Senin, 16 April 2012

Pakem Ilmu Pedalangan versi Karaton Surakarta

Pedalangan

PAKEM DAN LAKON PEWAYANGAN

Lakon-lakon pewayangan itu adalah bagian pokok dari pada pergelaran seni pedalangan, baik untuk waktu semalam suntuk maupun untuk 4 jam atau mungkin hanya waktu 2 jam, namun lakon tersebut kedudukannya tetap, ialah merupakan pokok dari pada pergelaran seni pedalangan.

Membicarakan tentang lakon-lakon pewayangan, disengaja atau tidak disengaja, tentulah menyangkut apa yang disebut “pakem” yang dalam bahasa Jawa berarti: pathokan, paugeran atau wewaton. 


   

   

Semua itu merupakan “pedoman” yang tak dapat diabaikan sama sekali. Yang disebut pakem itu meliputi 2 macam hal yang dalam pergelaran terpadu menjadi satu kesatuan, ialah : (1). Pakem tentang lakon; dan (2). Pakem yang mengenai tehnik perkeliran.

Pada waktu dipergelarkan dalam perkeliran dua pakem itu satu sama lain saling isi-mengisi dan jalin-menjalin, sehingga dapat mendatangkan suatu proses ceritera yang mengandung keindahan serta pendidikan yang tinggi.



LAKON-LAKON PEWAYANGAN

Lakon-lakon pewayangan yang begitu banyak dipergelarkan dewasa ini, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 bagian, ialah: 1. Lakon wayang yang disebut pakem; 2. Lakon wayang yang disebut carangan; 3. Lakon wayang yang disebut gubahan; 4. Lakon wayang yang disebut karangan.

Perinciannya sebagai berikut :

1.      Lakon pakem : yang disebut lakon-lakon pakem itu sebagian besar ceriteranya mengambil dari sumber-sumber ceritera dari perpustakaan wayang, misalnya : lakon Bale Sigala-gala, pandawa dadu, baratayuda, rama gandrung, subali lena, anoman duta, brubuh ngalengka dll.

2.      Lakon carangan : yang disebut carangan itu hanya garis pokoknya saja yang bersumber pada perpustakaan wayang, diberi tambahan atau bumbu-bumbu berupa carangan (carang Jw = dahan), seperti lakon-lakon : babad alas mertani, partakrama, aji narantaka, abimanyu lahir dll.

3.      Lakon gubahan : yang disebut gubahan itu ialah lakon yang tidak bersumber pada buku-buku ceritera wayang, tetapi hanya menggunakan nama dan negara-negara dari tokoh-tokoh yang termuat dalam buku-buku ceritera wayang, misalnya lakon-lakon: irawan Bagna, gambiranom, dewa amral, dewa katong dsb.

4.      Lakon karangan : yang disebut lakon karangan itu ialah suatu lakon yang sama sekali lepas dari ceritera wayang yang terdapat dalam buku-buku sumber ceritera wayang, misalnya lakon-lakon : praja binangun, linggarjati, dsb. Dalam lakon praja binangun tersebut diketengahkan nama tokoh-tokoh wayang seperti : ratadahana (Jendral Spoor), Kala Miyara (Meiyer), Dewi Saptawulan (Juliana), Bumiandap (Nederland) dsb.

Perlu pula diketahui bahwa lakon-lakon wayang yang disebut carangan, gubahan dan karangan itu, banyak juga lakon yang merupakan kiasan, misalnya : Lakon babad alas mertani mengandung kias assimilasi (perkawinan) falsafah Hindu dan Jawa. Demikian pula lakon-lakon seperti : pandawa Pitu, Pandawa Sanga, senggana racut dsb itu berisi kias dan maksud mengenai ilmu kebatinan (baca: kejawen).

SUMBER CERITERA WAYANG

Untuk mengetahui sesuatu lakon wayang itu apakah pakem atau bukan, tidaklah mudah, apabila orang tidak mengenal dan memahami sumber ceritera wayang.

Adapun sumber ceritera wayang itu ada 2 macam, ialah :

1.      Sumber-sumber ceritera wayang yang berupa buku-buku, misalnya : Maha Bharata, Ramayana, Pustaka Raja Purwa, Purwakanda dll.

2.      Sumber-sumber ceritera wayang yang semula berasal dari lakon carangan atau gubahan yang telah lama disukai oleh masyarakat. Sumber-sumber ceritera ini disebut “pakem purwa-carita” yang kini sudah banyak juga yang dibukukan, misalnya lakon-lakon: Abimanyu kerem, doraweca, Suryatmaja maling dlsb.

Perlu diketahui pula bahwa dalam hal sumber-sumber ceritera wayang inipun, seringkali terdapat cemooh-mencemooh satu sama lain. Asa yang beranggapan, bahwa hanya “serat pustaka raja” itu sajalah yang benar. Ada lagi yang berpendapat, bahwa hanya ‘serat purwakanda” itu saja yang benar dlsb. Anggapan-anggapan dan pendapat-pendapat yang demikian itu disebabkan oleh pengaruh adopsi ceritera wayang itu telah lama dan mendalam, sehingga menimbulkan keyakinan bahwa ceritera wayang yang dimuat dalam buku sumber ceritera wayang tersebut benar-benar ada dan terjadi dinegara kita ini. Padahal kalau ditilik dari sejarahnya, induk/sumber ceritera wayang itu, baik ramayana maupum maha bharata, kedua-duanya itu merupakan weda (kitab suci) agama hindu yang kelima, yang disebut panca weda. Kedua kitab tersebut memuat pelajaran weda yang disusun berujud ceritera.

Serat ramayana diciptakan oleh resi walmiki menceriterakan pelaksanaan karya Awatara Rama untuk mensejahterakan dunia. Serat Maha Bharata diciptakan oleh Resi Wyasa, menceriterakan pelaksanaan karya Awatara Krisna juga untuk mensejahterakan dunia.

SERAT PURWAKANDA

baca selengkapnya dan dapat simpan di file anda dalam bentuk pdf, baca disini




  • Pakem Ilmu Pedalangan versi Karaton Surakarta 




  • diposkan oleh: Paguyuban Pakoe Boewono
    http://pakoeboewono.blogspot.com

    0 komentar: