Senin, 16 April 2012

Yasandalem/Karya Sinuwun Pakoe Boewono

SASTRA


Karaton sebagai sumber budaya Jawa memiliki hasil seni sastra yang tersimpan di sasana pustaka. Sasana pustaka merupakan perpustakaan karaton yang menyimpan sebagian besar hasil seni sastra karaton. Perpustakaan ini didirikan oleh Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono X pada tanggal 20 Januari 1920. Letak perpustakaan ini ada disebelah selatan Sasanasewaka, berdekatan dengan sasana Handrawina yang sekarang sedang dibangun. Didalamnya tersimpan buku hasil seni sastra, buku, majalah, dan bahan terbitan antara lain :
Naskah manuskrip (tulisan tangan atau carik) sebanyak 726 naskah yang sekarang sudah tersimpan dalam bentuk mikro film
b.                  Buku cetak huruf Jawa sebanyak 2000 buku.
c.                   Buku yang berbahasa Belanda sebanyak 1000 buku
d.                  Buku-buku terbitan Balai Pustaka sebanyak 1100 buku
e.                   Buku-buku dari berbagai instansi sebanyak 600 buku
f.                    Kurang lebih 200 majalah dan koran lama (sebelum kemerdekaan Republik Indonesia)
Khusus mengenai naskah manuskrip sebanyak 726 buah seluruhnya sudah disusun dalam bentuk katalog oleh dua orang. Kedua orang itu yaitu (1) Nikolous Girandet dari Universitas Heidelberg Jerman dan (2) Nancy K. Florida dari Ford Foundation Amerika Serikat. Dari kedua katalog itu dapat diperoleh gambaran ringkas mengenai isi naskah. Berdasarkan isinya dapat dikelompokkan sebagai berikut:  
a Babad atau sejarah.
b.Tatacara dan upacara
c.Keris  
d.Pedalangan dan wayang
e Ilmu bahasa/paramasastra
f.Mistik Jawa  
g. Perbintangan atau astronomi
h.Mistik dan tari
i. Islam dalam sejarah perkembangannya  
Berdasarkan jumlah dan koleksi buku perpustakaan sasana pustaka termasuk perpustakaan lama yang besar. Perpustakaan sebagai sumber inspirasi cukup menyimpan bahan yang melimpah. Bahan yang melimpah ini untuk pemakaiannya ada kendala yaitu kendala mengenai bahasa dan tulisan. Sebagian bahasanya tertulis dalam huruf Jawa dan tentunya juga terungkap dalam bahasa.
Untuk mengatasi kendala itu perlu ditempuh adanya usaha transkripsi dan terjemahan. Dengan usaha ini fungsi Sasana Pustaka sebagai sumber informasi dan sumber inspirasi dapat diwujudkan. Demi kelancaraan usaha ini perlu juga adanya peningkatan pengelolaan. Sebab perpustakaan dengan banyak buku harus seimbang dengan jumlah pengelolanya.

SASTRA JAWA DULU DAN KINI

Perkembangan satra Jawa pada abad ke-18 dan ke-19 sering disebut sebagai “renaisans sastra klasik” (maksudnya: sastra Jawa Kuno). Sebutan “renaisans” dalam penelitian-penelitian mutahir ditolak, jika yang dimaksudkan dengan “renaisans” itu adalah munculnya kegairahan dan kegiatan baru untuk mengkaji sastra Jawa Kuno. Yang terjadi adalah penggubahan karya-karya sastra Jawa Kuno yang bermantra kakawin menjadi karya-karya sastra Jawa yang bermantra macapat (tembang macapat)
Hal ini menjadi jelas dalam kasus Serat Wiwaha Jarwa (Serat Mintaraga), gubahan Paku Buwana III (1749-1788). Paku Buwana III tidak langsung bekerja degan teks Kawi (Jawa Kuno), tetapi mengubah teks prosa yang sudah menjadi Serat Wiwaha Jarwa yang bertempat macapat.
Sumber-sumber sastra yang dimanfaatkan di keraton Surakarta itu tampaknya berasal dari kegiatan sastra pada zaman Kartasura, khususnya kegiatan sastra yang justru dilakukan di luar karaton, yakni padepokan-padepokan di wilayah Merapi-Merbabu.
Khasanah sastra zaman Kartasura ini kemudian diwarisi oleh para pujangga dan literati Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta saat terjadinya pembagian kerajaan itu.
Abad Baru
Serat Wiwaha Jarwa gubahan Paku Buwono III mulai di tulis pada tahun 1704 Jawa (1778 Masehi) atau pada awal “abad baru” menurut kalender Jawa.
Ada kepercayaan bahwa pada setiap abad baru akan muncul. Jika demikian dapatlah ditafsirkan bahwa pengubaha Serat Wiwaha Jarwa merupakan imbangan terhadap penciptaan Serat Suryaraja, yang ditulis oleh Putra Mahkota (kelak: Hamengku Buwono II) di Keraton Yogyakarta pada tahun 1700 Jawa (1774 masehi). Disitu tampak adanya kompetisi legitimasi Surakarta ataukah Yogyakarta yang merupakan “Keraton baru” yang sah menggantikan keraton kartasura.
Dengan menggubah serat wiwaha jarwa, paku buwana III menampilkan diri sebagai “raja” sekaligus “pendeta” atau “raja” sekaligus “pujangga”. Tugas seorang pujangga adalah menulis dalam rangka legitimasi kedudukan sang raja.
Srat wiwaha jarwa memuat kisah Arjuna yang bertapa berhasil menaklukan Niwatakawaca dan memperoleh pahala dari kahyangan. Disini legitimasi kerajaan dihubungkan dengan Arjuna, yang dianggap sebagai leluhur raja-raja Jawa.
Serat Suryaraja mengambil bentuk babad yang memuat kisah Keraton Yogyakarta dengan menyamarkan tokoh-tokohnya menjadi tokoh-tokoh mistis. Didalamnya dapat dilacak bagaimana Keraton Yogyakarta menghadapi masalah-masalah dalam menyongsong “abad baru”.
Putra mahkota (kelak: Hamengku Buwono II) ini juga kiranya penulis Babad Mangkubumi, yang mengisahkan masa pemerintahan Mangkubumi (Hamengku Buwono I) sesudah pembagian kerajaan pada tahun 1755.
Bagian pertama yang merupakan bagian terbesar dari babad ini, selesai ditulis pada tahun 1773. Bagian kedua ditambahkan sesudah wafatnya Sultan Mangkubumi dan putra mahkotanya, sangat keras mengritik. Mangkunegoro, tidak mengacuhkan Paku Buwono III, dan melawan Paku Buwono IV.
Penulisan babad yang penting juga di keraton Yogyakarta adalah penulisan Babad Keraton oleh Raden Tumenggung Jayengrat pada tahun 1703 Jawa (1777 Masehi). Babad ini memuat kisah dari Adam sampai jatuhnya keraton Kartasura. Semula babad ini berakhir dengan berdirinya keraton Kartasura, kemudian dilanjutklan dengan jatuhnya keraton itu. Dengan jatuhnya keraton Kartasura, maka karaton Yogyakarta merupakan karatopn baru pada awal abad baru, yang merupakan pengpengganti langsung dan sah dari karaton Kartasura.
Melihat dari kisahnya, bisa dikatakan Babad Keraton bersifat memandang ke belakang. Ini berbeda dengan serat Suryaraja yang bersifat profetis dan memandang ke masa depan.
Yosodipuro
Beberapa waktu kemudian pada pergantian abad ke-18-19 dilingkungan keraton Surakarta, tampil pujangga Raden Ngabehi Yosodipuro I (1792-1803). Banyak karya sastra disebut-sebut sebagai gubahan atau tulisan Yosodipuro I. Namun, penelitian Ricklefs akhir-akhir ini menyimpulkan bahwa sekurang-kurangnya ada enam karya harus diragukan atau ditolak sebagai karya Yosodipuro I, yakni Tajusalatin, menak, Iskandar, Sewaka, Arjunawiwaha jarwa, dan Cebolek.
Yosodipuro I inilah yang menggubah kakawin-kakawin lama menjadi karya-karya bertembang macapat. Umpamanya: serat serat rama (dari kakawin ramayana), serat Bharatayuda (dari kakawin Bharatayuddha), dan serat Arjuna sasrabahu (diperbaharui oleh Yosodipuro II; dari Kakawin Arjunawijaya). Mengingat kasus serat wiwwaha jarwa gubahan Paku buwono III, mungkin Yosodipuro I juga bekerja atas dasar terjemahan prosa yang telah ada, yang dibuat pada jaman Kartasura. Selain itu Yosodipuro I juga menggubah serat Dewaruci.
Serat rama memuat kisah rama yang bertempur melawan rahwana untuk memperoleh Sinta. Ajaran penting yang terdapat dalam serat rama adalah ajaran rama kepada wibisana tentang sikap dan perilaku seorang raja dalam memerintah rakyat. Ajaran itu dikenal dengan Asthabrata, delapan sikap dan perilaku seorang raja sesuai dengan watak dan perilaku delapan dewa.
Ajaran Asthabrata banyak dikaji, dikutip, dan digubah kembali, sehingga menghasilkan banyak versi, baik dalam bentuk tembang maupun prosa. Dalam pentas wayang kulit, ajaran ini juga dituturkan dalam berbagai konteks cerita, antara lain dalam lakon Makutharama.
Serat Bratayuda memuat kisah pertempuran Pandawa Korawa yang memperebutkan Kerajaan Hastina. Secara alegoris kisah ini membayangkan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa. Suksesi kerap kali melibatkan perang saudara. Dalam upacara bersih desa dan upacara nyadran (mengirim doa untuk para leluhur dan mereka yang sudah meninggal) kerap kali dipentaskan pertunjukan wayang kulit dengan lakon Bratayuda. Pembersihan Bumi dan penyucian dosa bagi mereka yang telah meninggal dikaitkan dengan gugurnya para pahlawan Bratayuda.
Serat Arjunasasrabahu memuat kisah kelahiran Rahwana dan saudara-saudaranya, serta pertempuran Rahwana melawan Arjunasasrabahu. Berkat salah paham atas teks Jawa kuna, kisah pertemuan Wisrawa-sukesi menimbulkan ngelemu sastra jendra, ilmu tentang hakikat terjadinya manusia yang dianggap rahasia.
Serat Dewaruci memuat kisah Bima yang atas perintah Drona mencari air suci (tirta perwira sari) dan akhirnya berjumpa dengan Dewaruci. Dalam wejangan Dewaruci kepada Bima termuat ajarang tentang hakikat diri manusia. Dalam pentaswayang kulit, Lakon Dewaruci kerap kali dianggap berpasnagan dengan lakon Mintaraga.
Lakon Dewarucci menampilkan pencarian manusia sampai menemukan dirinya yang sejati. Penemuan diri yang sejati ini merupakan modal untuk melaksanakan tugas ditengah masyarakat. Sedangkan lakon Mintaraga menampilkan usaha manusia untuk mendisiplinkan diri sehingga sanggup melaksanakan tugas membina kesejahteraan dunia (mamayu hayuning buwana).
“Babad Giyanti”
Yosodipuro I juga menulis babad yang penting, yakni Babad Giyanti. Babad ini tidak mencantumkan tanggal penulisannya, tetapi diperkirakan paling lambat sekitar 1803 babad itu telah selesai ditulis.
Yang menarik perhatian, dalam babad ini tampak Yosodipuro I mengagumi Sultan Mangkubumi dan menjadikannya tokoh utama. Ini tentu sesuatu yang istimewa karena Yosodipuro adalah pujangga keroton Surakarta, sementara Sultan Mangkubumi adalah raja Keraton Yogyakarta.
Perhatian terhadap babad di lingkungan Keraton Surakarta tampak dari munculnya babad pakepung dan babad tanah jawi. Babad pakepung mengisahkan krisis tahun  1790 di Surakarta. Babad ini tampaknya ditulis oleh Raden Ngabehi Yosodipuro II.
Babad Tanah Jawi mulai disusun pada pemerintahan Paku Buwono IV (1788-1820). Penyusunan babad ini mungkin berhubungan dengan usaha Paku Buwono IV untuk mengkukuhkan kedudukan dan kekuasaan sebagai raja.
Paku Buwono IV menuangkan ajarannya untuk anak-cucu, kerabat dan abdinya dalam Serat Wulangreh. Paku Buwono IV memang banyak menulis serat (ajaran), yang dapat ditafsirkan sebagai pedoman dan sarana kontrol perilaku di lingkunan istana.
“Serat Centhini”
puncak dari perkembangan sastra Jawa ini mungkin berlangsung sekitar tahun 1815, saat putra mahkota (kelak: Paku Buwono V, memerintah 1820-1823) bersama sebuah tim redaksi menyusun Serat Centhini. Kitab ini biasa disebut “ensiklopedi Jawa”. Kisah yang merangkai beraneka ragam ilmu itu ialah sebuah kisah perjalanan. Perjalanan seseorang yang mengembara mencari ilmu diselutuh pelosok tanah Jawa ini, dilaporkan dalam kisah perjalanan Bujangga Manik, yang termuak dalam sebuah naskah Sunda dari akhir abad XV. Kisah perjalanan yang menjadi ciri genre sastra jenis ini, disebut juga santri Lelana.
Banyak serat ( kitab ) yang diserab kedalam  Serat Centhini dan dirangkaikan sebagai ajaran yang diperoleh para santri lelana di berbagai tempat pengembaraan mereka. Kisah perjalanan ini juga memberi kesempatan memasukkan legenda, cerita tentang tempat-tempat dan peninggalan purbakala, lukisan alam, uraian berbagai upacara dan seni pertunjukan dan sebagainya.
Dari hal ihwal yang demikian itu dapat ditafsirkan bahwa dalam serat centhini hendak dikumpulkan berbagai kitab dan berbagi situasi tanah Jawa, seakan-akan ada kekhawatiran bahwa semuanya itu lenyap berhadapan dengan “ dunia baru “ dengan arus barat yang makin kuat.
 
 

0 komentar: