di musium Radya-Pustaka.
Menurut sejarah, sebetulnya baru dimulai tahun 1856, saat kerajaan Surakarta diperintah oleh Pakoeboewono VII, yang memberi
patokan bagi para petani agar tidak rugi dalam bertani, tepatnya dimulai tanggal 22 Juni 1856, dengan urut-urutan :
  1. Kasa, mulai 22 Juni, berusia 41 hari. Para petani membakar dami yang tertinggal di sawah dan di masa ini dimulai menanam palawija, sejenis belalang masuk ke tanah, daun-daunan berjatuhan. Penampakannya/ibaratnya : lir sotya (dedaunan) murca saka ngembanan (kayu-kayuan).
  2. Karo, mulai 2 Agustus, berusia 23 hari. Palawija mulai tumbuh, pohon randu dan mangga, tanah mulai retak/berlubang. Penampakannya/ibaratnya : bantala (tanah) rengka (retak).
  3. Katiga, mulai 25 Agustus, berusia 24 hari. Musimnya/waktunya lahan tidak ditanami, sebab panas sekali, yang mana Palawija mulai di panen, berbagai jenis bambu tumbuh. Penampakannya/ibaratnya : suta (anak) manut ing Bapa (lanjaran).
  4. Kapat, mulai 19 September, berusia 25 hari. Sawah tidak ada (jarang) tanaman, sebab musim kemarau, para petani mulai menggarap sawah untuk ditanami padi gaga, pohon kapuk mulai berbuah, burung-burung kecil mulai bertelur. Penampakannya/ibaratnya : waspa kumembeng jroning kalbu (sumber).
  5. >Kalima, mulai 14 Oktober, berusia 27 hari. Mulai ada hujan, selokan sawah diperbaiki dan membuat tempat mengalir air di pinggir sawah, mulai menyebar padi gaga, pohon asem mulai tumbuh daun muda, ulat-ulat mulai keluar. Penampakannya/ibaratnya : pancuran (hujan) emas sumawur (hujannya)ing jagad.
  6. Kanem, mulai 10 Nopember, berusia 43 hari. Para petani mulai menyebar bibit tanaman padi di pembenihan, banyak buah-buahan (durian, rambutan, manggis dan lain-lainnya), burung blibis mulai kelihatan di tempat-tempat berair. Penampakannya/ibaratnya : rasa mulya kasucian (sedang banyak-banyaknya buah-buahan).
  7. Kapitu, mulai 23 Desmber, usianya 43 hari. Benih padi mulai ditanam di sawah, banyak hujan, banyak sungai yang banjir. Penampakannya/ibaratnya : wisa kentar ing ing maruta (bisa larut dengan angin, itu masanya banyak penyakit).
  8. Kawolu, mulai 4 Pebruari, usianya 26 hari, atau 4 tahun sekali 27 hari. Padi mulai hijau, uret mulai banyak. Penampakannya/ibaratnya : anjrah jroning kayun (merata dalam keinginan, musimnya kucing kawin).
  9. Kasanga, mulai 1 Maret, usianya 25 hari. Padi mulai berkembang dan sebagian sudah berbuah, jangkrik mulai muncul, kucing mulai kawin, cenggeret mulai bersuara. Penampakannya/ibaratnya : wedaring wacara mulya ( binatang tanah dan pohon mulai bersuara).
  1. Kasepuluh, mulai 26 Maret, usianya 24 hari. Padi mulai menguning, mulai panen, banyak hewan hamil, burung-burung kecil mulai menetas telurnya. Penampakannya/ibaratnya : gedong minep jroning kalbu (masa hewan sedang hamil).
  2. Desta, mulai 19 April, berusia 23 hari. Seluruhnya memane n padi. Penampakannya/ibaratnya: sotya (anak burung) sinara wedi (disuapi makanan).
  3. Saya, mulai 12 Mei, berusia 41 hari. Para petani mulai menjemur padi dan memasukkan ke lumbung. Di sawah hanya tersisa dami. Penampakannya/ibaratnya : tirta (keringat) sah saking sasana (badan) (air pergi darisumbernya, masa ini musim dingin, jarang orang berkeringat, sebab sangat dingin).
 
Demikian uraian singkat tentang Pranata Mangsa, yang jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, hal tersebut diatas tentunya harus dicocokkan secara ilmiah, kondisi alam, kemajuan teknologi, dan sebagainya.

Tradisi Ritual Menghitung Tahun

Tahun Jawa
1.                  TAHUN JAWA
Tahun Jawa yang berlaku sekarang ini menurut perhitungan tahun Saka, ialah tahun ketika raja Saliwahana (Adji Saka) diHindustan naik tahta kerajaan. Tahun kenaikan raja itu diperingati tahun 1. Ketika itu tahun masehi kebetulan tahun 78.
Ketika tahun masehi 1633, perhitungan tahun Saka disesuaikan dengan tahun Hidjrah (tahun Arab), hanya angka tahun yang masih tetap, ialah tahun 1555.
Cara menyesuaikan itu tidak seluruhnya, masih banyak hal-hal yang terus dipakai hingga sekarang. Nama hari dan bulan meniru nama Arab hanya ucapannya yang berubah.
Tahun Jawa itu dibagi menjadi kelompok-kelompok. Tiap-tiap kelompok umurnya 8 tahun. Tiap-tiap 8 tahun dinamakan : 1 windu. 

Windu
Windu itu ada 4. Satu windu dinamakan : tumbuk satu kali. Empat windu adalah tumbuk 4 kali (32 tahun). Demikian seterusnya.
Tumbuk ini biasanya untuk memperingati umur orang. Umpamanya: lahir pada hari Sabtu Pahing tanggal 25 Rajab 1878. Delapan tahun kemudian ialah pada tahun 1886 pada bulan Rajab tanggal 25 tepat pada hari Sabtu Pahing, ialah hari kelahirannya.
Windu empat itu mempunyai arti dan watak sendiri-sendiri ialah :
1.   Windu Adi = utama : banyak tingkah laku baru.
2.  Kunthara = kelakuan : banyak tingkah laku baru
3.                  Sengara = banjir : banyak air, sungai banjir
4.                  Sanjaya = kekumpulan : banyak teman biasa menjadi teman karib  

Nama tahun
Tahun Jawa dalam 1 windu itu ada namanya sendiri-sendiri ialah
1.                  Alip
2.                  Ehe
3.                  Jimawal
4.                  Je
5.                  Dal
6.                  Be
7.                  Wawu
8.                  Jimakir  
Dalam 1 windu (8 tahun) ada tahunnya Kabisat 3 ialah pada tahun ke 2 (Ehe), ke $ (Je) dan ke 8 (Jimakir).
Oleh karena menurut perhitungan tahun Jawa dalam 1 windu ada tahunya Kabisat 3, dalam 120 tahun (15 x 8 tahun), tahunnya Kabisat ada 15 x 3 = 45. Sedang menurut perhitungan tahun Arab tiap-tiap 30 tahun, tahunnya Kabisat ada 11. Dalam 120 tahun, tahunnya Kabisat ada 11 x 4 = 44. Jadi perhitungan tahun Jawa dalam 120 tahun, tahunnya Kabisat lebih satu dari pada tahun Arab.
Agar perhitungan tahun Jawa sama dengan perhitungan tahun Arab, tiap-tiap 15 windu (120 tahun), ada tahunnya kabisat Jawa 1 yang dihilangkan. Hilangnya tahun kabisat 1 itu menyebabkan gantinya huruf, ialah hari pertama pada windu. Jadi huruf itu gantinya tiap-tiap 120 tahun.
Perhitungan tahun Jawa 120 tahun itu rupa-rupanya tidak begitu ditaati. Buktinya dalam tahun 1674 (tahun masehi 1748/49) tahun Jawa telah disesuaikan lagi dengan tahun Arab, ialah dengan membuang tahun kabisat 1. Pada tahun 1748 (tahun masehi 1820/210), jadi belum 120 tahun, telah disesuaikan lagi dengan membuang satu hari lagi (hari mulai windu-churup).
Pada waktu itu yang berlaku ialah churup Jamngiah. Pada tanggal 11 Desember 1749 churup itu dijadikan churup Kamsiah dan pada tanggal 28 September 1821 disesuaikan lagi jadi churup Arbangiah.
Walaupun tahun Jawa telah disesuaikan dengan tahun Arab tiap-tiap 120 tahun sekali, akan tetapi tanggalnya tidak tentu berbarengan. Karena, kecuali beda kelompoknya, tahun Kabisat Jawa itu jalannya tidak berbarengan dengan tahun Kabisat Arab.
Lain dari pada itu ada pula yang harus kita ingatkan, ialah umur bulan dalam tahun Je dan Dal. Mulai tahun 1547 (churup Jamngiah) hingga tahun 1674 (akan ganti churup Kamsiah), tahun Je belim dijadikan tahun Kabisat, masih jadi tahun wastu. Umurnya bulan tidak berganti-ganti 30 dengan 29 hari, akan tetapi : 30, 30, 29, 29, 29, 29, 30, 29, 30, 29, 30, 30 hari.
Sejak churup Kamsiah, tahun Je baru dijadikan tahun Kabisat. Sebab demikian, agar tanggal 12 Mulud dalam tahun Dal (grebeg Mulud) jatuh pada hari Senin Pon.
Adapun tahun Dal dalam churup Jamngiah (1547-1674) dijadikan tahun Kabisat. Akan tetapi mulai churup Kamsiah (1677-1748) tahun Dal lalu dijadikan tahun Wastu. Mulai churup Arbangiah (1749) umur bulan dalam tahun itu dirobah lagi, tidak berganti-ganti 30 dengan 29 hari, akan tetapi : 30, 30, 29, 29, 29, 29, 30, 29, 30, 29, 30, 30 hari
Mulai churup Salasiah (1867), menurut perhitungan, tanggal 12 Mulud dalam tahun Dal sudah tidak jatuh pada hari Senin Pon.
Nama tahun Jawa itu kecuali seperti yang tersebut di atas, masih ada namanya lain. Nama tahun seperti yang tersebut dibawah ini adalah untuk mengetahui banyak sedikitnya hujan dalam tahun itu.  
Untuk mengetahui nama tahun itu, ialah : jika tanggal 1 Sura jatuh pada hari:
Jumat, dinamakan tahun  : Sukraminangkara (tahun udang). Wataknya : sedikit hujan.
Sabtu, dinamakan tahun   : Tumpak-maenda (tahun kambing). Wataknya : sedikit hujan.
Ahad, dinamakan tahun : Ditekalaba (tahun kalabang). Wataknya : sedikit hujan.

Senin, dinamakan tahun : Somawertija (tahun cacing). Wataknya : sedikit hujan.
Selasa, dinamakan  : Anggarawrestija (tahun kodok). Wataknya : banyak hujan.
Rabu, dinamakan   : Buda-wiseba (tahun kerbau). Wataknya : banyak hujan.
Kamis, dinamakan    : Respati-mituna (tahun mimi). Wataknya : banyak hujan.

2. TAHUN MASEHI
Tahun Masehi dimulai dari lahirnya nabi Yesus Kristus. Perhitungan tahun ini menurut jalannya matahari. Umurnya 365 atau 366 hati. Tahun yang berumur 365 hari dinamakan tahun : Wastu (tahun pendek). Bulan Februari umurnya hanya 28 hari. Tahun yang berumur 366 hari dinamakan tahun : Wuntu (tahun kabisat). Bulan Februari umurnya 29 hari.
Tahun Masehi itu tiap-tiap 4 tahun ada tahunnya kabisat satu. Untuk mengetahui hal ini : jika angka tahun ini ceples dibagi empat, umpamanya : tahun 1904, 1908, 1912, dsb.
Akan tetapi jika angka satuan dan puluhan berwujud 0, umpamanya : tahun 1700, 1800, 1900, dsb., walaupun angka tahun itu ceples dibagi empat, bukan tahun kabisat, akan tetapi tahun Wastu. 

3. TAHUN ARAB
Tahun Arab (Hidjrah) dimulai dari tahun Masehi 622 ialah hidjrahnya K.N. Muhammad s.a.w. dari Mekah ke Madinah.
Perhitungan tahun Arab itu menurut jalannya bulan. Tahun Wastu umurnya 354 hati. Tahun Kabisat umurnya 355 hari.
Tahun Arab itu berkelompok 30 tahun. Tiap-tiap 30 tahun ada tahunnya Kabisat 11, ialah tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, dan 29.
Bagi hari yang perlu dirayakan, umpamanya : hari mulai bulan puasa dan hari Idul Fitri, sering tidak cocok dengan penanggalan, hal ini sering terjadi perbedaan rukjat.

Tradisi Ritual Milih Mantu 2


Mantu


Pada umumnya orang jawa yang mempunyai hajat “ mantu “ (mengawainkan anaknya), dibagian muka rumahnya di pasang “ tarub “: yaitu tertata dihias dengan janur kuning, daun kelapa muda yang berwarna kuning. Meskipun “ Mantu “ tidak dirumahnya sendiri misalnya di gedung pertemuan dsb, hiasan ini pun dilaksanakan pula.
Dimuka pintu masuk sebelah kanan dan kiri didirikan pohon pisang suluhan ( sebagaian buahnya sudah masak ) atau pisang tuwuhan ( lengkap dengan akar, batang, daun dan buahnya ) Disamping pohon-pohon pisang tersebut, dilengkapi hiasan lain-lainnya, ialah :  
Dahan kapas dengan bunga dan buahnya
Padi seuntai
Dahan beringin dengan daunnya
Cengkir gading ( kelapa gading  muda )  

Tebu wulung ( hitam )
Daun apa-apa
Pisang raja talun masak di pohon ( suluh )  


Pada waktu pengantin dipertemukan satu dengan lainnya, diadakan upacara :  
-Uncal-uncalan gantal (lempar-lemparan secarik sirih);
-Wisuhan (membersihkan kaki pengantin lelaki dengan air oleh pengantin perempuan);
-Menginjak telor (oleh pengantin lelaki);
-Kacar-kucur (pengantin lelaki menumpahkan kantong berisi beras, kacang, kedelai, dan sebagainya diterima oleh pengantin perempuan);
-Ditimbang (oleh ayah pengantin putri diatas pangkuannya);
-Suap-menyuap nasi
 
Tatacara tersebut mengandung maksud yang diwujudkan dengan lambang-lambang diatas yang masing-masing mempunyai arti sebagai berikut :  
Dahan kapas dengan daun dan buahnya melambangkan : sandang (1.busana, kawi). Maksudnya : didalam hidup suami istri dan keliarga wajib berusaha mencukupi sandang (pakaian)
Padi seuntai melambangkan pangan (2.beksana, kawi) maksudnya orang bersuami istri juga wajib berusaha mencukupi pangannya.
Dhan beringin dengan daunnya melambangkan papan (3.sasono, kawi) tempat yang teduh, nyaman, menyenangka, ayem tentrem. Maksudnya orang bersuami istri wajib mengusahakan papan, tempat untuk tinggal
Keterangan :
Lambang angka 1, 2 dan 3 tersebut diatas dapat dimaknakan, bahwa pengantin berdua kemudian harus sanggup menyelenggarakan rumah tangga yang kokoh dengan memenuhi syarat mutlak ialah menciptakan Trisana yakni :1. Busana; 2. Baksana; 3. Sasana.
-Kelapa muda kuning (cengkir gading) itu dimaksud sebagai ringkasan yang lengkapnya berbunyi : Kencengging pikir (kemauan teguh) kepada keelokan dan keindahan seperti keindahan cengkir kelapa gading.
-Tebu wulung juga dimaksudkan sebagai ringkasan yang lengkapnya berbunyi : antebing kalbu (kesungguhan hati) hatinya murni, bulat satu tujuan, hitam satu warna, tidak terpecik pikiran yang lain.
-Daun apa-apa bermaksud sebagai puji doa, mudah-mudahan hajat mantu ini selamat tidak ada apa-apa , tiada suatu halangan apapun.
Pisang tuwuhan berupa pisang raja talun masak dipohon, jelasnya demikian: ada bermacam-macam pisang: kluthuk, pulut, mas, becici, raja. Yang paling baik adalah pisang raja. Pisang Raja pun bermacam-macam: raja kusta, raja sewu nagri, raja talun. Yang paling baik adalah raja talun, pisang raja talun pun bermacam-macam : pisang raja talun mentah, masak karena diimbu (disimpan untuk memasakkan), disemprong (agar supaya lekas tampak warna kuning sebagai tanda sudah masak), korepen (rusak), yang palin baik adalah raja talun yang masak dipohon (suluh).
Adapun maksudnya adalah sebagai lambang, bahwa maksud dari bersuami istri yang hakiki, yang murni dan luhur ialah : agar supaya “Ngudi ambabar tuwuh” (berusaha agar dapat melahirkan benih) yang utama, terpilih dan terpuji, yaitu yang sangat baik seperti baik dan terpilihnya pisang raja talun yang utuh dan masak dipohon. Pada hakekatnya “melahirkan benih utama” itu suatu hal yang amat sukar sekali, terutama mengingat bahwa soal itu, soal benih atau biji ditangan Ilahita’ala. Sukar sekali mencapai maksud itu, namun dapat diusahakan dengan syarat-syarat usaha sebagai berikut:
  1. Harus teguh kemauannya (ingat: cengkir gading)
  2. Harus berkesungguhan hati (ingat: tebu wulung)
  3. Harus tekun memohon kemurahan Ilahi ta’ala yang maha kuasa, dan yang mengatur dunia, yang maha murah dan asih kepada segenap umatNya.
  4. Harus percaya bahwa Ilahi ta’ala selalu memenuhi permohonan hambaNya seimbang dan sesuai dengan ikhtiar dan tekadnya.
  5. Harus sabar, tidak bosan-bosan memohon kepada Ilahi ta’ala tiada henti-hentinya, setiap malam sehingga permohonan itu dikabulkan oleh Ilahi ta’ala, denga sesuatu pertanda/firasat.
Keterangan
Pertanda yang diberikan oleh Allah kepada manusia kadang-kadang berupa : Suara, bagi orang yang tajam pendengaran batinnya. Suara ini bukanlah suara yang dapat ditangkap oleh telinga manusia. Aksara, tulisan, gambaran atau ujud bagi orang yang tajam penglihatan batinnya. Aksara dan sebagainya seperti itu tidak dapat terlihat oleh mata kepala.Timbulnya rasa keyakinan atau firasat bagi orang yang tajam perasaan kalbunya
Pertanyaan : melahirkan benih (ambabar tuwuh) yang utama itu benih yang bagaimanakah ?
Jawab : Tuo, benih atau turun yang utama berupa anak perempuan atau laki-laki yang dapat memenuhi “tridarma bakti” didunia, yaitu 3 macam kewajiban sebagai berikut:
Manusia diciptakan didunia ini sebagai mahluk moral, artinya memiliki kesusilaan. Manusia susila wajib berbakti kepada Allah dengan : beriman atau tauhit kepada ALLAH.yang berarti mejalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.selantnya berserah diri pada Nya secara total.
Manusia dititahkan sebagai mahluk individual, perorangan, diwajibkan berusaha sekuat tenaga, budi dan daya, sehingga dapat memenuhi hukum hidup bahagia dengan 4 dasar, yaitu:
  1. wirya, yaitu kedudukan, jabatan, pangkat yang pantas;
  2. harta, yaitu uang, hartabenda, ekonomi yang cukup yang diperoleh dengan halal
  3. guna, yaitu kepandaian, ketrampilan yang cukup
  4. susila, yaitu baik budi pekerti, baik akhlaknya dan sopan santun
Manusia dititahkan didunia sebagai mahluk sosial, artinya: menyadari bahwa ia hidup bersama dengan banyak orang. Manusia sosial wajib bergotong-royong, tolong menolong, rukun, berbuat baik kepada sesama manusia demi keselamatan bersama.
ARTI BERBAGAI UPACARA DALAM BERTEMUNYA PENGANTIN
Berbagai upacara pada waktu bertemunya Pengantin perempuan dan lelaki seperti tersebut diatas mempunyai arti sebagai berikut :
Uncal-uncalan gantal (lempar-lemparan batu) Yang disebut gantal adalah selembar daun sirih yang diikat dengan benang atau lainnya. Sirih mempunyai peran penting dijaman lampau, orang mengundang tetangga dan kaum kerabatnya dengan mengirimkan sirih yang dilengkapi dengan kapur, gambir tembakau. sIrih itu sebagai alat penghubung mengundang orang ke rumahnya Seorang jejaka yang menaruh hati pada seorang gadisdan ingin bertanya apakah gadis itu bersedia untuk diperistri, maka jejaka itu mengirimkan daun sirih yang sudah dijadikan gantal kepada si gadis. Persetujuan gadis disampaikan dengan mengirimkan gantal pula kepada sang jejaka. Dengan lambang itu berarti lamaran diterima baik. Maka sebenarnya uncal-uncalan gantal dapat diartikan sebagai berkirim-kiriman surat.Dalam hal uncal-uncalan gantal pada waktu pengantin bertemu, yang melempar gantal lebih dahulu adalah pengantin lelaki, sebab yang melamar adalah pengantin pria.
 .      Makna lambang Wisuhan
Menurut tradisi kuna waktu pengantin laki-laki datang, pengantin wanita harus menjemputnya diambang pintu, dibarengi dengan perbuatan tanda hormat dan bakti ialah : ia bersembah, lalu berjongkok untuk membasuh kaki sang suami dengan air bunga setanam. Upacara ini sekarang diganti dengan saling berjabat tangan sebagai tanda saling mencintai dan menghormati.
Pengantin lelaki menginjak telor sampai pecah
Maksudnya, bahwa pengantin lelaki harus dengan tepat dapat memecahkan telor pengantin puteri sehingga berhasil menurunkan benih, mendapatkan keturunan yang baik.
Kacar-kucur
Pengantin lelaki menumpahkan kantong berisi beras, kedele, kacang, uang, dan sebaginya diterima oleh pengantin perempuan dengan tikar kecil sederhana diatas pangkuannya yang disangga dengan dua belah tangannya sesudah menjadi kosong, oleh pengantin lelaki kantong dikebutkan sebagai bukti bahwa semuanya sudah ditumpahkan kepada pengantin perempuan maksudnya : sang suami berkewajiban memberikan penghasilan, rezeki berupa apa saja kepada sang istri, sang istri dalam menerima rezeki dari suaminya diharapkan hidup cermat dan berhemat.  
Pengantin perempuan dan lelaki duduk diatas pangkuan ayah pengantin perempuan seolah-olah sang ayah menimbangnya
Sang ibu pengantin perempuan bertanya : “berat manakah Pak ?:”
Jawabnya “sama-sama beratnya sudah seimbang”.
Maksudnya : calon pengantin hendaklah masing-masing menjaga keseimbangan dalam mengarungi kehidupannya kelak.
Saling menyuapi
Pengantin perempuan menyuapi sang lelaki demikian sebaliknya, maksudnya bersuami istri hendaknya rukun, akrab lahir batin saling menerima apa adanya, untuk itu dalam bahasa Jawa bojo (istri) diganti menjadi Jodo (jodoh), mencari istri (bojo) lebih gampang ketimbang mencari jodo (jodoh)
Dalam falsafah Jawa :  
Kewajiban suami
Hangayani (memberi rejeki)
Hangomahi ( memberi rumah)
Hangayemi (membikin tenteram, ayem)
Hangayomi (melindungi)
Hangatmajani (memberi keturunan jiwa mulia)  
Kewajiban istri
Gemi-nastiti (hemat cermat)
Ngati-ati (hati-hati)
Reti-surti (siap-teliti)
Ngrukti (memelihara)
Setya-bekti (setia berbakti)
 UPACARA PENGANTIN ADAT JAWA  
A.     KRONOLOGIS
 Kronologis ketemu jodoh  pada orang  Jawa  dahulu ,biasanya melalui cara yang disebut :
1.      Babat alas artinya membuka hutan untuk merintis membuat lahan. Dalam hal babat alas ini orangtua pemuda merintis seorang congkok untuk mengetahui apakah si gadis sudah mempunyai calon atau belum. Istilah umumnya disebut nakokake artinya menanyakan
2.     Kalau sang pemuda belum kenal dengan sang gadis, maka adanya upacara nontoni
     Yaitu sang pemuda diajak keluarganya datang ke rumah sang gadis, pada saat pemuda pemuda itu diajak/ diberi kesempatan untuk nontoni sang gadis pilihan orang tuanya
3.      Bila cocok artinya saling setuju, kemudian disusul dengan upacara nglamar atau meminang. Dalam upacara nglamar, keluarga pihak sang pemuda menyerahkan barang kepada pihak sang gadis sebagai peningset yang terdiri dari pakaian lengkap, dalam bahasa Jawanya sandangan sapangadek.
4.      Menjelang hari perkawinan diadakan upacara srah-srahan atau asok tukon yaitu
      pihak calon pengantin putra menyerahkan sejumlah hadiah perkawinan kepada keluarga pihak calon pengantin putri berupa hasil bumi, alat-alat rumah tangga, ternak dan kadang-kadang ditambah sejumlah uang.
5.      Kira-kira 7 hari (dulu 40 hari) sebelum hari pernikahan calon pengantin putri dipingit artinya tidak boleh keluar dari rumah dan tidak boleh bertemu dengan calon suaminya. Selama masa pingitan calon pengantin putri membersihkan diri dengan mandi kramas dan badannya diberi lulur.
6.      Sehari atau dua hari sebelum upacara akad nikah di rumah orangtua calon pengantin putri membuat tratag dan menghias rumah. Kesibukan tersebut biasanya juga dinamakan upacara pasang tarub
7.      Upacara siraman yaitu memandikan calon pengantin putri dengan kembang telon yaitu bunga mawar, melati dan kenanga dan selanjutnya disusul dengan upacara ngerik. Upacara ngerik yaitu membersihkan bulu-bulu rambut yang terdapat di dahi, kuduk, tengkuk dan di pipi.
8.      Setelah upacara ngerik, maka pada malam hari diadakan upacara malam Midodareni. Calon pengantin putra datang ke rumah pengantin putri dan selanjutnya calon pengantin putra menjalani upacara nyantri.
9.      Pada pagi harinya atau sore harinya dilangsungkan upacara ijab kabul yaitu meresmikan kedua insan antara pria dan wanita yang memadu kasih telah sah menjadi suami istri.
10.   Sehabis upacara ijab kabul dilangsungkan upacara panggih atau temon yaitu pengantin putra dan pengantin putri ditemukan yang berakhir duduk bersanding di pelaminan.
11. Lima hari setelah akad nikah dan upacara panggih diadakan upacara sepasaran pengantin atau ngunduh mantu apabila disertai dengan pesta.
B.     RANGKAIAN UPACARA ADAT PENGANTIN JAWA
 Rangkaian upacara adat pengantin Jawa secara kronologis diuraikan dari awal sampai akhir sebagai berikut :
1.      Upacara siraman pengantin putra-putri
2.      Upacara malam midodareni
3.      Upacara akad nikah / ijab kabul
4.      Upacara panggih / temu
5.      Upacara resepsi
6.      Upacara sesudah pernikahan
 Makna rangkaian upacara tersebut secara perinci dapat dijelaskan sebagai berikut :
 1.      Upacara Siraman Pengantin Putra-putri
     Upacara siraman ini dilangsungkan sehari sebelum akad nikah (ijab kabul). Akad nikah dilangsungkan secara/menurut agama masing-masing dan hal ini tidak mempengaruhi jalannya upacara adat. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan pada upacara siraman adalah :
a)     Siraman Pengantin Putri
·         Pengantin putri pada upacara siraman sebaiknya mengenakan kain dengan motif Grompol yang dirangkapi dengan kain mori putih bersih sepanjang dua meter dan pengantin putri rambutnya terurai.
·         Yang bertugas menyiram pengantin putri adalah :
               Bapak dan Ibu pengantin putri, disusul Bapak dan Ibu pengantin putra, diteruskan oleh orang-orang tua serta keluarga yang dianggap telah pantas sebagai teladan. Siraman ini dilanjutkan dan diakhiri juru rias dan paling akhir adalah dilakukan oleh pengantin sendiri, sebaiknya pergunakan air hangat agar pengantin yang disirami tidak masuk angin.
 b)     Siraman Pengantin Putra
          Urut-urutan upacara siraman pengantin putra adalah sama seperti sirama pengantin putri hanya yang menyiram pertama adalah Bapak pengantin putra.
Setelah upacara siraman pengantin selesai, maka pengantin putra ke tempat pemondokan yang tidak jauh dari tempat kediaman pengantin putri. Dalam hal ini pengantin putra belum diizinkan tinggal serumah dengan pengantin putri. Sedangkan pengantin putri setelah siraman berganti busana dengan busana kerik, yaitu pengantin putri akan dipotong rambut bagian depan pada dahi secara merata.
  2.      Upacara Midodareni
     Dalam upacara midodareni pengantin putri mengenakan busana polos artinya dilarang mengenakan perhiasan apa-pun kecuali cincin kawin. Dalam malam midodareni itulah baru dapat dikatakan pengantin dan sebelumnya disebut calon pengantin. Pada malam itu pengantin putra datang ke rumah pengantin putri. Untuk model Yogyakarta pengantin putra mengenakan busana kasatrian yaitu baju surjan,blangkon model Yogyakarta, kalung korset, mengenakan keris, sedangkan model Surakarta, pengantin putra mengenakan busana Pangeran yaitu mengenakan jas beskap, kalung korset dan mengenakan keris pula. Untuk  mempermudah maka pengantin putra pada waktu malam midodareni boleh juga mengenakan jas lengkap dengan mengenakan dasi asal jangan dasi kupu-kupu. Kira-kira pukul 19:00, pengantin putra datang ke rumah pengantin putri untuk berkenalan dengan keluarga dan rekan-rekan pengantin putri. Setibanya pengantin putra, maka terus diserahkan kepada Bapak dan Ibu pengantin putri. Setelah penyerahan diterima pengantin putra diantarkan ke pondok yang telah disediakan yang jaraknya tidak begitu berjauhan dengan rumah pengantin putri. Pondokan telah disediakan makanan dan minuman sekedarnya dan setelah makan dan minum ala kadarnya maka pengantin putra menuju ke tempat pengantin putri untuk menemui para tamu secukupnya kemudia pengantin putra kembali ke pondokan untuk beristirahat. Jadi jangan sampai jauh malam, karena menjaga kondisi fisik seterusnya. Jadi kira-kira pukul 22:00 harus sudah kembali ke pondokan. Hal ini perlu mendapatkan perhatian sepenuhnya agar jangan sampai pengantin menjadi sangat lelah karena kurang tidur. Setelah upacara malam midodareni ini masih disusul dengan upacara-upacara lainnya yang kesemuanya itu cukup melelahkan kedua pengantin.
 Pada malam midodareni pengantin putri tetap di dalam kamar pengantin dan setelah pukul 24:00 baru diperbolehkan tidur. Pada malam midodareni ini para tamu biasanya berpasangan suami istri. Keadaan malam midodareni harus cukup tenang dan suasana khidmat, tidajk terdengar percakapan-percakapan yang terlalu keras.
Para tamu bercakap-cakap dengan tamu lain yang berdekatan saja. Pada pukul 22:00 - 24:00 para tamu diberikan hidangan makan dan sedapat mungkin nasi dengan lauk-pauk opor ayam dan telur ayam kampung, ditambah dengan lalapan daun kemangi.
      Perlengkapan yang diperlukan untuk upacara panggih :
1)     Empat sindur untuk dipakai oleh kedua belah orang tua
2)     Empat meter kain mori putih yang dibagi menjadi dua bagian masing-masing dua meter
3)     Dua lembar tikar yang akan dipergunakan untuk duduk pengantin putri pada waktu di rias
4)     Dua buah kendhi untuk siraman pengantin putra-putri
5)     Dua butir kelapa gading yang masih utuh dan masih pada tangkainya
6)     Sebutir telur ayam kampung yang masih mentah dan baru
7)     Sebungkus bunga setaman
8)     Satu buah baskom / pengaron yang telah ada air serta gayungnya untuk upacara membasuh kaki pengantin putra
    9)     Dua helai kain sindur dengan bentuk segi empat digunakan pada upacara tanpa kaya atau kantongan yang terbuat dari kain apa saja.
10) Daham klimah yaitu upacara makan bersama-sama (dulangan) atau suap-suapan pengantin putri menyuapi pengantin putra dan sebaliknya
11) Dahar klimah, pada upacara dahar klimah makanan yang perlu disiapkan adalah : nasi kuning ditaburi bawang merah yang telah digoreng dan opor ayam. Pada upacara tanpa kaya yang perlu disediakan ialah : kantongan yang berisi uang logam, beras, kacang tanah, kacang hijau, kedelai, jagung dan lain-lain.
  3.      Upacara Akad Nikah
       Upacara akad nikah dilaksanakan menurut agamanya masing-masing. Dalam hal ini tidak mempengaruhi jalannya upacara selanjutnya. Bagi pemeluk agama Islam akad nikah dapat dilangsungkan di masjid atau mendatangkan Penghulu. Setelah akad nikah diberikan petunjuk sebagai berikut : Setelah upacara akad nikah selesai,pengantin putra tetap menunggu di luar untuk upacara selanjutnya. Yang perlu mendapatkan perhatian ialah selama upacara akad nikah pengantin putra boleh mengenakan keris (keris harus dicabut terlebih dahulu) dan kain yang dopakai oleh kedua pengantin tidak boleh bermotif hewan begitu pula blangkon yang dipakai pengantin putra. Bagi pemeluk agama Katholik atau Kristen akad nikah dilangsungkan di gereja. Untuk pemeluk agama Katholik dinamakan menerima Sakramen Ijab, baik agama Islam maupun Katholik atau Kristen pelaksanaan akad nikah harus didahulukan dan setelah selesai Ijab Kabul barulah upacara adat dapat dilangsungkan.
  4.     Upacara Panggih
     Bagian I
     Upacara balangan sedah / lempar sirih yaitu pengantin putra dan pengantin  putri saling melempar sirih, setelah itu disusul dengan berjabat tangan tanda saling mengenal.
      Bagian II
     Upacara Wiji Dadi
     Sebelum pengantin putra menginjak telur, pengantin putri membasuh terlebih dahulu kedua kaki pengantin putra.
      Bagian III
     Upacara sindur binayang yaitu pasangan pengantin berjalan dibelakang ayah pengantin putri, sedangkan ibu pengantin putri dibelakangnya pengantin tersebut. Hal ini mempunyai makna Bapak selalu membimbing putra-putrinya menuju kebahagiaan, sedangkan Ibu memberikan dorongan “tut wuri handayani”
      Bagian IV
     Timbang (Pangkon) dan disusul upacara tanem
     Upacara tanem yaitu Bapak pengantin putri mempersilahkan duduk kedua pengantin di pelaminan yang bermakna bahwa Bapak telah merestui dan mengesahkan kedua pengantin menjadi suami istri.
      Bagian V
     Upacara tukar kalpika yang disebut juga tukar cincin yaitu memindahkan dari jari manis kiri ke jari manis kanan dan dilaksanakan saling memindahkan. Hal ini mempunyai makna bahwa suami istri telah memadu kasih sayang untuk mencapai hidup bahagia sepanjang hidup.
     Bagian VI
     Kacar-kucur (tanpa kaya)
     Upacara  kacar-kucur atau disebut guna kaya yang bermakna bahwa hasil jerih payah sang suami diperuntukkan kepada sang istri untuk kebutuhan keluarga.
      Bagian VII
     Kembul Dhahar “ Sekul Walimah “
     Upacara kembul dhahar yaitu kedua pengantin saling suap-suapan secara lahap. Hal ini bermakna bahwa hasil jerih payah dan rejeki yang diterimanya adalah berkat Rahmat Tuhan dan untuk mencukupi keluarganya. Segala suka dan duka harus dipikul bersama-sama.
      Bagian VIII
     Pengantin putra dengan sabar menunggu pengantin putri menghabiskan Dhaharan.Biasanya Ibu lebih sayang untuk membuang makanan. Hal ini bermakna agar Tuhan selalu memberikan rezeki dan selalu mensyukuri rezeki yang diterimanya.
      Bagian IX
     Upacara Mertuwi
     Bapak dan Ibu pengantin putra datang dijemput oleh Bapak dan Ibu pengantin putri untuk menjenguk pengesahan perkawinan putrinya. Setelah dipersilahkan duduk  oleh Bapak dan Ibu pengantin putri lalu dilangsungkan upacara sungkeman. Apabila   Ayah atau Bapak pengantin putra telah meninggal dunia, maka sebagai gantinya   yaitu kakak pengantin putra atau pamannya.
      Bagian X
     Upacara Sungkeman
     Upacara sungkeman / Ngebekten yaitu kedua pengantin berlutut untuk menyembah  kepada Bapak dan Ibu dari kedua pengantin. Dalam hal ini bermakna bahwa kedua pengantin tetap berbakti kepada Bapak / Ibu pengantin, serta mohon doa restu agar Tuhan selalu memberikan rahmatnya.
 ARTI ISTILAH DAN MAKNANYA
 1.     TARUB    
 Kata benda yang menunjukan pengertian dari satu “ bangunan darurat “ yang khusus didirikan pada dan di sekitar rumah orang yang mempunyai hajat menyelenggarakan peralatan perkawinan / Ngunduh Temanten, dengan tujuan rasional dan irrasional.
 Rasional   : Membuat tambahan ruang untuk tempat duduk tamu dan lain-lainnya
Irrasional  : Karena pembuatan tarub menurut adat harus disertai dengan macam macam persyaratan khas yang disebut srana-srana / sesaji, maka yang demikian itu mempunyai tujuan “ keselamatan lahir batin “ dalam memangku-kerja-perkawinan itu dalam arti luas
Adapun Srana Tarub yang pokok disebut tuwuhan dengan maksud supaya berkembang di segala bidang bagi kedua mempelai terdiri dari :
a)     Sepasang pohon pisang-raja yang berbuah, maknanya secara singkat adalah :
·         Agar mempelai kelak menjadi pimpinan yang baik bagi keluarganya/ lingkungannya/bangsanya
·         Seperti pohon pisang dapat tumbuh dan hidup di mana saja maka diharapkan bahwa mempelai berdua pun dapat hidup dan menyesuaikan diri di lingkungan mana pun juga dan berhasil (berubah)
 b)     Sepasang Tebu Wulung
          Tebu      : antipening kalbu = tekad yang bulat
          Wulung  : mulus = matang
          Maknanya, dari mempelai diharapkan agar segala sesuatu yang sudah dipikir matang-matang dikerjakan/dilaksanakan dengan tekad yang bulat, pantang mundur (“mulat sarira hangrasawani”)
 c)      Dua janjang kelapa gading yang masih muda
          Kelapa gading  : Kelapa yang kulitnya kuning
          Kelapa muda    : cengkir
          Maknanya, kencengin pikir = kemauan yang keras
          Dari mempelai diharapkan agar memiliki “kemauan yang keras”  untuk dapat mencapai tujuan
 d)     Daun : beringin
         Daun        : Maja
         Daun        : Koro
         Daun        : Andong
         Daun        : Alang-alang
         Daun        : Apa-apa (daun dadap srep)
         Maknanya, diharapkan dari mempelai kelak dapat tumbuh seperti pohon beringin, menjadi pengayom lingkungannya dan agar semuanya dapat berjalan dengan selamat sentosa lahir batin (aja ana-sekoro-koro kalis alangan sawiji apa)
 2.     SRANA/SESAJI TARUB
 Menunjukkan pengertian baik kata benda maupun kata kerja, yang berarti membuat/mempersiapkan semua persyaratan barang-barang baik yang berujud (materiil) maupun yang tidak berujud (spirituil) yang diperlukan untuk pelengkap syarat pembuatan tarub sesuai dan menurut kepercayaan dan pengertian tradisi/adat.
 3.     NGUNDUH ATAU NGUNDUH TEMANTEN
 Kata-kata Ngunduh = memetik yang dilakukan khusus oleh orang tua dari mempelai lelaki, yang berarti mendatangkan mempelai berdua di rumah orang tua mempelai lelaki, biasanya setelah 5 hari anaknya lelaki itu berada di rumah mertuanya sejak hari dilangsungkan perkawinannya, untuk secara bergantian dirayakan di rumah orang tuanya sendiri (orang tua mempelai lelaki) dengan maksud untuk memperkenalkan mempelai kepada keluarganya dan handai taulan.
 4.     SRANA NGUNDUH
 Idem dengan No.2 di atas, untuk ucapan “ Ngunduh Tematen “
 5.     PETANEN ATAU KROBONGAN
Kata benda petanen atau krobongan yakni kamar tengah dari dalem = bangunan rumah yang dibelakang. Bangunan rumah yang didepan namanya Pendapa
Kamar tengah yang disebut petanen ini biasanya selalu dihiasi atau bahasa Jawa di robyong. Tempat yang dirobyong itu lalu disebut Krobongan . Petanen atau juga disebut krobongan ini adalah kamar yang disediakan untuk DEWI SRI yaitu dewinya pertanian (Jawa = petanen)
Dalam upacara perkawinan, maka setelah temu atau panggih, kedua mempelai lalu duduk di muka petanen ini. Disitulah dilakukan ucapan-ucapan kelanjutannya, misalnya: nimbang, kacar-kucur atau sungkem dan lain-lainnya. Sesuai dengan perkembangannya sekarang krobongan disebut pelaminan yang bentuknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
 6.     KEMBAR MAYANG
 Terdiri dari 2 kata,
Kembar        : dua benda yang sama bentuknya dan ukurannya
Mayang        : bunga pohon pinang
Jadi artinya, sepasang benda yang dirangkai dalam bentuk tertentu dengan bunga pinang guna keperluan mempelai. Akan tetapi arti sebenarnya dimaksudkan disini melambangkan suatu “pohon hayat” dalam bentuk sekaligus berfungsi sebagai dekorasi.
 7.     TEMANTEN ATAU PENGANTIN
Artinya Mempelai
 8.     PRABOT TEMANTEN
 Segala sesuatu yang perlu bagi seorang temanten, terutama sekali mengenai pakaian tradisional temanten menurut adat
 9.     “ PINISEPUH “  PUTRI
Dalam arti sempit :
Ahli waris wanita yang dekat hubungannya dengan keluarga dan yang kedudukannya dalam lingkungan keluarga itu lebih tua dari sang mempelai, misalnya :
·         Dari garis lurus ke atas (adscendenten) Ibu, nenek putri, eyang buyut dan seterusnya
·         Dari garis samping Kakak perempuan, bibi (tante, oudtante) dan seterusnya.
Dalam arti luas :
Yang disebut di atas + wanita-wanita lain yang tua usianya dan sangat akrab hubungannya dengan keluarga yang bersangkutan (bahasa Jawa disebut Kewula-keraga)
 10.“ PINISEPUH “ KAKUNG
 Idem dengan No.9 diatas tetapi untuk pengertian lelaki
 11.NGANTHI
 Kata kerja Nganthi berarti membimbing fisik = mendampingi dan memegangi tangan dari sang mempelai
 12.SINDUR
Semacam selendang yang warnanya merah bertepikan putih, melambangkan persatuan dari unsur bapak dan unsur ibu. Sindur ini dalam upacara perkawinan :
a)     Dipakai sebagai ikat pinggang oleh orang tua (bapak dan ibu) yang menyelenggarakan peralatan mantu.
b)     Dipakai sebagai salah satu sarana dalam upacara perkawinan yaitu setelah mempelai bergandengan tangan (Jawa : kanthen) berjalan menuju ke tempat duduk pengantin, maka salah seorang pinisepuh putri (biasanya ibunda mempelai) mengikuti berjalan dekat di belakang mempelai berdua sambil menyelimutkan sehelai sindur sebagai lambang persatu paduan jiwa raga suami istri yang abadi.
Sindur diartikan kependekan dari sin = isin/malu, Ndur = mundur (malu untuk mundur)
Bahwa tujuan perkawinan antara lain adalah untuk meneruskan kehidupan generasi melalui pembangunan keluarga sejahtera.
Segala rintangan/hambatan tidak akan melemahkan keyakinan dirinya terhadap apa yang harus diperjuangkan dalam usaha membangun suatu keluarga sejahtera, terlebih-lebih dengan disertai do’a restu orang tua kedua pengantin, maka apapun yang akan dihadapinya akan terus diperjuangkan sampai terwujudnya harapan serta cita-citanya tersebut.
 13.NGABAKTEN / SUNGKEM
 Suatu kewajiban moral tradisional bagi sang mempelai untuk secara fisik menunjukkan/menyatakan bakti dan hormatnya lahir batin kepada orang tua dan para pinisepuhnya dengan gerakan tertentu, seraya mohon do’a restu dan mendapat ridho dari Tuhan agar selalu mendapatkan bimbingan dan petunjuk di dalam membangun keluarga dan berguna bagi Nusa dan Bangsa.
Pada saat akan sungkem kedua pengantin melepas selop dan keris yang dikenakan pengantin pria. Hal ini dimaksudkan bahwa kedua mempelai dengan sepenuh hati telah siap akan bersujud kepada orang tua pengantin dan pinisepuh
 14.GANTI BUSANA
 Upacara mempelai untuk sementara waktu meninggalkan tempat duduknya berjalan menuju kamar rias untuk ganti pakaian dengan diiringi oleh beberapa orang pinisepuh, saudara-saudaranya (laki-laki dan perempuan) dan lain-lain anggota keluarga terdekat yang ditunjuk.
 15.BESAN
Sebutan yang dipakai untuk menunjukkan hubungan kekeluargaan antara orang tua dari mempelai lelaki dan orang tua dari mempelai wanita.
 16.MERTUA
 Sebutan yang dipakai untuk menunjukkan hubungan kekeluargaan bagi mempelai lelaki terhadap orang tua dari mempelai wanita dan bagi mempelai wanita terhadap orang tua dari mempelai lelaki (parent in laws)
 17.AMONG TAMU
Tugas khusus untuk menerima dan mengantar para tamu ke tempat duduknya, menurut ketentuan protokol.
 18.GAMELAN
Seperangkat (unit dari salah satu macam alat-musik Indonesia) disiapkan untuk lebih menyemarakkan suasana
 19.KERIS
 Suatu benda semacam senjata-tajam yang mempunyai bentuk khusus dan dianggap keramat berfungsi antara lain sebagai salah satu perabot dari pada pakaian kebesaran secara adat Jawa.
20.PAKAIAN SIKEPAN CEKAK / ALIT
Salah satu model pakaian pengantin yang dipakai setelah kembali dari ganti menuju ketempat duduknya. Model ini yang biasa digunakan oleh para pangeran saat upacara2  kebesaran.
 21. DIJEJERKAN
 Diatur agar mempelai berdua berdiri berjajar.
 22.  PAMITAN
 Para tamu mohon diri kepada orang tua kedua mempelai untuk pulang kembali ke tempat masing2.
 23. NANDUR
Gerakan dari orang tua laki-laki untuk mendudukan kedua pengantin di pelaminan dengan menekankan tangan di pundak pengantin pria dan wanita yang dapat diartikan bahwa setiap orang tua dengan kasih sayangnya tetap akan selalu memberikan petunjuk2 dan pengarahan yang benar dengan harapan hendaknya segala sesuatu yang dilaksanakan selalu didasari budi yang baik dan luhur.
 Nandur = menanam
Dimaksukdkan bahwa akan tumbuh hidup subur dan dari kesuburan tersebut dihasilkan buah yang bagus dan berguna.
 24.IMBAL WICARA
Dialog/percakapan yang dilaksanakan pada saat serah terima kedua pengantin dari orang tua pengantin putri kepada orang tua pengantin putra
 25. BOMBYOK KERIS / KOLONG KERIS
 Suatu kelengkapan busana kebesaran bagi pengantin yang terdiri dari untaian / rangkaian bunga dan mawar dengan warna putih dan merah yang artinya sama dengan arti sindur
 26. OMBYONG
Sebutan bagi rombongan pengiring pengantin yang biasanya terdiri dari para keluarga terdekat pengantin pria/wanita yang telah ditentukan
 27. NGARAK TEMANTEN
 Kata kerja “ngarak” berarti membimbing secara bersama-sama dalam bentuk rombongan
 28. MENGAPIT
Dapat diartikan mendampingi di sebelah kanan dan kiri yang dapat dilakukan dalam posisi duduk, berdiri atau berjalan
 29. BUCALAN = BUANGAN
Kata benda dari sesaji yang akan ditempatkan / dibuang di tempat-tempat tertentu (route perjalanan dan kompleks penyajiannya telah diuraikan di depan / skenario)
Kata kerja dari pelaksanaan penyajian sesaji bucalan gecok mentah dengan maksud mengharapkan partisipasi dari para bahu rekso (makhluk yang tidak kelihatan) maupun yang kelihatan, untuk menjaga jalan-jalan yang akan dilalui pengantin dan juga ditempat-tempat yang akan dipakai tempat upacara/perhelatan dan diminta supaya tidak mengganggu pengantin sekalian, beserta orang tuanya, keluarganya, pengiringnya, tamu-tamunya, para panitia dan pembantunya dan lain-lain. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan hajat Ngunduh Temanten tersebut selamat hingga upacara selesai dengan paripurna khususnya kepada pengantin sekalian diberikan rakhmat, sejahtera dan bahagia lahir batin
 30. SIRAMAN
 Menunjukkan pengertian kata benda dari kata “siram” yang berarti suatu perbuatan tradisional mandi bagi setiap orang calon mempelai wanita maupun pria menjelang akad nikah.
Untuk keperluan ini diperlukan pula syarat-syarat atau sesaji-sesaji yang disebut “sirna siraman” yang ujudnya sesuai dengan uraian pada skenario.
Upacara siraman (mandi mempelai) ini dipimpin dan dilakukan/dibantu oleh para ahli waris terdekat yang sudah tua usianya baik dari garis bapak maupun dari garis ibu (sesuai masyarakat adat yang bersifat ke bapak ibuan = perenteel)
 31. PAES
Menunjukkan kata benda dari kata kerja maesi, yang berarti merias dahi calon mempelai wanita oleh seorang wanita ahli dalam tugas ini, agar wajah si calon mempelai wanita terlihat lebih cantik lagi mirip gambaran wajah seorang bidadari.
 32. KEMBANG SETAMAN
Beberapa macam bunga yang dicampur satu dalam sebuah tempat/wadah yang berisi air tawar
  Upacara Resepsi
 Resepsi ialah pertemuan atau jamuan yang diadakan untuk menerima tamu pada pesta perkawinan, pelantikan dan lain sebagainya. Resepsi pesta perkawinan dapat dilaksanakan di rumah sendiri ataupun di gedung pertemuan. Dikota-kota besar terutama seperti di Jakarta resepsi-resepsi perkawinan dilangsungkan di gedung-gedung pertemuan. Hal ini sehubungan dengan rumah sendiri tidak dapat menampung para tamu yang berdatangan, disamping rumahnya sendiri sempit dan tidak mempunyai halaman secara luas. Cara pelaksanaan resepsi baik di rumah maupun di gedung selanjutnya dapat diatur sebagai berikut :
 Resepsi diirumah
Resepsi di rumah dapat diselenggarakan beberapa saat setelah upacara adat selesai. Dalam resepsi ini dapat diadakan pengambilan foto-foto bersama keluarga dan rekan-rekan pengantin sekalian.
Setelah selesai pengambilan foto tersebut kemudian masih diteruskan “upacara kirab”. Sementara para tamu menikmati hidangan yang tersedia, Kirab Pengantin ialah pengantin putra dan putri diarak-arak masuk ke kamar pengantin untuk berganti pakaian / busana dari busana kebesaran berganti busana “kasatrian”.
Pada upacara kirab tersebut didahului dengan seorang sebagai penunjuk jalan yang biasa disebut Cucuking Lampah atau Canthang Balung. Cucuking Lampah hanya berjalan biasa sesuai dengan irama gending yang mengiringi, sedangkan Canthang Balung diselingi dengan menari.
Iring-iringan pada waktu kirab ialah :
1.      Paling depan adalah cucuking lampah / canthang balung / subamanggala
2.      Dua orang perjaka yang disebut Satria Kembang dan biasanya diambil dari adik pengantin putri atau putra atau keluarga terdekat
Sebelum acara perkawinan dimulai  ada acara budaya  sesaji secara tradisional yaitu :
1.     Sesaji Bucalan yang terdiri dari :
A.    “ Rasulan Jangkep “ (rasulan lengkap) yang terdiri dari :
-        Nasi gurih dengan lauknya yaitu ingkung ayam jantan
-        Lalapan
-        Rambak (krecek/krupuk kulit)
-        Kedelai hitam
-        Pisang raja dua sisir yang sudah ranum dan masih utuh
-        Kembang boreh
-        Kemenyan dan madu
                      Catatan :
           Selamatan ini khusus ditujukan kepada para Rasul Allah dan Nabi
 B.     “ Asahan Jangkep “ (asahan lengkap) yang terdiri dari :
-        Nasi putih dengan lauknya bermacam-macam
-        Ketan kolak dan apem
          Catatan :
         Selamatan ini khusus ditujukan kepada leluhur dari kedua calon pengantin
         yang telah mendiang.
 C.     “ Tumpengan Sega Janganan “ ( nasi urapan)D. Jajan Pasar  E Kembang SetamanF.Tumpeng Robyong
     Catatan :
    Selamatan yang tersebut pada C, D, E dan F dari atas khusus ditujukan
    kepada Saudara yang mendampingi kedua calon pengantin pada waktu lahir.
    (Jawa : Kakang kawah, adi ari-ari : “meruhi sedulur sing lair barang sedino”)  
    bahasa Indonesia, memberitahukan kepada Saudara yang lahir bersamaan   
    harinya.
G.    “ Golong Jangkep “ (Nasi golong lengkap) terdiri dari :
-        Nasi dengan lauk pecel ayam
-        Sayur menir (bahasa Jawa : pecel, pitik, jangan menir)
            Catatan :
      Selamatan ini ditujukan kepada cikal bakal yang menjaga bumi, sebagai
      tanda pemberitahuan bahwa kita akan mencangkul di beberapa tempat
      untuk memasang tarub.
 H.    “ Pisang Sanggan “ terdiri dari :
-        Pisang raja dua sisir yang sudah ranum ( hampir matang)
-        Gula kelapa dua sisir (satu tangkep)
-        Kelapa utuh satu biji
-        Beras
-        Kinang Jangkep
-        Kembang wangi yaitu bunga melati, mawar, kenanga atau kanthil
          Catatan :
         Pisang ini melambangkan kegotongroyongan dari semua sanak saudara,
         handai taulan sehingga akan mempermudah dan memperlancar jalannya
         upacara adat
 I.       “ Bucalan gecok mentah “ terdiri dari :
1.     “ Pala pendem ”, yaitu buah yang tumbuhnya di dalam tanah seperti singkong, ubi rambat, kacang tanah dan lain-lain
2.     “ Pala kesampar “, yaitu buah yang tumbuhnya melekat diatas tanah, misalnya ketimun, semangka dan lain-lain
3.     “ Pala Gemantung “, yaitu buah yang tumbuhnya melekat pada pohon sebelah atas , misalnya pepaya, mangga, rambutan dan lain-lain
4.     Kacang-kacangan 5 macam :
               Kacang merah, kacang putih, kacang hijau, kacang tanah, dan jagung
5.     “ Gereh petek “ (ikan asin)
6.     “ Kluwak “ dan kemiri
7.     Tumpeng 5 macam ;
       Tumpeng merah, tumpeng hitam, tumpeng kuning, tumpeng putih dan tumpeng hijau
8.     “ Jenang merah, jenang putih, jenang katul, (sengkolo) “
9.     Telur ayam mentah satu biji
10. “ Empon-empon sak pepake “ (rempah-rempah lengkap)
               misalnya dlingo, bangle, lempuyang, kencur dan lain-lain
11. Kembang boreh, kemenyan madu
 12. “ Gecok mentah “, terdiri dari bumbu dapur, daging mentah dan kelapa irisan
13. Rokok, sirih diikat (gantal sirih), uang logam (lima puluh rupaih, seratus rupiah)
-        Selesai upacara selamatan pokok, dilakukan bucalan di sepanjang jalan yang akan dilalui pengantin
 2.     Pasang Tarub dan Tuwuhan :
     Hari, tanggal pelaksanaan pasang tarub telah ditentukan :
-        Selamatan pasang tarub :
a)     “ Rasulan Jangkep “ (rasulan lengkap)
b)     “ Asahan Jangkep “ (asahan lengkap)
c)      “ Tumpeng Sego Janganan “ (tumpeng nasi urapan)
d)     “ Jajan Pasar “
e)     “ Kembang Setaman “ (bunga setaman)
f)       “ Tumpeng Robyong “
g)     “ Golong Jangkep Lawuhan “ (nasi golong lengkap)
h)     “ Pisang Sanggan “
    -        Selesai upacara selamatan pasang tarub, dilanjutkan dengan menaikkan
          bleketepe*  oleh petugas yang di tunjuk sebagai tanda simbolik bahwa di
          tempat itu akan diselenggarakan hajat ngunduh temanten
-        Pasang tuwuhan di tempat yang telah ditentukan
-        Tuwuhan terdiri dari :
a)     Tandan pisang raja yang hampir matang berikut pohonnya
b)     Tangkai buah kelapa gading
c)      “ Tebu wulung “ (tebu ungu)
d)     Daun Timbul (kluwih)
e)     Daun Alang-alang
f)       Daun Kemuning
g)     Daun girang
h)     Buah Maja
i)       Daun Dadap Serep
j)       Padi
k)     Daun Beringin
l)       Daun Koro
m)  Daun Apa-apa
n)     Anyaman Daun Kelapa
 *bleketepe = anayaman dari daun nyiur yang digunakan untuk atap atau dinding  khususnya untuk hajatan
  3.     Siraman
-        Penyiapan “ Sajen “ dan syarat “ Kosokan “ siraman di rumah pengantin putra
a)     Sesaji (sajen) siraman :
·        “ Tumpeng sego janganan “ (nasi tumpeng urapan)
·        “ Jajan pasar “
·        “ Nasi tumpeng robyong “
·        Ayam hidup
·        “ Cengkir gading “ 2 buah, dimasukkan ke dalam kembang setaman yang akan dipakai mandi (siram) pengantin. Dimasukkan juga uang 5 sen.
·        “ Kendi “ berisi air
 b)     Alas Siraman :
·        “ Klasa bangka “ baru
·        Daun Apa-apa
·        Daun Koro
·        Daun Timbul (kluwuh)
·        Daun Dadap Serep
·        Daun Alang-alang
·        Kain Letrek
·        Kain Sindur
·        Kain Yuyu Sekandang
·        Kain Lurik Puluh Watu
·        Kain Mori (lawon)
·        Sembagi
 c)      “ Kosokan “ (sarana untuk menggosok badan)
·        Tepung Beras 7 warna
·        Mangir
·        Daun Kemuning
·        Air Satu Klenthing*
·        “ Ratus “ dengan anglonya
           Jam 11:00 :
-        Siraman pengantin putra di rumah pengantin putra sendiri
-        Siraman pengantin putri di rumah keluarga calon pengantin putra yang terdekat
 4.     Majemukan
     Tempat pelaksanaan : Jam 19:00
 -        Penyajian rasulan tersebut di :
a)     Dekat kamar pengantin
b)     Dekat kamar pengantin
 -        Pengantin, besan dan pengiring berjalan pelan-pelan menuju ke pintu  masuk tempat upacara, dimana Bapak dan Ibu pengantin putra bersama saudara-saudara pengantin yang bertugas membawa sindur.
           Catatan : Iringan gending ; Monggang / Bende Lori
 -        Kurng lebih tiga langkah dari Bapak dan Ibu pengantin putra, iring  iringan pengantin berhenti disusul imbal wacana / dialog oleh bapak pengantin putri menyerahkan pengantin sejoli kepada bapak pengantin putra.
 -        Bapak pengantin putra menerima penyerahan pengantin sejoli dan  dilanjutkan dengan tata cara mangayu-hayu kedatangan kedua pengantin Hati ayam yang ada di dalam ingkung (ati pengasih) diambil dan dipersilakan  makan calon pengantin pria dan calon pengantin putri. Adapun rasulan selebihnya dimakan bersama oleh pinisepuh yang wungon (tirakatan)
 -        Selesai upacara ngunduh pengantin, sesampainya kedua pengantin di rumah pengantin putra, ati pengasih dipersilakan makan oleh kedua  pengantin
 5.     Paes
-        Penyiapan sarana paes pengantin putri di rumah pengantin putra.
          “ Sajen paes “ terdiri dari :
a)     Pisang Sanggan
b)     Tumpeng putih
c)      Ayam panggang
d)     Jajan pasar
e)     Klasa bangka untuk tempat duduk pengantin
 ACARA POKOK
(Jadwal waktu ini diatur sedemikian rupa agar dapat berjalan lancar sebagai contoh waktu sbb)
1.     Penjemputan pengantin :
     08:30          : Rombongan penjemput pengantin dan besan yang dipimpin
     09:00          : Besan tiba dirumah pengantin putra
     09:25          : Pengantin, besan beserta pengiring berangkat menuju tempat upacara
 2.     Upacara penerimaan pengantin :
    08:30          : Bapak dan Ibu pengantin putra di tempat upacara
                     Catatan : Iringan gending ketawang puspawarna
     09:00          : -  Para undangan mulai berdatangan
                        Catatan : Iringan gending Mangayu-hayu (gending bonangan   dan Klenengan )
                      -  Di tempat upacara di bawah tratag, teman-teman pengantin putra dengan berpakaian adat Jawa berdiri di kanan kiri jalan  yang akan dilewati pengantin dan rombongan
     10:00          : -  Kedua pengantin, besan dan pengiring tiba di depan tempat upacara
                     -  Setelah iring-iringan pengantin tiba di depan upacara, rombongan pengantin diatur secara rapi
                     -  Kembar Mayang mendahului masuk ke tempat upacara dan terus ditempatkan dekat pada Kembar mayang yang telah ada
Ucapan pada saat pasrahan kami contohkan:
1.     Pasrahan Pengantin
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
          Kawula nuwun, Bapak …….. sekadang ingkang dahat sadu ing budi, ingkang kapareng hanyelirani-hamakili penjenenganipun Bapak ……..
          Kawula pun ……… ingkang tinanggenah minangka dados duta panjenenganipun Bapak …….. sarimbit kaparenga unjuk atur: Ingkang sapisan kawula hangunjuaken suka-syukur ing Pangayuning Pangeran Ingkang Maha Agung, dene hama-rengaken kawula dalah panjenengan sadaya saged pinarak hanjumenengi pahargyan ing kalanggahan punika.
Kaping kalih Bapak ….. sarimbit hangutaraken salam taklim winantu pamuji rahayu katur dumateng panjenenganipun Bapak …… Jangkep kaping tiganipun, hanuhoni golong-gilingipun sadaya, anggenipun badhe hamurwani bebesanan, kanthi linambaran dhaupipun ingkang putra sesilih inggih punika ….. kaliyan putranipun Bapak ….. naminipun ……
          Ingkang kalenggahan punika, kawula sekadang sowan dinuta kinen hangirit calon pengantin : Anakmas …… katur ingarsanipun Bapak …… Ing salajengipun menggah kelampahaning ijab kabul saha panggih kawula sumanggaaken ing jengandhika.
          Minangka pari pumaning atur, bilih wonten sigug-kidhunging patrap saho kirang tata-kramanipun atur kawula, mugi panjenengan kapareng hangluberaken gunging samudra pangaksama, Satuhu.
 2.     Waluyan pasrahan (hanampi) panganten
           Karahayon, katentreman tuwin kabahagyan mugi kasarira ing penjenengan sarta para rawuh sadaya awit saking Sih, Tuntunan Pepadang saha Pangayomanipun Gusti Allah ingkang Maha Asih lan Maha Mirah.
          Kawula nuwun inggih. Kawula pun ….. ingkang hanyarirani makili panjanenganipun Bapak …. Ingkang tinanggenah kinen hanampi pasrahan ijengandika calon penganten anakmas …… ingkang badhe kadhaupaken kaliyan putranipun, sesilih …….
          Gurawalan panami kawula menggah pasrah ijengandika Calon penganten punika. Salajengipun ing wekdal ingkang sampun kangkah. Panganten kakalih badhe ijab kabul kadhaupaken terus pinahargya kanthi upacara panggih.
          Wasana sumangga ijengandika hanjumenengi lan mahargya ngantos paripurnaning Upacara.
          Bilih wonten kirang sekecaning palenggahan dalah kirang ecaning pasugatan kaparenga panjenengan sadaya paring pangapunten kanthi linambaran sih katresnan.
          Winantu ing pangesthi mugi pangeran tansah hangayomana dhumateng kawula sadaya. Satuhu.
 ARTI DAN TUJUAN MALAM MIDODARENI MENURUT TRADISI
           Midodareni berasal dari kata widodari yang berarti bidadari perempuan yang mempunyai paras elok atau cantik sekali (kata kiasan). Para bidadari bertempat di kahyangan menurut cerita dalam pewayangan. Seorang perempuan yang memiliki paras cantik sekali dapat diumpamakan seperti bidadari.
Malam midodareni adalah malam menjelang akad nikah dan biasanya akad nikah dilaksanakan pada pagi harinya. Dalam malam midodareni kedua calon pengantin (jejaka dan gadis yang akan menikah pada pagi harinya) sudah dapat disebut pengantin. Malam midodareni bertujuan untuk tirakatan memohon rahmat Tuhan dengan maksud agar dalam menyelenggarakan upacara tidak ada aral melintang.
Disamping itu agar para bidadari memberikan berkah kepada pengantin putri supaya menjadi cantik sekali. Hal ini ada kaitannya dengan pingitan. Apabila calon pengantin putri menjalani pingitan misalnya selama 7 hari dengan merawat badan paras muka, maka bila telah dirias pengantin putri seolah-olah menjadi sangat cantik. Banyak para tamu yang terpesona akan kecantikan pengantin putri (banyak yang “pangling”). Ini adalah berkat tradisi adanya pingitan.
           Malam Midodareni juga dimanfaatkan untuk mengadakan penelitian dan pemeriksaan segala sesuatu agar dalam pelaksanaan upacara dapat berjalan tertib dan lancar. Pada malam midodareni pengantin putra sudah berada di pondokan untuk melaksanakan nyantri. Nyantri artinya mengabdi terlebih dahulu kepada calon mertua sebelum melaksanakan upacara ijab kabul dan panggih.
Selama malam midodareni pengantin putra tidak boleh bertemu dengan pengantin putri.
 JALANNYA UPACARA MALAM MIDODARENI
Agar upacara berjalan dengan lancar maka perlu diatur sebagai berikut :
1.     Sehari sebelum upacara malam midodareni perlu dipersiapkan sesaji seperti siraman, sesaji kamar pengantin, sesaji malam midodareni, sesaji bucalan (buangan) dan sesaji dapur (pawon)
2.     Tuwuhan sudah harus dipasang di kanan kiri pintu gerbang atau pintu masuk
     halaman rumah orang tua calon pengantin putri.
3.     Sehari sebelum upacara akad nikah, panggih dan resepsi, calon pengantin putri mandi kramas sendiri sampai bersih sekali.
4.     Kira-kira pukul 15:00 atau 16:00 upacara siraman yaitu calon pengantin putri
     dimandikan dengan air kembang setaman.
5.     Setelah itu rambut kepala calon pengantin putri diratusi dengan dupa harum, bulu roma di bagian tengkuk dikerik dan athi-athinya dibentuk seperti hiasan rambut para bidadari. Sementara dari Juru Rias (Dukun Rias) masih menggunakan do’a-do’a khusus untuk kecantikan agar pengantin dirias betul-betul menjadi cantik sekali.
6.     Upacara khusus bila ada misalnya :
a)     Upacara Bubak Kawah yaitu bila pengantin putri adalah anak sulung
b)     Upacara Tumplak Punjen yaitu bila pengantin putri adalah anak bungsu
c)      Upacara Langkahan yaitu bila pengantin putri mendahului kakaknya baik kakak perempuan maupun kakak laki-laki.
7.     Bila upacara khusus itu telah selesai, pengantin putri bersama-sama para sesepuh yang hadir membantu malam tirakatan sampai pukul 24:00, dengan maksud agar dalam upacara perkawinan nanti mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada halangan apa pun. Menurut tradisi tepat jam 24:00 dengan perantaraan doa-doa sembaga dari Dukun Paes (Juru Rias) para bidadari akan menurunkan cahaya kecantikan kepada paras pengantin putri. Bagi para muda-mudi yang turut tirakatan bersama-sama calon pengantin putri akan menerima berkahnya (sawabnya) untuk segera mendapatkan jodoh seperti yang diharapkan oleh para muda-mudi.
8.     Tepat pukul 24:00 diadakan selamatan midodareni yang terdiri dari : nasi
     gurih, ingkung sepasang, satu gelas air putih bersih dengan kembang
     setaman.
 JALANNYA UPACARA PANGGIH
 Upacara panggih sering mempunyai perbedaan-perbedaan antara daerah satu dengan daerah lain di Jawa. Hal ini menurut adat istiadat setempat. Perbedaan-perbedaan ini disebabkan belum adanya pedoman secara baku dalam bentuk buku. Perbedaan-perbedaan tersebut sering menimbulkan perselisihan perasaan antara satu dengan lainnya, yang mungkin akan membawa pengaruh kurang baik dikemudian hari. Sering kali juga menjadi bahan pergunjingan terutama para ibu yang ikut aktif dalam pelaksanaan penyelenggaraan upacara panggih tersebut. Untuk mengurangi perbedaan-perbedan dan pergunjingan tersebut perlu diatur jalannya upacara panggih secara kronologis sebagai berikut :
 1.     Pengantin putra dan putri setelah dekat dengan tempat upacara panggih yang telah disiapkan, masing-masing diapit oleh dua pemuda untuk pengantin putra, dua pemudi untuk pengantin putri yang masing-masing membawa kembar mayang
2.     Bapak dan Ibu pengantin putri dipersilakan ikut menyaksikan di tempat panggih
3.     Upacara panggih dimulai dengan saling melempar sadak (sirih yang telah digulung dan diikat dengan benang) antara pengantin putra dan pengantin putri.
4.     Upacara menginjak telur yaitu pengantin putra menginjak telur ayam kampung sampai pecah dengan kaki kanan.
5.     Setelah pengantin putra menginjak telur disusul pengantin putri membasuh kaki kanan bekas menginjak telur dengan air kembang setaman.
 6.     Pengantin putra menerima persembahan dari pengantin putri dengan kedua tangan pengantin putra memegang pundak pengantin putri. Pengantin putri membasuh kaki pengantin putra merupakan persembahan.
7.     Pengantin putra memegang tangan pengantin putri untuk di ajak berdiri bersama-sama, memohon doa restu kepada para orang tua (pinisepuh) dan para hadirin yang biasanya dibacakan oleh Juru Rias. Pada saat itu kedua pengantin diharuskan memejamkan kedua matanya rapat-rapat.
8.     Upacara penukaran kembar mayang
9.     Pengantin putri dipersilakan berdiri di samping sebelah kiri pengantin putra dan kedua pengantin bergandengan tangan dengan jari kelingking mengelilingi tempat upacara menginjak telur satu kali.
10. Bapak dan Ibu pengantin putri menyelimuti kedua pengantin dengan kain sindur, dan setelah itu Bapak pengantin putri berdiri di depan kedua pengantin, sedangkan ibu pengantin putri tetap di belakang kedua pengantin. Kedua pengantin memegang ikat pinggang sang bapak dan sang ibu memegang pundak kedua pengantin, tangan kiri memegang pundak bagiakiri pengantin putri, sedang tangan kanan memegang pundak pengantin  putra. Setelah siap Bapak, kedua pengantin dan Ibu berjalan menuju ke tempat pelaminan dengan menurut irama Gending Kodok Ngorek. Upacara tersebut dinamakan sindur binayangan atau singkepa. Dalam hal ini mengandung arti bahwa Bapak yang berjalan di depan sebagai “ing ngarso sun tulada” sedangkan kedua pengantin berada ditengah sebagai “ing madyo mangun karso” dan belakang kedua pengantin adalah sang Ibu sebagai “tut wuri handayani”.
11. Upacara Bobot Timbang yaitu setelah Bapak sampai di pelaminan, maka Bapak duduk di pelaminan yang kemudian disusul kedua mempelai duduk di pangkuan Bapak yaitu pengantin putra duduk di paha kanan sedangkan pengantin putri duduk di paha sebelah kiri. Sementara itu sang Ibu berjongkok di depan kedua pengantin sambil tangan kanan memegang paha pengantin putri. Pada saat itu Ibu bertanya kepada Bapak “Abot endi Pakne?” (Berat mana Pak?) yang kemudian dijawab oleh Bapak “Pada abote!’ (sama beratnya!)
12. Upacara Tanem yaitu setelah upacara bobot timbang selesai Bapak berjalan melalui tengah antara pengantin putra dan putri, menuju kehadapan kedua pengantin. Setelah teratur rapi Bapak memberi sekelumit wejangan yang selanjutnya Bapak mendudukkan kedua pengantin di pelaminan dengan memegang pundak (bahu) mereka.]
13. Upacara Kacar-Kucur atau disebut juga upacara tanpa kaya yaitu setelah selesai upacara bobot timbang, Bapak dan Ibu duduk disebelah kiri pengantin putri yang kemudian disusul dengan upacara kacar-kucur yaitu pengantin putra berdiri memberikan isi kantongan kepada pengantin putri yang telah siap untuk menerimanya dengan kain khusus untuk itu dan setelah isi kantongan habis, kain itu untuk membungkus isi dari kantongan yang kemudian diberikan kepada Ibu untuk disimpan.
14.  Upacara Kembul Dahar atau bersantap bersama, yaitu kedua pengantin saling suap-suapan dengan nasi kuning atau nasi punar.
15.  Upacara Tilik Pitik atau disebut juga mertuwi yaitu upacara penerimaan besan. Setelah selesai upacara kembul dahar, Bapak dan Ibu pengantin putri berdiri dan kemudian berjalan menuju mendekati pintu untuk menjemput besan yaitu Bapak dan Ibu prngantin putra. Bapak dan Ibu pengantin putr mempersilahkan duduk di sebelah kanan pengantin putra dengan susunan : Kedua pengantin di tengah diapit oleh patah sakembaran, kemudian sebelah kanan kirinya Ibu-ibu pengantin dan pinggir kanan kiri adalah Bapak pengantin putra dan Bapak pengantin putri.
16.  Upacara Sungkeman yaitu setelah selesai upacara tilik pitik kemudian disusul dengan upacara sungkeman. Kedua pengantin menyampaikan sungkem sembah kepada Bapak dan Ibu dari kedua pengantin.
17.  Upacara Tukar Kalpika yaitu pengantin putra dan pengantin putri saling menukar cincin dari jari manis tangan kiri dipindahkan ke jari manis tangan kanan
18.  Upacara Minum Air Degan (kelapa muda) yaitu Ibu pengantin memberikan gelas berisi air degan kepada pengantin putra, sedangkan Ibu pengantin putra memberikan kepada pengantin putri. Selanjutnya disusul dengan minum bersama-sama. Semua mengucap seger sumyah.