Kamis, 05 April 2012

Info-Info

Dalam kolom Info-Info ini kami melayani Bapak/Ibu/Saudara/Saudari sentonodalem SISKS.Pakoe Boewono, untuk menawarkan produk barang dan jasa, maupun untuk menginformasikan apapun.




Tahukah Saudara bahwa : Kereta api berkembang pesat kebetulan pada zaman PB.X




            Foto : PB.X meninjau Stasiun Kereta Api pada tahun 1936


Tahukah Saudara Bahwa PB.X mirip boneka wayang yang hidup (menurut pendapat Louis Couperus penulis Belanda ternama) ?
Sri Susuhunan Pakoe Boewono X (1866-1939) bersama istrinya Sri Gusti Kanjeng Ratu Mas Mursudarinah. Penulis Belanda yang ternama Louis Couperus (1863-1923) telah menceritakan PB X di buku “Kekuatan Terpendam” (De Stille Kracht, 1900): “Beliau mirip boneka wayang yang hidup. Beliau punya mata yang menyeramkan. Kadang-kadang mata tersebut tidur”. PB X senang membawa banyak bintang jasa pada dada. Seorang pegawai pemerintah Hindia Belanda pernah bertanya kepada beliau mengenai jumlah bintang jasa yang beliau miliki. Dengan memasang muka tanpa ekspresi, PB X membalas: “Gangsal welas kati”. (1 kati = 617 gram, gangsal welas =15)








                                                        Soesoehoenan Soerakarta 1900an

 Orang yang berbadan gemuk ini termasuk orang paling kaya di jaman itu dan beliau adalah orang Indonesia yang pertama yang memiliki mobil di tahun 1894. Beliau mempunya 6 permaisuri (istri resmi) dan 35 anak, tambah 30 anak dari 6 selir (istri sampingan).



Tahukah Anda bahwa Kraton Menuju Kraton yang Mandiri, Terhormat dan Berwibawa ?

 

Tentu kalian tahu, akhir-akhir ini sedang Hot-hotnya kabar perseteruan atau dualisme raja di Kraton Surakarta Hadiningratat alias Kraton Solo. Tentunya hal ini akan banyak disorot media massa lokal bahkan nasional. Untuk mendamaikan dua raja ini pun sampai mengundang pejabat-pejabat penting di negri ini. Inilah 2 Raja di Kraton Solo yaitu Hangabehi dan Tedjowulan. Setelah bersetegak dalam waktu cukup lama sekarang akhirnya menemui titik terang.
Sekarang suasana kraton sudah kondusif dan Jumenengan pun digelar dengan lancar. Bahkan tadi siang diadakan “Kirab Agung Jumenengan SISKS Pakoe Boewono XIII 1945/2012″. Dan menurut sayapun harusnya Kraton baik orang dalam maupun rajanya harus sering-sering menyatu dengan masyarakat solo sehingga anggapan kraton yang dahulu bersekongkol dengan belanda bisa diluruskan. Feodalisme yang dulu ada harusnya bisa lebih merakyat dan tidak membedakan status walaupun status didalam istana itu penting.



Dan pemimpin yang merakyat itulah yang sekarang banyak sekali dicari masyarakat.

Sekedar menyapa masyarakat untuk menunjukan bahwa kraton juga bersahabat dengan masyarakat. Hal sepele seperti inilah yang terkadang banyak dilupakan. Betapa penting Komunikasi Interaksi Sosial . Harapan saya sebagai bagian dari sejarah kawasan dari Kraton Kasunanan Surakarta pun kraton dapat terus Eksis dalam ikt membangun Eks Karesidenan Surakarta. Baik Budaya, Sosial ataupun aspek lainnya.


Tahkah Saudara Kartupos ini diterbitkan oleh Toko Gedeh dari Batavia ?


Kartupos diterbitkan oleh Toko Gedeh dari Batavia ini memperlihatkan Susuhunan Pakoe Boewono X (1866-1939) bersama Residen Soerakarta bernama Willem de Vogel (1848-1922) pada hari besar di Kraton Kasunanan di Solo (juga disebut Kraton Hadiningrat) yang dibangun pada tahun 1745 oleh PB II. Ini namanya Sri Manganti artinya ruang tunggu bila akan menghadap Raja. Ornamen di atas pintu itu simbol kerajaan jaman Sri Susuhunan Amangkurat (Mataram) sebelum pecah menjadi Surakarta & Jogjakarta. Di tiap sudut atas ada ornamen Lingga Yoni. Suhunan PB X punya nama resmi Pakoe Boewono Senopati Ingalogo Abdoerrachman Saijinin Panotogomo. Tetapi si residen yang lahir di Semarang ini menyebut (tidak memanggil) raja populer itu dengan nama sayangan “Sri Masalah” karena PB X mempunyai pengetahuan tentang perilaku manusia yang banyak. Dengan dimikian, beliau pinter menilai dan memanipulasi para petinggi kolonial Belanda.


0 komentar: