Jumat, 04 Mei 2012

Kuliner

Nasi Liwet




A. Deskripsi

Jika Anda berkunjung ke Kota Surakarta, atau sering dikenal dengan sebutan Solo, terasa kurang lengkap sebelum menikmati kelezatan Nasi Liwet, masakan khas dari Solo. Nasi Liwet adalah masakan yang terdiri dari nasi putih yang dimasak pulen dan dilengkapi dengan berbagai jenis sayur dan lauk, seperti sayur labu siam, ayam areh yang disuwir-suwir (diiris-iris) dengan bentuk memanjang, dan telur pindang. Nasi Liwet juga tambah nikmat jika disantap dengan kerupuk rambak, yaitu sejenis kerupuk yang terbuat dari kulit sapi.
Keberadaan masakan ini sudah cukup terkenal sampai ke kota-kota di sekitarnya, seperti Yogyakarta, Klaten, dan Boyolali. Nasi Liwet ini juga telah dikenal di Kota Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Banyak restoran-restoran di kota itu yang menjadikan Nasi Liwet khas Solo ini sebagai salah satu menu utamanya. 


B. Keistimewaan

Nasi Liwet terkenal dengan teksturnya yang pulen dan rasanya yang gurih. Rasa gurih ini muncul dari hasil rebusan nasi yang dimasak dengan cara dikaru (dituangi) dahulu dengan air santan kelapa. Nikmatnya Nasi Liwet ini juga semakin bertambah lezat bila ditambah dengan sayur dan lauk-pauk pendukungnya.
Keunikan lain dari masakan ini ialah disajikan dengan menggunakan daun pisang, baik sebagai pembungkus maupun suru-nya, yaitu sendok yang dibuat dari daun pisang. Konon, daun pisang tersebut dapat menambah rasa gurih pada masakan ini. Sebab selain bentuknya yang alami, daun pisang juga jauh dari kontaminasi zat-zat kimiawi.
Di samping rasanya yang lezat, masakan ini juga aman dikonsumsi bagi penderita kolesterol. Sebab, masakan ini tidak banyak mengandung minyak dan kandungan-kandungan berbahaya lainnya. Keistimewaan lainnya ialah Nasi Liwet tergolong menu jajanan yang murah, mudah didapatkan, dan sekaligus mengenyangkan. 


C. Lokasi

Untuk mendapatkan Nasi Liwet Solo ini, pelancong dapat berkunjung ke Kota Surakarta, Jawa Tengah. Banyak pedagang yang menjajakan masakan khas ini di setiap sudut kota. Selain itu, terdapat juga sejumlah pedagang Nasi Liwet di timur Pasar Klewer, yang biasa berjualan di waktu pagi.


D. Harga
 
Dengan mengeluarkan uang sebesar Rp 5.000—Rp 7.500, pengunjung dapat menikmati satu porsi Nasi Liwet yang terdiri dari Nasi Liwet, berbagai macam lauk, dan kerupuk rambak. Tak hanya itu, pengunjung juga akan mendapatkan segelas air minum gratis. Namun, jika pelancong membeli masakan ini di restoran-restoran, jangan kaget jika harganya dapat mencapai puluhan hingga ratusan ribu rupiah. 






Bukan hanya warung hik saja, yang biasanya digunakan untuk menikmati suasana malam kota Solo. Tapi banyak lho tempat tempat makan di Solo yang sudah terkenal dan top markotop. Pokok’e uenak tenan. Setelah kangen dan rindu dengan kota Solo, dan bila mudik atau mampir ke kota Solo, jangan lupa makanan khas solo yang pasti ngangeni.
Berikut ini adalah makanan dan tempat makan di Solo yang memanjakan lidah kita:
1. Nasi Liwet: ideran pagi hari, jam 5.00-10.00
2. Brambang Asem, Tumpang: Mekar Sari Jl.Honggowongso No.91 A, utara perempatan Pasar kembang, Barat jalan, jam 10.00-21.00
3. Sate Buntel: Pak Bejo Jl.kapten Mulyadi, Lojiwetan,
belakang/timur benteng. Jam 7.00-13.00
4. Sate Kambing:
  • Mbok Galak, Jl.Letjen Suprapto, Sumber, Nusukan, timur pertigaan, utara jalan, jam 7.00-14.00
  • Sate Darso,: selatan pertigaan sebelum pasar Pengging, barat jalan, dekat rumah Gogon, jam 7.00-14.00
5. Tengkleng, Genthan , Laweyan, selatan Tugu Pajang, dekat Pak Solet, emperan, jam 8.00-13.00
6. Sate kere/Sate sapi/Sate tempe gembus:
· Yu Rebi-1: Teposanan belakang Sriwedari, utara jalan, timur perempatan RS Jiwa Mangkujayan, jam 10.00-15.00
· Yu Rebi-2, Penumping, barat perempatan RS Jiwa Mangkujayan, utara jalan, jam 15.00-21.00
7. Tahu Kupat, Pak Midin, Jl.Museum, Sriwedari sebelh timur, barat jalan, jam 7.00-21.00
8. Sosis Solo, Warung Kita: Jl.Honggowongso No.107 C, selatan Hotel Novotel, barat jalan, jam 9.00-21.00.
9. Ketoprak (Sotomi Solo): Yu Nani, Jl.Gatot Subroto Sraten, timur lapangan Kartopuran sebelah selatan, emperan, utara jalan, jam 9.00-14.00
10. Getuk, Subur, Jl.Museum/Sriwedari sebelah barat jalan, los 1,2,3, jam 8.00-21.00
11. Martabak telor,
· Angkringan depan getuk Subur No.10, jam 17.00-21.00
· Pak Wi, selatan pertigaan Jl.Honggowongso dan Jl.M.Yamin(Notosuma n), barat jalan, jam 17.00-21.00
12. Pecel nDeso (bumbu pecel tidak pakai kacang tetapi pakai wijen), Pasar Besar pintu masuk utara, dasaran, jam 7.00-10.00.
13. Soto daging,
· Soto Triwindu, dalam pasar Triwindu, belakang Balai Muhamadiyah, Jl.Teuku Umar, jam 7.00-21.00.
· Soto Ngasem, dekat perempatan pertama dari lanud Adi Sumarmo kearah Solo/Kartosuro jam 7.00-20.00
· Soto mBah Hadi, Jl.Teposanan 24, belakang Sriwedari arah ketimur, utara jalan, jam 8.00-13.00
14. Masakan Cina: Centrum, Jl.RE Martadinata No.200, Warungmiri, 0271.633 275, jam 11.00-21.00
15. Bakmi Jawa/Sop Ayam,
· Pak Solet, Genthan, Laweyan, selatan tugu Pajang, barat jalan masuk gang 50 m, jam 9.00-20.00
· Pak Sri, Jl.Tipes, utara jalan, depan Nugroho motor, tenda kaki lima, jam 18.00-24.00
16. Bakso:
· Bakso Notosuman, Jl.Prof.M.Yamin No.15, Notosuman, 0271.635789, jam 12.00-21.00
· Bakso Kalilarangan: Jl.Kalilarangan No.17, jam 12.00-21.00
17. Ayam Goreng, Ayam Goreng Kleco, dekat tugu perbatasan kota, Pabelan, utara jalan, jam 12.00-21.00
18. Ayam Bakar,
· Ojo Gelo, Jl.BrigJen Slamet Riyadi No.494, Purwosari, utara jalan, jam 8.00-21-00
· Pengging, dekat sate Darso sebelum Pengging timur jalan, siang
19. Gudeg, Bu Kasno, Jl.Monginsidi, Margoyudan, timur perempatan
Banjarsari, barat SMAN I (dulu SMA Margoyudan), utara jalan, emperan, jam 02.00-05.00
20. Serabi Solo:
· Serabi Notosuman Jl.Prof.M.Yamin No.52, Notosuman, jam 06.00-18.00
· Serabi Gajah, Timur Balapan, bawah jalan layang rel KA, jam 8.00-12.00
21. Abon, Srundeng, Intip, Usus ayam,Cabuk Toko Abon Varia, Jl.Coyudan No.114, utara jalan, 0271.637844, jam 9.00-20.00
22. Cabuk Rambak, Pasar Besar pintu timur, dasaran, jam 7.00-12.00
23. Roti Mandarin, Toko Orion, Jl.Urip Sumohardjo No.92, Mesen, jam 9.00-21.00
24. Gembukan, Janggelut: Jl.KH.A.Dahlan, utara pertigaan Jl.Slamet Riyadi, timur jalan, selatan Hotel Kusuma Sahid . jam 18.00-21.00.
25. Roti Kecik, Roti Ganep, Jl.Sutan Syahrir No.178, tambak Segaran, jam 9.00-21.00.
26. Es Krim: Tentrem Ice Cream Palace, Jl.Urip Sumohardjo No.93/97 Mesen. 0271635597, jam 10.00-21.00
27. Dawet, Pasar Gede sebelah dalam, jam 7.00-11.00
28. Beras Kencur, Pak Sumardi, Jl.Tamtaman II No.99, Baluwarti, timur kraton, masuk gang, 0271.652811, botolan untuk dibawa, jam 8.00-20.00
29. Rujak, Lotis: Bu Slamet, Jl.Gatot Subroto , Kemlayan, selatan toko Busana Jawi, timur jalan, iam 10.00-14.00
30. Aneka es, Es Masuk, Jl.Kratonan, utara perempatan Gemblegan, timur jalan, jam 10.00-19.00
31. Cao Gletak, Pasar Grogol, timur jalan, jam 7.00-14.00.
32. Tetes gula cao gletak, Pasar Sukohardjo sebelah utara, tempat penitipan sepeda, selatan jalan.
33. Kulit Ceker Ayam Goreng: Jl.Dr.Rajiman kearah Pajang, sebelum Tugu belok selatan, sebelum tanjakan, timur jalan, Bratan, Laweyan.jam 7.00-20.00
34. Karak: Mbah Wig, Bratan, Laweyan, selatan No.32 ada pertigaan tilpun umum belok kanan, 10 m dari pertigaan, selatan jalan, rumah hijau, bukan toko, rumahan.
35. Tongseng Bokong Kambing, Pas pertigaan Jl.Dr.Rajiman dan Jl.Agus Salim (Tugu Lilin) Laweyan, selatan jalan. Bokong kambing sudah dipajang, pilih sendiri yang kecil cukup untuk 3 orang, minta jangan terlalu manis, jam 9.00-14.00
36. Bebek Bacem Goreng:
· Bu Siswo, Dari Solo lewat Klaten, +/- 1km sebelum pabrik gula Klaten, selatan jalan, desa Gondang, jam 7.00-5.00, istirahat jam 9.00-15.00.
· Barat Stasiun KA Prambanan +/- 50m utara jalan jam 7.00-19.00, istirahat jam 9.00-15.00
37. Belut Goreng: Depan pasar Pengging pertigaan, barat dan utara jalan, jam 7.00-19.00
38. Kroncongan: Jika ingin melihat dan mendengarkan kroncong asli sambil makan soto.
39. Soto Ledokan, sebelah barat terminal Kartosuro, utara jalan, jam 6.00-11.00
40. Wedangan Pak Wiryo, Jl Perintis Kemerdekaan daerah purwosari, sego kucinge pulen & enak. Bila ada kesempatan ke kota Solo, silahkan menikmati.


 

 Setiap daerah selalu memiliki menu khas untuk berbuka puasa. Khas, karena menu-menu tersebut biasanya memang hanya dibuat khusus pada bulan suci Ramadhan. Di Kampung Jayengan, Kecamatan Serengan, Solo, Jawa Tengah, mempunyai kuliner unik dan khas selama bulan suci Ramadhan. Sebuah masjid di kampung itu, Masjid Darussalam, selalu memasak dan membagikan bubur samin atau bubur banjar kepada warga. Disebut bubur samin, karena bubur tersebut menggunakan minyak samin untuk penyedap. Bubur tersebut juga dikenal dengan nama bubur banjar, karena menu khas itu konon dibawa ke Solo oleh para saudagar dari Banjar, Kalimantan Selatan, hampir 70 tahun  seabad silam.
Tidak ada yang tahu secara persis sejak kapan bubur samin menjadi tradisi menu berbuka di masjid tersebut. Namun menurut Ketua Takmir Masjid Darussalam, HM Rosyidi Muchdlor, puluhan tahun lalu banyak masyarakat dari Kota Banjar yang merantau ke Solo untuk berdagang batu permata  Martapura. Mereka menjadikan Masjid Darussalam  sebagai tempat berkumpul, hingga akhirnya mereka menetap di perkampungan sekitar masjid. Satu hal benar bahwa sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar masjid Darussalam saat ini memang merupakan keturunan orang-orang Banjar. “Sejak saya kecil bubur ini sudah ada. Dulu saya juga sering antre untuk mendapatkan bubur samin setiap kali menjelang berbuka puasa,” kata  Rosyidi Muchdlor. Sekilas, bubur samin memang seperti bubur ayam pada umumnya. Yang  yang membedakannya adalah bumbu dan isi bubur yang terdiri dari potongan daging sapi, aneka rempah-rempah serta sayuran seperti wortel dan daun bawang serta susu.
Proses memasak bubur samin sendiri dilakukan oleh sejumlah pekerja takmir masjid mulai pukul pukul 12.00 hingga pukul 15.00. Setiap hari selama bulan Ramadhan, Takmir Masjid Darussalam sedikitnya memasak 40 kilogram beras untuk konsumsi sebanyak 600 orang. Sejumlah pekerja pun tampak sibuk mengaduk bubur secara bergantian karena banyaknya bubur yang dimasak.
Selain beras, komposisi bubur khas ramadhan ini antara lain berupa santan, aneka sayur dan rempah-rempah, susu serta daging sapi. Tak heran jika bubur ini sangat bergizi. Aroma masakan khas Banjar ini semakin kental dengan campuran rempah-rempah serta minyak kapulaga Arab atau minyak samin yang menjadikan bubur berwarna kekuning-kuningan. Rosyidi menuturkan tradisi membuat bubur samin tersebut muncul jauh sebelum berdirinya masjid. Yang jelas, lanjut Rosyidi, Masjid Darussalam   didirikan oleh para perantau dari Banjar, Kalimantan Selatan, sekitar tahun 1950. Namun kondisi fidik masjid belum semegah sekarang. Bisa jadi, sebagai sesama perantau, rasa solidaritas orang-orang Banjuar tersebut terjalin dengan erat. Hingga akhirnya setiap bulan Ramadhan, mereka membuat menu berbuka seperti layaknya di tempat asal mereka. Tradisi memasak dan membagikan bubur samin ini kemudian dilakukan secara turun temurun hingga sekarang.
“Menurut cerita kakek saya, dulu pembuatan bubur ini hanya untuk berbuka anggota jamaah masjid yang sebagaian besar adalaj orang-orang Banjar . Namun sejak tahun 1985, porsinya dibuat lebih banyak dan diberikan kepada siapa saja yang menginginkannya. Semuanya gratis,” ujar Rosyidi. Menjelang waktu berbuka, tepatnya selepas waktu Ashar atau sekitar pukul 16.00, ratusan orang berdatangan silih berganti untuk mengambil bubur samin. Mereka membawa piring dan rantang untuk membawa bubur pulang. Mereka bukan hanya warga Jayengan, tapi juga dating dari kawasan Solo lain, seperti Laweyan, Semanggi, Pajang, Cemani, Pajang, Banjarsari, dan Mojosongo. “Bubur yang kami bagikan ke masyarakat sekitar 500 porsi, sedangkan sisanya sekitar 100 porsi untuk berbuka bersama jamaah  masjid,” ujar Anwar, seorang anggota takmir masjid. Cita rasa bubur samin tersebut  memang tergolong unik, lantaran diolah dengan banyak rempah-rempah dan campuran susu. 



Apalagi para juru masak menambah racikan bubur dengan kayu manis, pandan wangi, sere, jahe, bawang, wortel, dan santan kelapa.
 “Sejarah bubur samin ini memang tidak dapat dupisahkan dengan kedatangan orang-orang Banjar ke Solo. Meskipun sekarang sudah hampir tidak ada orang Banjar yang dagang batu permata di Solo, namun tradisi membuat bubur samin ini tetap dilakukan,” tambah Anwar.
Tidak hanya bubur, Masjid Darussalam juga menyediakan minuman khas sebagai pelengkap bubur, yaitu kopi susu. Berbeda dengan kopi susu lain yang dimasak secara terpisah, kopi susu Darussalam ini dimasak dengan cara mencampurkan kopi, susu dan air ke dalam sebuah drum, kemudian memasaknya bersama-sama. Setidaknya dibutuhkan biaya sekitar Rp 1.500.000 setiap harinya untuk membuat bubur samin dan minuman kopi susu, yang seluruhnya ditanggung oleh takmir masjid.

”Semuanya bisa membawa bubur ini, tanpa membedakan asal dan pekerjaan mereka. Bukan hanya rakyat kecil, pengusaha dan anggota DPR pun banyak yang datang untuk menikmati lezatnya bubur samin ini,” kata Anwar di sela-sela proses memasak bubur.
Begitulah. Selepas adzan Ashar, orang-orang pun berdatangan membawa piring dan rantang untuk membawa bubur pulang. Namun sebagian dari mereka akan tetap tinggal untuk menikmati lezatnya bubur samin di masjid saat berbuka puasa tiba.

0 komentar: