Jumat, 13 April 2012

Antique

Bokor Kuningan

(Kode: GK 77)
Nenek saya dulu menyebutnya dengan sebutan wadah dubang atau singkatan dari idu abang. Dengan kata lain bokor ini tempat ludah merah. Disebut demikian karena fungsi bokor ini oleh nenekku digunakan untuk meludah saat sedang mengunyah sirih. Lantaran ketika mengunyah sirih ada bahan berupa gambir yang membuat ludah menjadi merah maka tampat seperti ini kemudian disebut wadah dubang.
Di Solo bokor semacam ini kemudian sering saya dengar dengan istilah paidon yang artinya juga tempat meludah. Senada dengan istilah Nenek saya di Magelang.
Akan tetapi bokor kuningan semacam ini dapat berfungsi lain. Dan semestinya memang demikian. Bokor ini sering digunakan untuk tempat menacapkan gedebok pisang atau pohon pisang yang hendak dibuat kembar mayang dalam acara perhelatan resepsi pengantin. Atau difungsikan sebagai pot untuk rangkaian bunga. Mungkin fungsi ini yang lebih tepat menurut saya. Sementara fungsi sebagai wadah dubang atau paidon adalah fungsi sekunder saja sepertinya. Saya tidak tahu persis yang mana fungsi sebenarnya. Yang jelas mau difungsikan sebagai apa saja barang ini termasuk barang lawas atau kuno yang mahal harganya lantaran terbuat dari kuningan yang lumayan berat.


Lampu Andong







(Kode: GK 76)


Lagi-lagi koleksi simpanan saya harus saya munculkan. Pasalnya lampu andong yang rencana semula mau dipakai sendiri, akhirnya akan segera diboyong pelanggan saya ke Jakarta.
Lampu ini sebenarnya sudah lama saya dapatkan. Saya simpan di peti besi lantaran kedepan rencananya mau saya pasang di rumah saya di Magelang bila sudah jadi tentunya.
Tapi apa mau dikata, simpanan ini akhirnya terbongkar juga. Dan agar sang pembeli tidak kecewa nantinya sebelum saya kirim lampu saya tampilkan dulu di griyakuno. Alasannya simple saja, pertama agar lampu yang satu ini masuk dulu dalam daftar koleksi benda kuno saya. Kedua agar sang pelanggan mengetahui keadaan lampu ini sebelum saya kirim nantinya.
Lampu ini cocok dipasang di tiang rumah model ruma Jawa atau di teras rumah apa saja. Selain itu anda juga bisa memasang lampu ini sebagai hiasan sepeda onthel anda (bagi pecinta sepeda onthel). Jika ingin lihat hasil modifikasi sepeda onthel yang diberi lampu andong semacam ini bisa anda liat dan akses di blog saya yang lain yaitu
Sementara fungsi asli dari lampu ini tentunya adalah terpasang di delman, atau dokar atau andong.



Gambar Umbul Wayang


(Kode: GK 75)
Gambar umbul seperti ini pernah saya posting di  , hanya saja belum saya bingkai. Ketika saya coba iseng membuat bingkai dan di beri kaca dove ternyata hasilnya sangat memuaskan. Akhirnya saya memasang di griya kuno sekaligus sebagai sampel hasil gambar umbul yang berbingkai. Kesan unik, klasik dan antik terasa kental ketika rumah anda dipasang hiasan dinding berikut ini.
Jika dilihat dari jenis kertas dan motif gambar umbul ini maka bisa dipastikan bahwa gambar umbul ini keluar di tahun 60-70 an. Dan juga tulisan pada gambar umbul ini juga masih menggunakan ejaan lama yaitu ejaan yang belum disempurnakan. Maka bisa dipastikan bahwa gambar umbul ini merupakan gambar umbul cetakan lawas.
Untuk mendapatkan gambar wayang seri 100 seperti ini sudah lumayan sulit. Selain itu kita juga perlu merogoh kocek yang lumayan tinggi ketimbang gambar umbul lawas lainya. Bukan saja karena antik tapi juga unik. Gambar umbul wayang lawas, dengan ejaan kuno dan motif gambar jadul tentu kesan antik dan unik tak bisa lepas dari gambar umbul yang satu ini.



Telephone Putar Kuno (Corong) Ericsson Hitam

(Kode: GK 74)


Pesona telephone putar kuno memang sungguh selalu memikat hati saya. Apalagi warna hitam original membuat telephone ini semakin tampak kekar, gagah dan menawan.
Telephone putar kuno yang satu ini semakin menggoda saya untuk segera memilikinya tatkala koleksi telephone putar saya sebelumnya sudah diborong habis ke Jakarta. Dan semakin bertambah nafsu saya untuk memiliki telephone ini begitu melihat kondisi yang memang istimewa , mulus dan gagah memikat. Sekalipun saya harus bayar lebih mahal dari biasanya untuk mendapatkan koleksi ini. Padahal sebelum telephone ini jatuh ke tangan teman saya, telephone ini sudah ditawarkan ke saya terlebih dahulu dan hampir saja menjadi milik saya beserta 3 telephone yang sama saat itu. Hanya saja nafsu untuk berburu telephone seperti ini belum muncul saat itu lantaran telephone di rumah masih menumpuk. Tapi kini telephone itu kembali memikat saya setelah jatuh ke tangan yang lain dulu.
Belum lagi merk telephone puter kuno ini yang masih tampak jelas terlihat dibawah telephone dan dibalik gagang telephone ini membuat nafsu saya untuk memiliki telephone ini semakin menjadi-jadi. Lihat saja merk yang tampak di foto disamping dan foto dibawah ini. Terpampang jelas Ericsson Made in Sweden. Sebuah merk ternama di kalangan produk komunikasi dunia.

Gagang telephone yang bertuliskan Ericsson dan ujung microphone yang terdapat bibir corong menjadikan telephone ini semakin terkesan jadoel.
Terasa betul nuansa tempoe doeloe bila telephone ini menjadi bagian dari griya atau rumah antik kita.

Hanya saja, sepertinya telephone ini perlu mendapatkan sedikit sentuhan dari tukang service dulu. Sebab ketika aku coba perika telephone ini dapat berdering saat ada telephone masuk cuma setelah diangkat tidak terdengar suara apapun alias gak bisa untuk nelpon.



 

 

 

 

 

 

 

Lampu Bethet Cokelat

(Kode: GK 73)





Semula saya tidak berniat untuk membeli lampu ini, sebab tujuan saya semula datang bertandang ke rumah teman saya adalah dikarenakan adanya penawaran barang antik yang lain. Hanya saja sebuah lampu meja antik yang terpampang diatas meja membuat saya mencoba untuk bertanya sekiranya teman saya memiliki lampu bethet dirumahnya. Dan betul ternyata bak pepatah mengatakan pucuk dicinta ulam pun tiba alias gayung bersambut ternyata teman saya memiliki lampu yang saya maksud.
Terpikat pada pandangan pertama dan dengan tambahan bonus kap untuk lampu sejenis akhirnya lampu yang biasanya saya dapat 1/3 harga dari harga yang harus saya keluarkan saat ini, akhirnya memaksa saya untuk merogoh kocek saya segera. Artinya saya harus membayar 3 kali lipat dari harga saya beli biasanya.
Memang tidak mengapa sekalipun lampu ini terasa mahal.  Paling tidak sekarang ini ada 2 koleksi lampu bethet di griyakuno yang bisa saya nikmati sendiri. Dan tentunya untuk hiasan griyakuno nantinya...



Radio Tabung (4) Philips

(Kode: GK 72)
Radio yang sempat saya posting di  ini semula saya beli dari teman saya dalam keadaan mati. Sebelum radio ini saya beli saya sudah diberi tahu perkiraan onkos service radio ini nantinya lumayan mahal. Dan tetap saja saya nekat beli lantaran radio semacam ini jarang saya temui. Liat aja chanel radio ini terdiri dari 4 chanel SW dan juga sudah bisa digunakan sebagai amplifier untuk alat pemutar piringan hitam.
Pernah saya bertanya harga sebuah radio tabung kayu semacam ini, sungguh mengejutkan tawaran harga yang bisa mencapai 2 juta rupiah. Maka dari itu saya semakin mantab untuk tetap membayar radio ini. Radio ini pernah akan langsung diberi untung alias dibeli seketika lebih mahal sesaat setelah saya membayar dari pemiliknya. Hanya saja keinginan untuk coba diperbaiki dan dipakai sendiri akhirnya radio ini tidak aku lepas meski ada yang mau bayar mahal dalam keadaan mati.
Tak lama berselang godaan untuk segera melepas radio ini juga muncul dari Jakarta, dengan maksud segera di booking atau dipesan maka mau tidak mau radio ini harus segera diperbaiki.
Dan akhirnya radio ini saya bawa ke tukang service sesegera mungkin setelah ada kepastian dari calon pembeli untuk memesan radio ini.

Sekalipun sudah terbayang dari sebelumnya bahwa ongkos service radio ini lumayan mahal, namun lantaran desakan akhirnya saya merelakan radio ini untuk dipesan pelanggan dengan harga yang terbatas alias mepet dari total modal yang saya keluarkan.


Akan tetapi segala sesuatu itu hanya bisa kita rencanakan. Sementara hasil akhir tentu Alloh SWT yang berhak menentukannya.
Radio yang sejak semula di BOOKED harus di cancle karena satu dan lain hal, tak lama setelah radio ini selesai diperbaiki.
Untungnya hasil service yang sangat memuaskan membuat rasa lelah dan modal yang besar untuk membeli sampai memperbaikinya terobati sudah.
Suara yang mantab keluar dari radio kayu ber-merk philips ini. Ditambah lagi dengan 4 chanel short wave radio yang dapat berfungsi normal semua gelombangnya. Radio type AF7800 ini ternyata juga dapat difungsikan sebagai amplifier untuk pemutar piringan hitam atau player ph. Sungguh hasil yang sangat memuaskan dari sebuah perjalanan panjang radio mati menjadi hidup kembali.
Akhirnya saya memutuskan untuk memakai sendiri radio tabung ini untuk koleksi radio kuno atau dengan kata lain akan melepasnya asal harga sesuai keinginan saya... alias jual mahal ah....he he he...

 

 

 

Setrika Arang Besi Jago

(Kode: GK 71)

Kalau anda coba bedakan antara pakaian yang di gosok atau diseterika menggunakan setrika arang dan pakaian hasil setrika listrik, maka akan terasa beda aroma yang muncul dari keduanya. Tentunya menurut indra penciuman saya aroma hasil setrika arang seperti ini akan terasa lebih khas, harum dan lebih sedap sekalipun tidak menggunakan pewangi tambahan.
Itulah sebabnya kenapa saya tertarik menggambil setrika ini. Denga maksud awal akan digunakan sendiri. Tapi ternyata setrika besi jago yang lengkap dengan angkringan atau tempat meletakkan setrika ketika dalam keadaan panas atau membara ini tidak berjodoh lama dengan saya. Setrika ini hanya berumur sehari di rumah saya dimana sehari setelah setrika ini saya posting saya mendapat kunjungan sahabat jadul dari Jakarta,dan setrika ini pulang bersamanya.





Bell Kuningan

(Kode: GK 70)
Melihat lonceng ini saya langsung teringat 5 tahun yang lalu saat saya mulai mengajar di SD Pamardiputri Keraton Surakarta. Sebuah sekolah dasar yang konon merupakan sekolah dasar favorit di Solo. Para muridnya konon juga hanya dari kalangan putri-putri dalem atau wayah dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoeboewono atau Kerabat Keraton Surakarta. Sekolah yang di asuh oleh Yayasan Pendidikan Kasatriyan atau pamoelangan Kasatrijan Keraton Surakarta Hadiningrat.
Belakangan sekolah ini terbuka untuk putra dan putri dari kalangan umum. Termasuk ketika saya mengajar di sana saat itu, sekolah ini sudah berbaur untuk orang umum. Hanya saja yang membuat saya teringat pada bell ini adalah tatkala saya mengajar pertama kali di sekolah itu adalah bell seperti ini masih digunakan untuk tanda bell masuk disaat sekolah-sekolah lain sudah menggunakan bell listrik.
Sungguh sebuah ironi dimana sekolah yang merupakan sekolah favorit yang bersebelahan dengna sekolah pariwisata setingkat SMA dan Akademi harus tergusur baik secara fisik maupun fasilitas. Hanya saja sopan santun yang diajarkan kepada anak didik dan cara membunyikan bell di sekolah ini terasa membuat hidup seperti di jaman Keraton atau jaman Kolonial Belanda.
Andai saja mau diceritakan mengenai sekolah tersebut, tentu blog ini terasa sempit. Hanya saja bell ini aka senantiasa mengingatkan saya pada nuansa sekolah keraton dan mengingatkan saya saat-saat awal saya terjun di dunia pendidikan.
Andai saja orang selain saya akan mengenang bell semacam ini dipakai oleh pedagang es krim dorong atau yang sejenisnya maka bagi saya bell ini memiliki memori yang lain ketimbang sekedar bell penjual es keleliling saja. Tapi sebuah bell penanda masuk sekolah di sebuah sekolah ditengah kota dan didalam keraton yang megah dalam era modern seperti ini.

Jam Tangan Digital 

(Kode: GK 241)




Arloji 

(Kode: GK 240)




Kamis, 06 Januari 2011


Kaca Mata Ray Ban

(Kode: GK 173)
SUDAH TERJUAL









Topi Prop Mas Demang

(Kode: GK 1)



Topi prop atau ada yang menyebutnya dengan nama topi krop, yang biasa dipakai mandor dan demang jaman Kolonial Belanda. Bahanya terbuat dari aluminium.
Topi ini saya dapat dari mertua saya. Kebetulan beliau mendapatkannya dari ayahnya yang dahulu kala berkerja di PERTAMINA Cepu.
Pernah di tawar Rp 250.000,- oleh onthelis (Pengemar sepeda onthel) dari Jakarta saat pameran di Jogja dan juga onthelis Solo.

Sebenarnya saya lebih suka dengan topi prop yang biasa dipakai oleh mandor tebu jaman dulu. Bahannya terbuat dari sejenis plastik atau kulit tipis yang biasanya berwarna putih. Selain lebih ringan juga kelihatan lebih elegan. Pernah dapat tapi belum sesuai harapan. Bila kita mencari yang tiruan atau palsu nya mudah saja. Biasanya terbuat dari kardus dibalut kain atau terbuat dari cetakan fiber. Sekilas tampak sama tapi bagi yang sudah tahu mudah untuk mengenali ketidak asliannya.

Jam Kuk-Kuk

(Kode : GK 245)




Jam Bandul Japan

(Kode: GK 54)


Belum sempat-sempat saya memberi komentar untuk posting ini ternyata hari ini saya harus segara dipaksa untuk memberi komentar lantaran jam yang semula memang mau digunakan sendiri harus segera berpindah tangan.

Sebenarnya saya udah sejak lama kepingin memiliki jam bandul seperti ini. Sempat terpikir untuk membeli jam buatan Germany. Tapi melihat harga yang selangit jadi aku urungkan aja niat untuk memilikinya.

Kemudian akhirnya saya melihat jam sejenis tapi buatan Jepang. Yaitu jam bandul dengan merk Takeda Japan ini. Bahkan untuk jam yang satu ini saya udah incer beberapa bulan sebelumnya. Maklum harus menyisihkan uang dulu sambil proses tawar.

Setelah sekian lama menunggu ternyata ada rejeki datang dan sudah pasti jam ini bisa saya bawa pulang. Sesampai di rumah jam ini saya pasang di kamar tidur saya. Awalnya saya harus adaptasi dulu dengan suara dentang jam yang mendentang setiap setengah jam. Belum lagi tatkala tengah malam tiba jam ini justru memecah keheningan malam dengan suara dentang 12 kalinya. Wah lumayan berisik awalnya.

Pistol Doblis Kuno

(Kode: GK 249)
 



Lampu Kerek Motif Merak

(Kode: GK 242)


Beberapa hari kemudian ternyata sudah bisa beradaptasi dengan suara jam ini. Entah lantaran terbiasa atau emang udah kecapaian sekali sehingga terkadang pada tepat jam 12 malam yang biasanya terdengar dentangnya lama kelamaan sering terlewatkan.
Tapi ternyata jam ini tidak berumur panjang. Manakala ada pelanggan dari Jakarta memutuskan untuk membelinya. Sayang memang, tapi mau gimana lagi kalau memang uadah jadi rejekinya. Semoga memang giliran saya untuk mendapatkan jam bandul yang lebih baik lagi ..... Amiin. Kalau uang tidak keburu habiiiiiiiiissssss

Titian Dalem ( Lanjutan )


Inilah beberapa onderdil pilihan yang terangkai dalam humber koleksi saya yang lalu. Memang semula mau dikoleksi sendiri. Sehingga semua onderdil saya coba carikan yang lumayan bagus.
Mulai dari Stang England, Gleyer, Bell Christoper, Lampu Bosch, Pompa tangan Alumunium Primus, Boncengan HOPMI, Kunci Gold Deer, Tromol Presnel England, Velg Dunlop England dan Logo Keraton Kasultanan Yogyakarta.


































































Nasi sudah menjadi bubur. Semua onderdil bahkan tas dan logo Kraton Kasultanan Yogyakarta yang saya beli dari Malioboro saat Ultah Podjok (Paguyuban Onthel Jogja) Juga harus raib bersama sepeda ini.
(Ah... kok perpisahannya di dramatisir sekali tho.....)



Titian Dalem

(Kode:GK 24)




Tidak seharusnya ini terjadi. Sepeda yang tiap hari menemani kemana saja saya pergi, dalam suka maupun duka, dalam hujan dan terik mentari. Akan tetapi apa daya bila sepeda yang setiap hari mengantarku ke gerbang sekolah. Sepeda yang menjadi ciri khas hadir dan tidaknya pak guru bagi murid-muridku. Bahkan sepeda yang setiap hari selalu dikerumuni murid-murid SD sebelum sempat aku meletakkan di tempat parkir sambil berebut salam dan cimum tangan kepadaku. Tak jarang tangan-tangan iseng murid-muridku yang selalu membunyikan bel sepedaku ini.


Kini terpaksa harus aku relakan untuk dimiliki orang lain. Sebenarnya berat juga, tapi setelah melewati perenungan dan masukan dari sahabat onthelis Solo. Maka sepeda yang selalu mengikuti tour dan berbagai acara onthelis Solo , kini harus pergi meninggalkan daku.
Inilah sepeda The Humber kesayanganku. Hanya sedel saja yang sempat saya selamatkan. Sebab seluruh yang menempel termasuk tas yang sering saya gunakan untuk meletakkan buku-buku dan tugas-tugas dari 
muridku, juga harus ikut pergi bersama 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rantang Timbul Ungu

(Kode: GK 233)



Teflon Enamel Blirik

(Kode: GK 232)


Jumat, 31 Desember 2010


Ceret Blirik "Mini"

(Kode: GK 170)








Ceret Enamel "Hijau"



Pot Enamel

(Kode: Gk 103)





Cangkir Enamel

(Kode: GK 102)
SUDAH TERJUAL









Teko Blirik


(Kode: GK 5)

Teko yang satu ini lebih banyak saya gunakan untuk buat cemceman teh saja. Alasannya simple yaitu karena tahan panas, jadi tehnya lebih cepat jadi. Karena ini properti hariim saya maka saya tidak berkeinginan menawarkanya. TAPI bila anda berminat dengan teko enamel sejenis cukup call or sms to
sepeda in


Tea Set Bunga Mawar Hitam

(Kode: GK 250)
 



Teko Keramik

(Kode: GK 201)




0 komentar: