Senin, 01 Oktober 2012

Hubungan Dengan Kerajaan-Kerajaan se Nusantara

Karaton Kasunanan Surakarta

KOMPLEKS BANGUNAN KARATON


Bangunan Karaton Surakarta diusahakan mengikuti pola Karaton lama, letaknya membujur dari arah utara ke selatan, adanya Kori Kamandungan dan Prabasuyasa mengikuti Kartasura. Alun-alun, Manguntur dan Wismaya penangkilan mengikuti Negarakertagama. Selain itu adanya tembok trancangan untuk memagari alun-alaun, aling-aling di Sri Manganti, Gapura, Candi Bentar, semuanya mengikuti pola jaman Majapahit atau sebelumnya ( Lombard, III ). Sumber lisan menyebutkan, susunan letak bangunan di kompleks istana meniru susunan istana Bathara Indra di Kaindran Jonggring Saloka ( Tiknopranata, 1962 : 66 ) atau meniru istana Majapahit ( Slamet Mulyana, 1965 : lampiran ; B. Schrieke, 1957 : 127 ) di mana bangunan induk ( Prabasuyasa ) menghadap keselatan, pendapa ( Sasana Sewaka ) menghadap ke timur dan Siti Hinggil dan Pengelaran ( Sasana Sumewa ) menghadap ke utara.
Tata letak Karaton menunjukkan konsep lingkaran-lingkaran konsentris. Di tengah-tengah : Karaton, tempat kediaman raja, ruang yang diistimewakan, dengan parentah jeronya. Di sekitar istana : Ibu kota atau negara, tempat kedudukan parentah jobo, tempat kaum bangsawan di bawah wewenang patih atau “ perdana menteri “. Di sekitar ibu kota adalah lingkaran negaraagung, ibu kota besar atau ibu kota dalam arti luas. Semua tanah negaragung berupa tanah lungguh sebagai gaji pejabat kerajaan dan pengelolaannya diserahkan kepada para bekel. Terakhir adalah daerah mancanegara dan pasisiran atau daerah luar lungguh di bawah seorang bupati ( Lombart, III : 99 )
Di balik pandangan lingkaran-lingkaran konsentris yang global yang merupakan pandangan dari Karaton dan kalangan Karaton, pada tingkat miskrosmos desa-desa juga terdapat suatu konsep ruang, yaitu konsep mencapat mancalima. Sistem mancapat tetap mencerminkan keunggulan pusat, akan tetapi dengan tambahan bahwa daerah pinggirannya terbagi atas empat bagian, yang berkaitan dengan salah satu mata angin. (pigeaud (1928) menghubungkan manca dengan kanca (dengan perantaraan suatu rumus hipotesis kumanca); namun, etimologi telah dilipakan di Jawa dan pada umumnya manca dihubungkan dengan panca “lima”. Maka van Ossenbruggen (1918) menjelaskan mencapat dengan “lima dan empat”. Sistem mancapat itu sudah lama berlaku di daerah pedesaan: di sekeliling sebuah tertentu terkelompok “empat” desa tetangga yang masing-masing terletak di sebelah timur, selatan, barat, dan utara, dan bersama dengan desa di pusat membentuk suatu kesatuan terpadu yang menyiratkan adanya beberapa kewajiban yang harus dipenuhi. Sebagaimana orang perorangan hanya ada berkat hubungan-hubungannya terhadap kelompoknya, desa hanya berfungsi dalam hubungan dengan desa-desa yang mengelilinginya.
Sistem mancapat memegang peran pokok dalam mentalitas orang Jawa, karena berfungsi sebagai sistem klasifikasi. Pada setiap arah mata angin sesungguhnya terkait tidak hanya dengan seorang dewa tetapi juga warna dasar, logam, cairan, hewan, sederet huruf, bahkan hari sepekan. Bukan hanya ruang dalam arti geometrisnya, akan tetapi manusia seutuhnya yang terbagi dalam lima (atau sembilan) kategori menurut suatu sistem perpadanan yang tidak kepalang tanggung. Timur berpadanan dengan warna putih, perak, santan; selatan dengan warna merah, tembaga, darah; barat dengan warna kuning, emas dan madu; utara dengan warna hitam, besi dan nila. Akhirnya, pusat yang seakan-akan sintesis dari keempat arah mata angin dan yang meringkaskan sifat-sifatnya, berpadanan dengan warna-warni, perunggu (logam campuran) dan air yang mendidih (wedang). Damais (1969) menunjukkan bahwa sistem menurut arah mata angin dengan lima warna dasar putih, merah, kuning, hitam (biru-hitam) dan pancawarna itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan perlambangan India atau Cina dan semata-mata bersifat Nusantara.
Siklus 210 hari (5 x 6 x 7) atau Galungan di Bali, dibagi lagi menjadi 30 periode dari 7 hari yang dinamakan wuku (“buku bambu”, persendian) yang masing-masing mempunyai nama dan kekhasan tersendiri.
Dibalik waktu yang berkeping-keping dalam sklus 210 hari, sedikit demi sedikit telah terbrntuk suatu gagasan akan waktu bersiklus yang berskala lebih besar. Gagasan itu mungkin saja diambil dari kosmogoni India yang mengenal empat yuga yang silih berganti. Yuga yang penghabisan, yaitu kaliyuga, ditandai malapetaka dan bencana untuk mendahului awal yang baru. Penulis Babad seringkali merekam sejarah Jawa dalam tiga siklus (Centini), masing-masing tujuh ratus tahun. Tiap siklus terdiri atas tujuh “siklus kecil” dari seratus tahun, yang ditandai oleh karaton yang berbeda-beda (Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, mataram, Kartasura, Surakarta). Setiap abad akhirnya terbagi ke dalam tiga periode dari masing-masing 33, 33, dan 34 tahun.
Menurut RM Riya Yasadipura (1982), karaton dijaga oleh kekuatan yang berada di setiap arah mata angin, yaitu :
1    Di sebelah timur : Sunan Lawu tua, S. Lawu Bagoes, dan S. Lawu Muda
2    Sebelah selatan : Ratu Kidul (K.R. Kencanasari), dan Kyai Udonanggo atau Widonanggo, tidak pria atau
    wanita, tinggal di Dlepih. Juga K.R. Kencono Wungu yang tinggal di Guwo Kalak.  
3     Sebelah barat : K.R. Sekar Kedhaton (Merapi), Kyai Sapoe Jgad dan Sapoe Regol
4     Sebelah utara : K.R. Bathari Kalayuwati tinggal di Hutan krendhawahana. Sering pindah tempat ke
    Tirtadhasar di pelabuhan Ratu.
Lalu yang menjaga gunung kendheng, hutan roban (P. Singasari), dan Kyai Proboyoso di laut utara.
Pandangan mistis tersebut berpangkal pada konsep “Sadulur papat limo pancer”. Untuk itu harus minta berkah Dewa Arah Mata Angin. Arah Timur atau disebut “Purwaning Dumadi”, asal mula segala sesuatu, “mapag sang suryamisesa”. Untuk itulah maka bengunan karataon disesuaikan dengan arah atau menghadapnya: “Pendhapa Besar” menghadap ke timur. Watak timur bathara mahadewa bathari mahadewi, pasaran legi, manuk kunthul, kutha nelaska, berpakaian serba putih. “Dalem Ageng” menghadap ke selatan. Wataknya bathara samba, bathari swacnyana, pasaran pahing, manuk wulung, sagara getih, kithane tembaga, berpakaian serba merah . Sebelah barat Dalem Ageng terdapat bengunan yang disebut Bendengan, menghadap ke barat , sebagai tempat bersemedi. Barat wataknya, bathara Kumajaya bathara Kumaratih, pasaran pon, manuk podhang, segara madu, berpakaian serba kuning. Gapura terakhir masuk kedhaton menghadap ke utara. Wataknya, bethara wisnu bathari sri, pasaran wage, manuk gagak, sagara nila, kutha wesi, berpakaian serba hitam (Serat Kawruh Kalang, Sanapustaka).
Usaha klasifikasi sekaligus pembagian dan penertiban paling tampak di pusat, terutama pada denah ibukota yang dirancang seperti Mandala, yaitu sejenis maket kosmos. Sesuai prinsip-prinsip naskah sansekerta kuno Vastu Sastra, denah itu berpedoman pada keempat arah mata angin dan diatur menurut dua poros besarn yang saling memotong dengan tegak lurus, yang pada umumnya menghasilkan susunan “tapak catur”. Di jantung kota berdiri istana yang merupakan intinya; kota hanyalah bungkusnya. Mandala (Jawa kuno; dari Sk), artinya tempat tinggal sebuah kelopok rohaniawan. Hal ini juga dihubungkan dengan pengertian dharma, yaitu tanah pertanian yang dikelola oleh kaum rohaniawan (dan diurus sesuai dengan peraturan dharma atau tertib, peraturan moral; dharma lepas “tanah bebas pajak”).




Karaton Kasultanan Jogyakarta

Sampai daerah divisi disetujui dalam Perundingan Gijanti, kerajaan Mataram yang didirikan Pangeran Senopati pada tahun 1587, merupakan kekuatan yang dominan di Jawa Tengah. Kerajaan Mataram berpindah lokasi beberapa kali selama pemerintahan Senopati dan keturunannya, dan pada tahun 1745 berada di Surakarta (Solo)
Sebagai kelanjutan dari pertikaian yang terjadi di antara pemerintah Surakarta, Pakubuwono III dan paman tirinya, Pangeran Mangkubumi, pemerintah Belanda menengahi dengan menyetujui perjanjian yang isinya mengangkat Mangkubumi sebagai pemimpin kerajaan terpisah, tetapi memiliki kekuasaan yang sama, yang berpusat di Yogyakarta. Mangkubumi, yang memakai gelar Hamengkubuwono I, pada tahun 1756, membangun istana yang besar bernama Ngayogyakarta Hadiningrat.
Kraton berada di lokasi yang sangat luas, yang karena luasnya dapat digambarkan sebagai kota tertutup. Selain ada bnagunan di dalamnya, daerah ini dikelilingi oleh dinding yang kokoh seperti benteng dan dibangun pada tahun 1785, untuk daerah yang tertutup tersebut dibangun tempat para pegawai kerajaan, abdi dalem, para keluarga bangsawan lainnya yang kurang terkenal di lingkungan kraton. Tempat ini sekarang terdiri atas desa-desa di dalam kraton tempat berpangkalnya seniman dalam gang-gang sempit yang berprofesi sebagai pembuat batik dan pelukis.
Kraton terdiri atas beberapa bangunan, dinding, da taman, yang tersusun dari utara ke selatan dan mempunyai alun-alun di kedua akhir bangunan. Pendopo utama dan ruang singasana, bangsal kencono, yang terletak di tengah kraton, mempunyai atap joglo, yang disangga oleh tiang berukir. Di belakang Pendopo terdapat Bangsal Proboyekso tempat disimpannya benda pusaka kraton. Di seberang Bnagsal Proboyekso terdapat tempat keluarga kerajaan, yang didiami oleh Sultan yang sekarang. Tempat ini tertutup untuk umum. Kesantrian, tempat tinggal pangeran pangeran yang belum menikah, terletak di bangunan yang laus di belakang kandang kuda.
Di belas tempat kereta kraton, yang terletak di pinggir taman utama, terdapat koleksi kereta-kereta kerajaan dan kendaraan lain yang ditarik kuda, termasuk kereta jenasah kerajaan yang terbuat dari kaca. Koleksi peralatan kerajaan yang lengkap dan benda-benda kraton, yang terdapat di Musium Sono Budoyo di sudut barat laut dari alun-alun utara, dibangun pada tahun 1935 oleh Hamengkubuwono VIII. Di bagian barat alun-alun terdapat Mesjid Ageng, yang dibangun pada tahun 1773.
Di taman utama kraton terdapat pasir hitam dari pantai selatan Jawa, yang dotaruh untuk menghormati Nyai Loro Kidul, Raty Laut Selatan, yang izinnya dianggap prasyarat untuk membangun kraton. Hubungan dengan Nyai Loro Kidul ini terlihat lebih jelas di bangunan Taman Sari, yang dibangun oleh Hamengkubuwono I sebagai taman yang nyaman untuk tempat beristirahat.
Taman Sari adalah taman yang sangat luar biasa menariknya, terdiri dari beberapa kolam renang yang merupakan jalan menuju terowongan bawah tanah yang diatasnya tersdedia tempat untuk berjalan kaki. Sebagian lokasi ini telah diperbaiki, tetapi tanpa diisi. Dahulunya taman ini mempunyai kebun-kebun dengan bunga-bunga wangi, beberapa air mancur, dan bunga yang terdapat di jambangan besar yang terbuat dari batu. Taman Sari, selain dibuat untuk tempat beristirahat, dan tempat Sultan bercengkrama dengan istri atau selirnya, juga dibuat sebagai tempat di mana setiap tahun digunakan untuk memperbaharui mandatnya dalam menjalankan pemerintahannya, yaitu dengan cara melakukan hubungan perkawinan secara mistik dengan Nyai Loro Kidul. Ruang tempat pertemuan ini dilakukan masih dapat dilihat, tetapi karena percaya adanya kekuatan spiritual, tempat ini dilarang difoto.
Kraton Yogyakarta sangat luas dan banyak hal yang menarik, tetapi jika semua diuraikan secara menyeluruh dibutuhkan buku yang sangat tebal. Sangat beruntung kraton mempunyai sistem organisasi yang baik sehingga pemandunya dapat memberikan penjelasan dalam beberapa bahasa yang sangat informatif mengenai perkembangan sejarah kraton secara lengkap baik mengenai masalah arsitektur maupun mengenai isinya.
Kraton Yogyakarta adalah bangunan yang bukan saja terbesar dari empat istana yang berada di Jawa Tengah, tetapi juga yang terkaya dalam hal materi maupun kebudayaan. Karena peranan yang penting dari Hamengkubuwono IX dalam perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia, sejak tahun 1945 Kraton Yogyakarta mendapat status kehormatan. Oleh karena itu, kota tempat sendirinya kraton ini disebut Daerah Istimewa Yogyakarta. Kehidupan di dalam kraton masih berlanjut terus sejak beberapa rarus tahun silam. Ditempat ini hampir ribuan pegawai istana masih melayani segala sesuatu yang diperlukan oleh rumah tangga kerajaan.







Mangkunegaran Surakarta


PURO MANGKUNEGARAN

Kerajaan Mangkunegaran dibangun pada tahun 1757, dua tahun setelah dilaksanakan Perundingan Gijanti yang isinya membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta. Kerajaan Surakarta terpisah setelah Pangeran  Raden Mas Said memberontak dan atas dukungan sunan mendirikan kerajaan sendiri. Raden Mas Said memakai gelar Mangkunegoro I dan membangun wilayah kekuasaannya di sebelah barat tepian sungai Pepe di pusat kota yan sekarang bernama Solo.
Puro Mangkunegaran yang sebetulnya lebih tepat disebuttempat kediaman pangeran daripada istana, dibangun mengikuti model kraton tetapi bentuknya lebih kecil. Bangunan ini memiliki ciri arsitektur yang sama dengan kraton, yaitu pada pamedan, pendopo, pringgitan, dalem dan kaputran, yang seluruhnya dikelilingi oleh tembok yang kokoh.
Seperti bangunan utama di kraton Surakarta dan Kraton Yogyakarta, Puro Mangkunegaran mengalami beberapa perubahan selama puncak masa pemerintahan kolonial Belanda di Jawa Tengah. Perubahan ini tampak pada ciri dekorasi Eropa yang popular saat itu.
Begitu pintu gerbang utama dibuka tampaklah pamedan, yaitu lapangan perlatihan prajurit pasukan Mangkunegaran. Bekas pusat pasukan kuda, gedung kavaleri ada di sebelah timur pamedan. Pintu gerbang kedua menuju halaman dalam tempat tempat berdirinya Pendopo Agung yang berukuran 3500 meter persegi. Pendopo yang dapat menampung lima sampai sepuluh ribu orang orang ini, selama bertahun-tahun dianggap pendopo yang terbesar di Indonesia. Tiang-tiang kayu berbentuk persegi yang menyangga atap joglo diambil dari pepohonan yang tumbuh di hutan Mangkunegaran di perbukitan Wonogiri. Seluruh bangunan ini didirikan tanpa menggunakan paku. Di pendopo ini terdapat empat set gamelan, satu di gunakan secara rutin dan tiga lainnya digunakan hanya pada upacara khusus.
Wrna kuning dan hijau yang mendominasi pendopo adalah warna pari anom (padi muda) warna khas keluarga Mangkunegaran. Hiasan langit-langit pendopo yang berwarna terang melambangkan astrologi Hindu-Jawa dan dari langit-langit ini tergantung deretan lampu gantung antik. Pada mulanya orang-orang yang hadir di pendopo duduk bersila di lantai. Kursi baru diperkenalkan pada akhir abad ke-19 waktu pemerintahan Mangkunegoro VI.
Tempat di belakang pendopo terdapat sebuah beranda terbuka, yang bernama Pringgitan, yang mempunyai tangga menuju Dalem Ageng, sebuah ruangan seluas 1000 meter persegi, yang secara tradisional merupakan ruang tidur pengantin kerajaan, sekarang berfungsi sebagai museum. Selain memamerkan petanen (tempat persemayaman Dewi Sri) yang berlapiskan tenunan sutera, yang menjadi pusat perhatian pengunjung, museum ini juga memamerkan perhiasan, senjata-senjata, pakaian-pakaian, medali-medali, perlengkapan wayang, uang logam, gambar raja-raja Mangkunegaran dan benda-benda seni.
Di bagian tengah Puro Mangkunegaran di belakang Dalem Ageng, terdapat tempat kediaman keluarga mangkunegaran. Tempat ini, yang masih memiliki suasana tenang bagaikan di rumah pedesaan milik para bangsawan, sekarang digunakan oleh para keluarga keturunan raja. Taman di bagian dalam yang ditumbuhi pohon-pohon yang berbunga dan semak-semak hias, juga merupajan cagar alam dengan sangkar berisi burung berkicau, patung-patung klasik model eropa, serta kupu-kupu yang berwarna-warni dengan air pancur yang bergerak-gerak dibawah sinar mata hari. Menghadap ke taman terbuka, adalah Beranda Dalem, yang bersudut delapan, dimana terdapat tempat lilin dan perabotan Eropa yang indah. Kaca-kaca berbingkai emas terpasang berjejer di dinding. Dari beranda menuju ke dalam tampak ruang makan dengan jendela kaca berwarna gambar yang berisi pemandangan di Jawa, ruang ganti dan rias para putri raja, serta kamar mandi yang indah.
Sisa peninggalan yang masih tampak jelas pada saat ini adalah perpustakaan yang didirikan pada tahun 1867 oleh Mangkunegoro IV. Perpustakaan tersebut terletak dilantai dua, diatas Kantor Dinas Urusan Istana di sebelah kiri pamedan. Perpustakaan yang daun jendela kayunya dibuka lebar-lebar agar sinar matahari dapat masuk, sampai sekarang masih digunakan oleh para sejarahwan dan pelajar. Mereka dapat menemukan manuskrip yang bersampul kulit, buku-buku berbagai bahasa terutama bahasa Jawa, banyak koleksi-koleksi foto yang bersejarah dan data-data mengenai perkebunan dan pemilikan Mangkunegaran yang lain.
Sampai sekarang Puro Mangkunegaran tetap dipelihara dengan baik dan bengunan ini merupakan satu-satunya istana dimana tempat kediaman keluarga kerajaan terbuka bagi umum. Bagi pengunjung yang ingin tinggal, keraton menyediakan hotel yang di bangun



Paku Alam Jogyakarta





Merupakan yang termuda dari keempat kraton yang berada di Jawa Tengah. Seperti halnya dengan sub wilayah Mangkunegaran di Solo, yang didirikan oleh dinasti Paku Buwono yang lebih muda, Pakualaman adalah kerajaan terpisah didalam kerajaan Yogyakarta. Walaupun terpisah dan merdeka mereka tetap mengakui kesenioran kraton Yogyakarta Hadiningrat.
 Pemerintah kolonial Inggris banyak berperan dalam membangun Puro Pakualaman ini. Masa pemerintahan Inggris yang singkat di Hindia Belanda (1811-1815) terjadi pada saat anti kedatangan penhjajah di kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. Dengan harapan akan kekuatan kraton Surakarta melemah gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles, menggunakan kesempatan untuk turut campur dalam pertikaian yang berkepanjangan antara Hamengkubueono II, pimpinan gerakan anti kolonial dan anaknya Hamengkubuwono III. Raffles kemudian menyerang kraton Yogyakarta, dan atan bantuan paman Sultan Pangeran Nata Kusuma menyingkirkan Hamengkubuwono II dan mengangkat Hamengkubuwono III.
 Atas bantuan Pangeran Nata Kusuma serta untuk mengurangi kekuatan Yogyakarta maka pada tahun 1813, Raffles membuat pemerinahan kedua di Yogyakarta dengan mengangkat Pangeran Nata Kusuma sebagai kepala pemerintahan Sri Paduka Paku Alam I. Paku Alam I membangun pusat pemerintahan tidak jauh disebelah timur kraton Yogyakarta (seperti halnya Pura Mangunegaran diSolo). Paku Alam menghadap ke selatan ini melambangkan penghormatannya terhadap kraton Yogyakarta. Seperti kraton lainnya Pura Paku Alam memiliki kompleks yang dikelilingi oleh tembok yang tinggi dan kokoh. Pemerintah Inggris, selain memberi daerah kraton dan tanah sekitarnya, juga memberi bantuan keuangan setiap bulannya untuk keperluan perajurit Paku Alam I, yang berada di bawah kekuasaan Inggris. 
Tempat pelatihan perajurit (alun-alun) terletak diluar tembok kraton dan terbuka ke jalan umum. Sebelum menjadi Paku Alam I Pangeran Nata Kusuma sangat tekun mempelajari kebudayaan dan kesustraan jawa sehingga dia disebut sebagai peletak dasar kebudayaan di kraton Yogyakarta. Beliau juga mempelajari polotik dan hukum suatu negara kerajaan. Ketika mepmimpin pemerinahan sendiri, beliau mempelopori pengembangan kultur, dan memberi sendiri pelajaran ilmu pengetahuan dan tata negara keapa pangeran dan raja. Beliau juga mendatangkan guru-guru pelajaran agama dan kesustraan dan tertarik mendukung kebudayaan dan kesenian sebagai landasan dasar untuk menunjang pengembangan Pakualaman dalam hal perayaan dan pertunjukan kesenian terutama di bidang seni tari. Pura Pakualaman sekarang didiami oleh Paku Alam VIII, terbagi menjadi tiga bagian dengan tata letak yang berderetan. Bagian pertama terdiri atas pendopo atau Bnagsal Sewotomo, taman bagian luar, dan kantor adminstrasi, yang terbuka untuk umum. Disebelah kanan pendopo terdapat paviliun unik , yang diatara ujung atapnya berdinding dengan bentuk segitiga berhiaskan ukiran kayu yang detil, berbentuk rumah musim panas Eropa, dan dikelilingi taman yang indah. 
Di tempat bekas penyimpanan kereta, yaitu dekat gerbang utama kraton, terdapat museum kecil yang berisi seragam militer lama, kostum tari, wayang, gamelan, dan gambar tokoh-tokoh Pakualaman sebelumnya. Diruang terpisah terdapat kereta-kereta kerajaan, termasuk sebuah kereta yang baru-baru ini direnovasi. Kereta ini diberikan kepada Paku Alam I oleh Thomas Stamford Raffes pada tahun 1814.


Kesultanan Cirebon
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Cirebon


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau. Lokasinya di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, membuatnya menjadi pelabuhan dan "jembatan" antara kebudayaan Jawa dan Sunda sehingga tercipta suatu kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda.
Daftar isi  [sembunyikan]
1 Sejarah
2 Perkembangan awal
2.1 Ki Gedeng Tapa
2.2 Ki Gedeng Alang-Alang
3 Masa Kesultanan Cirebon (Pakungwati)
3.1 Pangeran Cakrabuana (…. –1479)
3.2 Sunan Gunung Jati (1479-1568)
3.3 Fatahillah (1568-1570)
3.4 Panembahan Ratu I (1570-1649)
3.5 Panembahan Ratu II (1649-1677)
4 Terpecahnya Kesultanan Cirebon
4.1 Perpecahan I (1677)
4.2 Perpecahan II (1807)
5 Masa kolonial dan kemerdekaan
6 Perkembangan terakhir
7 Lihat pula
8 Referensi
9 Catatan kaki
[sunting]Sejarah

Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran), karena di sana bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang berbeda-beda untuk bertempat tinggal atau berdagang.
Mengingat pada awalnya sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah sebagai nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai serta pembuatan terasi, petis, dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon inilah berkembanglah sebutan cai-rebon (Bahasa Sunda:, air rebon) yang kemudian menjadi Cirebon.
Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman, Cirebon kemudian menjadi sebuah kota besar dan menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa baik dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan di kepulauan Nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Selain itu, Cirebon tumbuh menjadi cikal bakal pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.
[sunting]Perkembangan awal

[sunting]Ki Gedeng Tapa
Ki Gedeng Tapa (atau juga dikenal dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati) adalah seorang saudagar kaya di pelabuhan Muarajati, Cirebon. Ia mulai membuka hutan ilalang dan membangun sebuah gubug dan sebuah tajug (Jalagrahan) pada tanggal 1 Syura 1358 (tahun Jawa) bertepatan dengan tahun 1445 Masehi. Sejak saat itu, mulailah para pendatang mulai menetap dan membentuk masyarakat baru di desa Caruban.
[sunting]Ki Gedeng Alang-Alang
Kuwu atau kepala desa Caruban yang pertama yang diangkat oleh masyarakat baru itu adalah Ki Gedeng Alang-alang. Sebagai Pangraksabumi atau wakilnya, diangkatlah Raden Walangsungsang, yaitu putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang, yang tak lain adalah puteri dari Ki Gedeng Tapa. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Walangsungsang yang juga bergelar Ki Cakrabumi diangkat menjadi penggantinya sebagai kuwu yang kedua, dengan gelar Pangeran Cakrabuana.
[sunting]Masa Kesultanan Cirebon (Pakungwati)

[sunting]Pangeran Cakrabuana (…. –1479)
Pangeran Cakrabuana adalah keturunan Pajajaran. Putera pertama Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang kedua bernama SubangLarang (puteri Ki Gedeng Tapa). Nama kecilnya adalah Raden Walangsungsang, setelah remaja dikenal dengan nama Kian Santang. Ia mempunyai dua orang saudara seibu, yaitu Nyai Lara Santang/ Syarifah Mudaim dan Raden Sangara.
Sebagai anak sulung dan laki-laki ia tidak mendapatkan haknya sebagai putera mahkota Pakuan Pajajaran. Hal ini disebabkan oleh karena ia memeluk agama Islam (diturunkan oleh Subanglarang - ibunya), sementara saat itu (abad 16) ajaran agama mayoritas di Pajajaran adalah Sunda Wiwitan (agama leluhur orang Sunda) Hindu dan Budha. Posisinya digantikan oleh adiknya, Prabu Surawisesa, anak laki-laki Prabu Siliwangi dari istrinya yang ketiga Nyai Cantring Manikmayang.
Ketika kakeknya Ki Gedeng Tapa yang penguasa pesisir utara Jawa meninggal, Walangsungsang tidak meneruskan kedudukan kakeknya, melainkan lalu mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Dengan demikian, yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Pangeran Cakrabuana, yang usai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman, tampil sebagai "raja" Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.
[sunting]Sunan Gunung Jati (1479-1568)
Pada tahun 1479 M, kedudukannya kemudian digantikan putra adiknya, Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir, yakni Syarif Hidayatullah (1448-1568) yang setelah wafat dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan bergelar pula sebagai Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah.
Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulailah oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Setelah Sunan Gunung Jati wafat, terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam Cirebon. Pada mulanya calon kuat pengganti Sunan Gunung Jati ialah Pangeran Dipati Carbon, Putra Pangeran Pasarean, cucu Sunan Gunung Jati. Namun, Pangeran Dipati Carbon meninggal lebih dahulu pada tahun 1565.
[sunting]Fatahillah (1568-1570)
Kekosongan pemegang kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat keraton yang selama Sunan Gunung Jati melaksanakan tugas dakwah, pemerintahan dijabat oleh Fatahillah atau Fadillah Khan. Fatahillah kemudian naik takhta, dan memerintah Cirebon secara resmi menjadi raja sejak tahun 1568. Fatahillah menduduki takhta kerajaan Cirebon hanya berlangsung dua tahun karena ia meninggal dunia pada tahun 1570, dua tahun setelah Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Sunan Gunung Jati di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung.[1]
[sunting]Panembahan Ratu I (1570-1649)
Sepeninggal Fatahillah, oleh karena tidak ada calon lain yang layak menjadi raja, takhta kerajaan jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati yaitu Pangeran Emas putra tertua Pangeran Dipati Carbon atau cicit Sunan Gunung Jati. Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu I dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun.
[sunting]Panembahan Ratu II (1649-1677)
Setelah Panembahan Ratu I meninggal dunia pada tahun 1649, pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim, karena ayah Pangeran Rasmi yaitu Pangeran Seda ing Gayam atau Panembahan Adiningkusumah meninggal lebih dahulu. Pangeran Rasmi kemudian menggunakan nama gelar ayahnya almarhum yakni Panembahan Adiningkusuma yang kemudian dikenal pula dengan sebutan Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II.
Panembahan Girilaya pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua kekuatan kekuasaan, yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Banten merasa curiga sebab Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram (Amangkurat I adalah mertua Panembahan Girilaya). Mataram dilain pihak merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri, karena Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten adalah sama-sama keturunan Pajajaran. Kondisi ini memuncak dengan meninggalnya Panembahan Girilaya di Kartasura dan ditahannya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya di Mataram.
Panembahan Girilaya adalah menantu Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Kesultanan Mataram. Makamnya di Jogjakarta, di bukit Girilaya, dekat dengan makam raja raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul. Menurut beberapa sumber di Imogiri maupun Girilaya, tinggi makam Panembahan Girilaya adalah sejajar dengan makam Sultan Agung di Imogiri.
[sunting]Terpecahnya Kesultanan Cirebon

Dengan kematian Panembahan Girilaya, maka terjadi kekosongan penguasa. Sultan Ageng Tirtayasa segera menobatkan Pangeran Wangsakerta sebagai pengganti Panembahan Girilaya, atas tanggung jawab pihak Banten. Sultan Ageng Tirtayasa kemudian mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu Trunojoyo, yang saat itu sedang memerangi Amangkurat I dari Mataram. Dengan bantuan Trunojoyo, maka kedua putra Panembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan dan dibawa kembali ke Cirebon untuk kemudian juga dinobatkan sebagai penguasa Kesultanan Cirebon.
[sunting]Perpecahan I (1677)
Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon, dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677. Ini merupakan babak baru bagi keraton Cirebon, dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya. Dengan demikian, para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah:
Sultan Keraton Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1677-1703)
Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677-1723)
Pangeran Wangsakerta, sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677-1713).
Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya ini dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, karena keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di ibukota Banten. Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing. Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai kaprabonan (paguron), yaitu tempat belajar para intelektual keraton. Dalam tradisi kesultanan di Cirebon, suksesi kekuasaan sejak tahun 1677 berlangsung sesuai dengan tradisi keraton, di mana seorang sultan akan menurunkan takhtanya kepada anak laki-laki tertua dari permaisurinya. Jika tidak ada, akan dicari cucu atau cicitnya. Jika terpaksa, maka orang lain yang dapat memangku jabatan itu sebagai pejabat sementara.
[sunting]Perpecahan II (1807)
Suksesi para sultan selanjutnya pada umumnya berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803), dimana terjadi perpecahan karena salah seorang putranya, yaitu Pangeran Raja Kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama Kesultanan Kacirebonan.
Kehendak Pangeran Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan keluarnya besluit (Bahasa Belanda: surat keputusan) Gubernur-Jendral Hindia Belanda yang mengangkat Pangeran Raja Kanoman menjadi Sultan Carbon Kacirebonan tahun 1807 dengan pembatasan bahwa putra dan para penggantinya tidak berhak atas gelar sultan, cukup dengan gelar pangeran. Sejak itu di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu Kesultanan Kacirebonan, pecahan dari Kesultanan Kanoman. Sementara tahta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV yang lain bernama Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811).
[sunting]Masa kolonial dan kemerdekaan

Sesudah kejadian tersebut, pemerintah Kolonial Belanda pun semakin dalam ikut campur dalam mengatur Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan dari keraton-keraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. Puncaknya terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926, dimana kekuasaan pemerintahan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan disahkannya Gemeente Cheirebon (Kota Cirebon), yang mencakup luas 1.100 Hektar, dengan penduduk sekitar 20.000 jiwa (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Tahun 1942, Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2.450 hektar.
Pada masa kemerdekaan, wilayah Kesultanan Cirebon menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara umum, wilayah Kesultanan Cirebon tercakup dalam Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon, yang secara administratif masing-masing dipimpin oleh pejabat pemerintah Indonesia yaitu walikota dan bupati.
[sunting]Perkembangan terakhir

Setelah masa kemerdekaan Indonesia, Kesultanan Cirebon tidak lagi merupakan pusat dari pemerintahan dan pengembangan agama Islam. Meskipun demikian keraton-keraton yang ada tetap menjalankan perannya sebagai pusat kebudayaan masyarakat khususnya di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Kesultanan Cirebon turut serta dalam berbagai upacara dan perayaan adat masyarakat dan telah beberapa kali ambil bagian dalam Festival Keraton Nusantara (FKN).
Umumnya, Keraton Kasepuhan sebagai istana Sultan Sepuh dianggap yang paling penting karena merupakan keraton tertua yang berdiri tahun 1529, sedangkan Keraton Kanoman sebagai istana Sultan Anom berdiri tahun 1622, dan yang terkemudian adalah Keraton Kacirebonan dan Keraton Kaprabonan.
Pada awal bulan Maret 2003, telah terjadi konflik internal di keraton Kanoman, antara Pangeran Raja Muhammad Emirudin dan Pangeran Elang Muhammad Saladin, untuk pengangkatan tahta Sultan Kanoman XII. Pelantikan kedua sultan ini diperkirakan menimbulkan perpecahan di kalangan kerabat keraton tersebut.





Kerajaan-Kerajaan di Indonesia yang termasuk Zelf Bestuurende Landschapen:


A
1.Abubu-Maluku,Indonesia
2.Aceh Darussalam-Sumatra,Indonesia
3.Andora-Nusa Tenggara,Indonesia
4.Aitoon-Nusa Tenggara,Indonesia
5.Ajer Lebu-Sumatra,Indonesia
6.Alaka-Rohomoni-Maluku,Indonesia
7.Alita-Sulawesi,Indonesia
8.Allah-Sulawesi,Indonesia
9.Ama Iha I-Maluku,Indonesia
10.Amaabi Oefeto-Nusa Tenggara,Indonesia
11.Amabi-Nusa Tenggara,Indonesia
12.Amahei-Nusa Tenggara,Indonesia
13.Amanatun-Nusa Tenggara,Indonesia
14.Amantubilah-Mempawah-Kalimantan,Indonesia
15.Amanuban-Nusa Tenggara,Indonesia
16.Amarasi-Nusa Tenggara,Indonesia
17.Ambawang-Kalimantan,Indonesia
18.Ambeno-Nusa Tenggara,Indonesia
19.Ambeno Kolabe-Nusa Tenggara,Indonesia
20.Ambeno Mosu Talip-Nusa Tenggara,Indonesia
21.Ambenu-Nusa Tenggara,Indonesia
22.Amfoan-Nusa Tenggara,Indonesia
23.Amfoan Naikliu-Nusa Tenggara,Indonesia
24.Amfoan Timau-Nusa Tenggara,Indonesia
25.Amfoang-Nusa Tenggara,Indonesia
26.Ampibabo-Sulawesi,Indonesia
27.Anakalang-Nusa Tenggara,Indonesia
28.Andeue dan Lala-Sumatra,Indonesia
29.Arai-Sumatra,Indonesia
30.Arguni-Papua,Indonesia



B

1.Baa-Nusa Tenggara,Indonesia
2.Bacan-Nusa Tenggara,Indonesia
3.Bada-Sulawesi,Indonesia
4.Badung-Bali,Indonesia
5.Bagoh-Sumatra,Indonesia
6.Bait-Nusa Tenggara,Indonesia
7.Baju-Sumatra,Indonesia
8.Balangnipa-Sulawesi,Indonesia
9.Balatu-Sulawesi,Indonesia
10.Balepe-Sulawesi,Indonesia
11.Bambel-Sumatra,Indonesia
12.Bambi dan Unu-Sumatra,Indonesia
13.Banasu-Sulawesi,Indonesia
14.Banawa-Sulawesi,Indonesia
15.Bancea dan Puumbolo-Sulawesi,Indonesia
16.Banga-Sulawesi,Indonesia
17.Banggai-Sulawesi,Indonesia
18.Bangkala-Sulawesi,Indonesia
19.Bangkalan-Jawa/Madura,Indonesia
20.Bangli-Bali,Indonesia
21.Banjar-Kalimantan,Indonesia
22.Banten-Jawa,Indonesia
23.Barang Barang-Sulawesi,Indonesia
24.Barnusa-Nusa Tenggara,Indonesia
25.Barru-Sulawesi,Indonesia
26.Baruija-Sulawesi,Indonesia
27.Barus-Sumatra,Indonesia
28.Barusjahe-Sumatra,Indonesia
29.Batanta-Papua,Indonesia
30.Batu Kankung-Sumatra,Indonesia
31.Batulapa-Sulawesi,Indonesia
32.Batulicin-Kalimantan,Indonesia
33.Batulolong-Nusa Tenggara,Indonesia
34.Bau-sulawesi,Indonesia
35.Beboki-Nusa Tenggara,Indonesia
36.Bedagei-Sumatra,Indonesia
37.Bedahulu atau Bedulu-Bali,Indonesia
38.Belu-Nusa Tenggara,Indonesia
39.Benu-Nusa Tenggara,Indonesia
40.Benua Tamiang-Sumatra,Indonesia
41.Berau-Kalimantan,Indonesia
42.Besiana-Nusa Tenggara,Indonesia
43.Besitan-Sumatra,Indonesia
44.Besoa-Sulawesi,Indonesia
45.Beutong-Sumatra,Indonesia
46.Bila atau Bilah-Sumatra,Indonesia
47.Bilba-Nusa Tenggara,Indonesia
48.Bima-Nusa Tenggara,Indonesia
49.Binamo-Sulawesi,Indonesia
50.Binamu-Sulawesi,Indonesia
51.Bingei-Sumatra,Indonesia
52.Bintamo-Sulawesi,Indonesia
53.Bintauna-Sulawesi,Indonesia
54.Bintuni-Papua,Indonesia
55.Binuang-Sulawesi,Indonesia
56.Birumaru-Sulawesi,Indonesia
57.Blagar-Nusa Tenggara,Indonesia
58.Blambangan-Jawa,Indonesia
59.Blang Meh-Sumatra,Indonesia
60.Blang Pedir-Sumatra,Indonesia
61.Blang Pidie-Sumatra,Indonesia
62.Blang Mangat-Sumatra,Indonesia
63.Blang Me-Sumatra,Indonesia
64.Blanyu-Bali,Indonesia
65.Blega-Jawa,Indonesia
66.Bluek-Sumatra,Indonesia
67.Boalemo-Sulawesi,Indonesia
68.Bobasan-Sumatra,Indonesia
69.Boga Sukudana-Sumatra,Indonesia
70.Bohorok-Sumatra,Indonesia
71.Bokai-Nusa Tenggara,Indonesia
72.Bolaang Itang-Sulawesi,Indonesia
73.Bolaang Mongondow-Sulawesi,Indonesia
74.Bolaang Uki-Sulawesi,Indonesia
75.Bolano-Sulawesi,Indonesia
76.Bone-Sulawesi,Indonesia
77.Bonea-sulawesi,Indonesia
78.Bonerate-sulawesi,Indonesia
79.Bontobangun-Sulawesi,Indonesia
80.Bontobiraeng-Sulawesi,Indonesia
81.boti-Nusa Tenggara,Indonesia
82.Buakaju-Sulawesi,Indonesia
83.Bubon-Sumatra,Indonesia
84.Buging-sumatra,Indonesia
85.Buleleng-Bali,Indonesia
86.Bulo Bulo-Sulawesi,Indonesia
87.Bulungan-Kalimantan,Indonesia
88.Bungku-Sulawesi,Indonesia
89.Buntu Batu-Sulawesi,Indonesia
90.Bunut-Kalimantan,Indonesia
91.Buol-Sulawesi,Indonesia
92.Buton-Sulawesi,Indonesia


C

1.Cantung-Kalimantan,Indonesia
2.Cenrana-Sulawesi,Indonesia
3.Cerenti-Sumatra,Indonesia
4.Cirebon-Jawa,Indonesia




D

1.Dafalu-Nusa Tenggara,Indonesia
2.Daha-Jawa,Indonesia
3.Daha-Kalimantan,Indonesia
4.Dehla-Nusa Tenggara,Indonesia
5.Deli-Sumatra,Indonesia
6.Demak-Jawa,Indonesia
7.Denai-Sumatra,Indonesia
8.Dengka-Nusa Tenggara,Indonesia
9.Denpasar-Bali,Indonesia
10.Dharmasraya-Sumatra,Indonesia
11.Dirma-Nusa Tenggara,Indonesia
12.Diu-Nusa Tenggara,Indonesia
13.Dolago-Sulawesi,Indonesia
14.Dolo-Sulawesi,Indonesia
15.Dolok Silau-Sumatra,Indonesia
16.Dompu-Nusa Tenggara,Indonesia



E

1.Empat Koto Rokan-Sumatra,Indonesia
2.Ende-Nusa Tenggara,Indonesia
3.Enjung-Sumatra,Indonesia
4.Enrekang-Sulawesi,Indonesia



F

1.Faan-Nusa Tenggara,Indonesia
2.Fatagar-Papua,Indonesia
3.Fatu Leu-Nusa Tenggara,Indonesia
4.fialarang-nusa Tenggara,Indonesia
5.Foenay-Nusa Tenggara,Indonesia



G

1.Gajo Lues-Sumatra,Indonesia
2.Galesong-Sulawesi,Indonesia
3.Galuh-Jawa,Indonesia
4.Gassib-sumatra,Indonesia
5.Gaura-Nusa Tenggara,Indonesia
6.Gebang-Jawa,Indonesia
7.Gedong atau Geudong-Sumatra,Indonesia
8.Gelgel-Bali,Indonesia
9.Geumpang-sumatra,Indonesia
10.Gianyar-Bali,Indonesia
11.Gighen-Sumatra,Indonesia
12.Glumpang Duwa-Sumatra,Indonesia
13.Glumpang Pajong-Sumatra,Indonesia
14.Gorontalo-Sulawesi,Indonesia
15.Gowa-Sulawesi,Indonesia
16.Gresik atau Giri Kedaton-Jawa,Indonesia
17.Gunung Mutis-Nusa Tenggara,Indonesia
18.Gunung Sahilan-Sumatra,Indonesia
19.Gunung Tabur-Kalimantan,Indonesia


H

1.Harneno-Nusa Tenggara,Indonesia
2.Haruku-Nusa Tenggara,Indonesia
3.Hitu-Maluku,Indonesia




I

1.Iboih-Sumatra,Indonesia
2.Idi Besar-Sumatra,Indonesia
3.Idi Ketjil-Sumatra,Indonesia
4.Idi Rajeu atau Idi Rajut-Sumatra,Indonesia
5.Idi Tjut-Sumatra,Indonesia
6.Ilot-Sumatra,Indonesia
7.Indamar-Sumatra,Indonesia
8.Indragiri-Sumatra,Indonesia
9.Insana-Nusa Tenggara,Indonesia
10.Ismahayana Landak-Kalimantan,Indonesia





J

1.Jailolo-Nusa Tenggara,Indonesia
2.Jambi-Sumatra,Indonesia
3.Jayakarta-Jawa,Indonesia
4.Jenggala atau Janggala-Jawa,Indonesia
5.Jenilu-Nusa Tenggara,Indonesia
6.Jipang-Jawa,Indonesia
7.Jolok Ketjil-Sumatra,Indonesia
8.Jongkong-Kalimantan,Indonesia
9.Julo Rajeu-Sumatra,Indonesia
10.Julo Tjut-Sumatra,Indonesia




K

1.Kadipaten Pakualaman-Jawa,Indonesia
2.Kadriah Pontianak-Kalimantan,Indonesia
3.Kaidipang Besar-Sulawesi,Indonesia
4.Kaimana-Papua,Indonesia
5.Kajuara-Sulawesi,Indonesia
6.Kalao-Sulawesi,Indonesia
7.Kalaota-Sulawesi,Indonesia
8.Kalingga-Jawa,Indonesia
9.Kambera-Nusa Tenggara,Indonesia
10.Kampong Raja-Sumatra,Indonesia
11.Kanatang-Nusa Tenggara,Indonesia
12.Kandali-Sumatra,Indonesia
13.Kandis-Kuantan-Sumatra,Indonesia
14.KangaE-Nusa Tenggara,Indonesia
15.Kanjuruhan-Jawa,Indonesia
16.Kapunduk-Nusa Tenggara,Indonesia
17.Karang-Sumatra,Indonesia
18.Karangasem-Bali,Indonesia
19.Kasa-Sulawesi,Indonesia
20.Kasepuhan Cirebon-Jawa,Indonesia
21.Kasim-Papua,Indonesia
22.Kasimbar-Sulawesi,Indonesia
23.Kasunanan Surakarta Hadiningrat-Jawa,Indonesia
24.Kawai XVI-Sumatra,Indonesia
25.Kayaudi-Sulawesi,Indonesia
26.Kediri-Jawa,Indonesia
27.Kejuruan Muda-Sumatra,Indonesia
28.Keka-Nusa Tenggara,Indonesia
29.Kendahe-Sulawesi,Indonesia
30.Keo-Nusa Tenggara,Indonesia
31.Kepenuhan-Sumatra,Indonesia
32.Kerambitan-Bali,Indonesia
33.Kesiman-Bali,Indonesia
34.Kesultanan Brunei Darussalam-Brunei,
35.Keumala-Sumatra,Indonesia
36.Keureutu-Sumatra,Indonesia
37.Kewar-Nusa Tenggara,Indonesia
38.Kilang-Maluku,Indonesia
39.Klein Sonbait-Nusa Tenggara,Indonesia
40.Kluang-Sumatra,Indonesia
41.Klumpang Duwa-Sumatra,Indonesia
42.Klumpang Pajong-Sumatra,Indonesia
43.Klungkung-Bali,Indonesia
44.Kodi Belagar-Nusa Tenggara,Indonesia
45.Kodi Bengado-Nusa Tenggara,Indonesia
46.Kodi Besar-Nusa Tenggara,Indonesia
47.Kolaka-Sulawesi,Indonesia
48.Kolana-Sulawesi,Indonesia
49.Kolongan-Sulawesi,Indonesia
50.Komisi-Papua,Indonesia
51.Konaweha-Sulawesi,Indonesia
52.Kondeha-Sulawesi,Indonesia
53.Korbafu-Nusa Tenggara,Indonesia
54.Kota Besar-Sumatra,Indonesia
55.Kota Pinang-Sumatra,Indonesia
56.Kotawaringin-Kalimantan,Indonesia
57.Koto Kampar-sumatra,Indonesia
58.Koying-Sumatra,Indonesia
59.Krueng Pase-Sumatra,Indonesia
60.Krueng Sabe atau Krueng Sabil-Sumatra,Indonesia
61.Krueng Seumideuen-Sumatra,Indonesia
62.Kuala Batee-Sumatra,Indonesia
63.Kuala Bateo-Sumatra,Indonesia
64.Kuala Batu-Sumatra,Indonesia
65.Kuala dan Ledong-Sumatra,Indonesia
66.Kualuh-Sumatra,Indonesia
67.Kuantan-Sumatra,Indonesia
68.Kubu-Kalimantan,Indonesia
69.Kuet-sumatra,Indonesia
70.Kui-Nusa Tenggara,Indonesia
71.Kulawi-Sulawesi,Indonesia
72.Kunto Darussalam-Sumatra,Indonesia
73.Kupang Helong-Nusa Tenggara,Indonesia
74.Kuripan-Kalimantan,Indonesia
75.Kuripan atau Kahuripan-Jawa,Indonesia
76.Kusa-Nusa Tenggara,Indonesia
77.Kutabuluh-Sumatra,Indonesia
78.Kutai-Kalimantan,Indonesia
79.Kutai Kartanegara ing Martadipura (Kesultanan Kutai Kartanegara)-Kalimantan,Indonesia
80.Kutai Martapura-Kalimantan,Indonesia





L

1.Labakkang-Sulawesi,Indonesia
2.Labala-Nusa Tenggara,Indonesia
3.Labuhan Haji-Sumatera,Indonesia
4.Lage-Sulawesi,Indonesia
5.Lageuen-Sumatra,Indonesia
6.Lahayong-Nusa Tenggara,Indonesia
7.Laikang-Sulawesi,Indonesia
8.Laisolat-Nusa Tenggara,Indonesia
9.Laiwui-Sulawesi,Indonesia
10.Lakatang-Sulawesi,Indonesia
11.Lakekun-Sulawesi,Indonesia
12.Lakoka-Nusa Tenggara,Indonesia
13.Lama Muda-Sumatra,Indonesia
14,Lama Tuha-Sumatra,Indonesia
15.Lamahala-Nusa Tenggara,Indonesia
16.Lamakera-Nusa Tenggara,Indonesia
17.Lamaknen-Nusa Tenggara,Indonesia
18.Lamaksenulu-Nusa Tenggara,Indonesia
19.Lambeusu-Sumatra,Indonesia
20.Lambu-Nusa Tenggara,Indonesia
21.Lamuru-Sulawesi,Indonesia
22.Landak-Kalimantan,Indonesia
23.Landu-Nusa Tenggara,Indonesia
24.Langkat-Sumatra,Indonesia
25.Langsa-Sumatra,Indonesia
26.Lapai-Sulawesi,Indonesia
27.Larantuka-Nusa Tenggara,Indonesia
28.Lauli-Nusa Tenggara,Indonesia
29.Laura-Nusa Tenggara,Indonesia
30.Lawajong-Nusa Tenggara,Indonesia
31.Laweueng-Sumatra,Indonesia
32.Lawonda-Nusa Tenggara,Indonesia
33.Lelain-Nusa Tenggara,Indonesia
34.Lelenuk-Nusa Tenggara,Indonesia
35.Lengkese-Sulawesi,Indonesia
36.Lepan-Sumatra,Indonesia
37.Leukon atau Leukeun-Sumatra,Indonesia
38.Lewa-Nusa Tenggara,Indonesia
39.Lhok Kaju-Sumatra,Indonesia
40.Lhok Kruet-Sumatra,Indonesia
41.Lhok Pawoh Selatan-Sumatra,Indonesia
42.Lhok Pawoh Utara-Sumatra,Indonesia
43.Lhok Rigaih-Sumatra,Indonesia
44.Lhok Bubon-Sumatra,Indonesia
45.Lhok Seumawe-Sumatra,Indonesia
46.Liae-Nusa Tenggara,Indonesia
47.Lidak-Nusa Tenggara,Indonesia
48.Lilinta-Papua,Indonesia
49.Lima Laras-Sumatra,Indonesia
50.Lima Puloh-Sumatra,Indonesia
51.Limboto-Sulawesi,Indonesia
52.Lindai-Sumatra,Indonesia
53.Lio-Nusa Tenggara,Indonesia
54.Lise-Nusa Tenggara,Indonesia
55.Logas-Sumatra,Indonesia
56.Lohayong-Nusa Tenggara,Indonesia
57.Loleh-Nusa Tenggara,Indonesia
58.Lombok-Nusa Tenggara,Indonesia
59.Lubuk Ambacang-Sumatra,Indonesia
60.Lubuk Jambi-Sumatra,Indonesia
61.Lubuk Ramo-Sumatra,Indonesia
62.Luwu-Sulawesi,Indonesia



M

1.Madura-Jawa,Indonesia
2.Maiwa-Sulawesi,Indonesia
3.Majapahit-Jawa,Indonesia
4.Majene-Sulawesi,Indonesia
5.Makale-Sulawesi,Indonesia
6.Makasar-Sulawesi,Indonesia
7.Makier-Nusa Tenggara,Indonesia
8.Malimbong-Sulawesi,Indonesia
9.Malua-Sulawesi,Indonesia
10.Maluku-Nusa Tenggara,Indonesia
11.Malusetasi-Sulawesi,Indonesia
12.Maluwa-Sulawesi,Indonesia
13.Mambulu-Sulawesi,Indonesia
14.Mamuju-Sulawesi,Indonesia
15.Manbait-Nusa Tenggara,Indonesia
16.Mandalle-Sulawesi,Indonesia
17.Mandeo-Nusa Tenggara,Indonesia
18.Manganitu-Sulawesi,Indonesia
19.Manggarai-Nusa Tenggara,Indonesia
20.Mangkunegaran-Jawa,Indonesia
21.Manjuto atau Pamuncak Tigo Kaum-Sumatra,Indonesia
22.Manoletten-Nusa Tenggara,Indonesia
23.Manubait-Nusa Tenggara,Indonesia
24.Mapia-Papua,Indonesia
25.Mappa-Sulawesi,Indonesia
26.Marang-Sulawesi,Indonesia
27.Marioriawa-Sulawesi,Indonesia
28.Marioriawo-Sulawesi,Indonesia
29.Marioriwawo-Sulawesi,Indonesia
30.Maros-Sulawesi,Indonesia
31.Massu Karera-Sulawesi,Indonesia
32.Matangkuli-Sumatra,Indonesia
33.Matan-Tanjungpura-Kalimantan,Indonesia
34.Mataram Hindu atau Mataram Kuno-Jawa,Indonesia
35.Mataram Islam-Jawa,Indonesia
36.Mataru-Nusa Tenggara,Indonesia
37.Maukatar-Nusa Tenggara,Indonesia
38.Maumutin-Nusa Tenggara,Indonesia
39.Mbuli-Nusa Tenggara,Indonesia
40.Me Tereuen-Sumatra,Indonesia
41.Medang atau Sumedang Kamulyan-Jawa,Indonesia
42.Medang Kahiyangan-Jawa,Indonesia
43.Melayu Jambi-Sumatra,Indonesia
44.Meliau-Kalimantan,Indonesia
45.Melolo-Nusa Tenggara,Indonesia
46.Membora-Nusa Tenggara,Indonesia
47.Mempawah (Kerajaan Mempawah)-Kalimantan,Indonesia
48.Mengkendek-Sulawesi,Indonesia
49.Mengwi-Bali,Indonesia
50.Menia-Nusa Tenggara,Indonesia
51.Menjili-Nusa Tenggara,Indonesia
52.Menungul-Kalimantan,Indonesia
53.Mesara-Nusa Tenggara,Indonesia
54.Meuke-Sumatra,Indonesia
55.Meulaboh-Sumatra,Indonesia
56.Meureubok-Sumatra,Indonesia
57.Meureudu-Sumatra,Indonesia
58.Minangkabau-Sumatra,Indonesia
59.Miomaffo-Nusa Tenggara,Indonesia
60.Misool-Papua,Indonesia
61.Moko Moko-Sumatra,Indonesia
62.Mollo-Nusa Tenggara,Indonesia
63.Mori-Sulawesi,Indonesia
64.Moutong-Sulawesi,Indonesia
65.Muna-Sulawesi,Indonesia
66.Musa-Sumatra,Indonesia



N

1.Nage-Nusa Tenggara,Indonesia
2.Naitemu-Nusa Tenggara,Indonesia
3.Namatota-Papua,Indonesia
4.Nan Sarunai-Kalimantan,Indonesia
5.Napu-Sulawesi,Indonesia
6.Napu-Nusa Tenggara,Indonesia
7.Ndao-Nusa Tenggara,Indonesia
8.Nduri-Nusa Tenggara,Indonesia
9.Negara Daha-Kalimantan,Indonesia
10.Negara Dipa-Kalimantan,Indonesia
11.Negeri Bangka Belitung-Sumatra,Indonesia
12.Nenometa atau Nenomatan-Nusa Tenggara,Indonesia
13.Netpala-Nusa Tenggara,Indonesia
14.Ngada-Nusa Tenggara,Indonesia
15.Ngayogyakarta Hadiningrat (Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat)-Jawa,Indonesia
16.Nggela-Nusa Tenggara,Indonesia
17.Nisam-Sumatra,Indonesia
18.Nita-Nusa Tenggara,Indonesia
19.Njong-Sumatra,Indonesia
20.Noimuti-Nusa Tenggara,Indonesia
21.Nokas-Kalimantan,Indonesia
22.Nunbena-Nusa Tenggara,Indonesia
23.Nusaniwe-Maluku,Indonesia
24.Nuu Iha atau Sirisori-Maluku,Indonesia




O

.Oenale-Nusa Tenggara,Indonesia
2.Oenoe-Nusa Tenggara,Indonesia
3.Oepao-Nusa Tenggara,Indonesia
4.Ondae dan Pebato-Sulawesi,Indonesia



P

1.Padang-Sumatra,Indonesia
2.Padang Lawas-Sumatra,Indonesia
3.Padang Tarab-Sumatra,Indonesia
4.Pagaruyung-Sumatra,Indonesia
5.Pagatan-Kalimantan,Indonesia
6.Pagurauan-Sumatra,Indonesia
7.Pajajaran-Jawa,Indonesia
8.Pajang-Jawa,Indonesia
9.Palande-Sulawesi,Indonesia
10.Palembang-Sumatra,Indonesia
11.Palembang Darussalam-Sumatra,Indonesia
12.Palesang-Sulawesi,Indonesia
13.Palu-Sulawesi,Indonesia
14.Pamecutan-Bali,Indonesia
15.Pamekasan-Jawa,Indonesia
16.Pameue-Sumatra,Indonesia
17.Panai,Pannai,atau Pane-Sumatra,Indonesia
18.Pandai-Nusa Tenggara,Indonesia
19.Pangkajene-Sulawesi,Indonesia
20.Panjalu-Jawa,Indonesia
21.Pante Raja-Sumatra,Indonesia
22.Papekat-Nusa Tenggara,Indonesia
23.Pappa-Sulawesi,Indonesia
24.Pariangang-Sulawesi,Indonesia
25.Parigi-Sulawesi,Indonesia
26.Pasangan-Sumatra,Indonesia
27.Pasir-Sadurangas-Kalimantan,Indonesia
28.Pasisir-Jawa,Indonesia
29.Passi-Nusa Tenggara,Indonesia
30.Pate atau Patih-Sumatra,Indonesia
31.Patipi-Papua,Indonesia
32.Pebato-Sulawesi,Indonesia
33.Pedada-Sumatra,Indonesia
34.Pedawa Rajut atau Pedawa Besar-Sumatra,Indonesia
35.Pedir-sumatra,Indonesia
36.Pelalawan atau Palalawan-Sumatra,Indonesia
37.Peliatan-Bali,Indonesia
38.Pembuang-Sulawesi,Indonesia
39.Perbaungan-Sumatra,Indonesia
40.Percut atau Pertjut-Sumatra,Indonesia
41.Peurlak-Sumatra,Indonesia
42.Pesisir-Sumatra,Indonesia
43.Petiambang-Sumatra,Indonesia
44.Peudawa Rajeu-Sumatra,Indonesia
45.Peuduek-Sumatra,Indonesia
46.Peukan Baro-Peukan Shot-Sumatra,Indonesia
47.Peurala-Sumatra,Indonesia
48.Peusangan-Sumatra,Indonesia
49.Peutu atau Peutue-Sumatra,Indonesia
50.Pidie-Sumatra,Indonesia
51.Pinangawan-Sumatra,Indonesia
52.Pinatih-Bali,Indonesia
53.Pineueng dan Peukan Baro-Peukan Shot-Sumatra,Indonesia
54.Pucu Rantau Indragiri-Sumatra,Indonesia
55.Puengga-Sulawesi,Indonesia
56.Pulau Kaju-Sumatra,Indonesia
57.Pulau Nas-Sumatra,Indonesia
58.Pulau Punjung-Sumatra,Indonesia
59.Pulo Kajee-Sumatra,Indonesia
60.Pulau Laut-Kalimantan,Indonesia
61.Purba-Sumatra,Indonesia
62.Pureman-Nusa Tenggara,Indonesia
63.Puumbolo-Sulawesi,Indonesia




R

1.Raijua-Nusa Tenggara,Indonesia
2.Raja-Sumatra,Indonesia
3.Rambah-Sumatra,Indonesia
4.Randjoea-Sulawesi,Indonesia
5.Rano-Sulawesi,Indonesia
6.Rantau atau Rantau Kwantan-Sumatra,Indonesia
7.Rapang-Sulawesi,Indonesia
8.Rebeh-Sumatra,Indonesia
9.Rende atau Rendi-Nusa Tenggara,Indonesia
10.Reubee-Sumatra,Indonesia
11.Riau Lingga,Sumatra,Indonesia
12.Rigaih atau Rigas-Sumatra,Indonesia
13.Ringgouw-Nusa Tenggara,Indonesia
14.Riung-Nusa Tenggara,Indonesia
15.Rokan-Sumatra,Indonesia
16.Rote-Nusa Tenggara,Indonesia
17.Rumbati-Papua,Indonesia






S

1.Sabak-Sumatra,Indonesia
2.Sabamban-Kalimantan,Indonesia
3.Salakanagara-Jawa,Indonesia
4.Salang-Sumatra,Indonesia
5.Salaparang-Nusa Tenggara,Indonesia
6.Salawati-Papua,Indonesia
7.Sama Indra dan Lhok Kaju-Sumatra,Indonesia
8.Samadua atau Samaduwa-Sumatra,Indonesia
9.Samakuro,Samakurok atau Samakuru-Sumatra,Indonesia
10.Samalangan-Sumatra,Indonesia
11.Sambaliung-Kalimantan,Indonesia
12.Sambas-Kalimantan,Indonesia
13.Sampanahan-Kalimantan,Indonesia
14.Sampang-Jawa,Indonesia
15.Samprangan-Bali,Indonesia
16.Samudera Pasai-Sumatra,Indonesia
17.Sangalla-Sulawesi,Indonesia
18.Sanggar-Nusa Tenggara,Indonesia
19.Sanggau-Kalimantan,Indonesia
20.Sanra bone atau Sanra Boni-Sulawesi,Indonesia
21.Sarinembah-Sumatra,Indonesia
22.Sasak-Nusa Tenggara,Indonesia
23.Sausu-Sulawesi,Indonesia
24.Sawang-Sumatra,Indonesia
25.Sawiti-Sulawesi,Indonesia
26.Sawu-Nusa Tenggara,Indonesia
27.Seba-Nusa Tenggara,Indonesia
28.Segaluh-Jawa,Indonesia
29.Segati-Sumatra,Indonesia
30.Segeri-Sulawesi,Indonesia
31.Sekadau-Kalimantan,Indonesia
32.Sekar-Papua,Indonesia
33.Selimbau-Kalimantan,Indonesia
34.Senembah-Sumatra,Indonesia
35.Serang-Nusa Tenggara,Indonesia
36.Serbeujadi Aboq atau Serbojadi Aboq-Sumatra,Indonesia
37.Serdang (Kesultanan Serdang)-Sumatra,Indonesia
38.Seunagan-Sumatra,Indonesia
39.Seuneuam-Sumatra,Indonesia
40.Si Lima Kuta-Sumatra,Indonesia
41.Si Pare-Pare atau Si Pari-Pari-Sumatra,Indonesia
42.Siah Utama-Sumatra,Indonesia
43.Siak Sri Indrapura-Sumatra,Indonesia
44.Siang-Sulawesi,Indonesia
45.Siantar-Sumatra,Indonesia
46.Siau-Sulawesi,Indonesia
47.Sidenreng-Sulawesi,Indonesia
48.Sigenti-Sulawesi,Indonesia
49.Sigi,Sigi Birumaru, atau Sigi Dolo-Sulawesi,Indonesia
50.Sigulai-Sumatra,Indonesia
51.Siguntur-Sumatra,Indonesia
52.Sikijang-Sumatra,Indonesia
53.Sikka-Nusa Tenggara,Indonesia
54.Silat-Kalimantan,Indonesia
55.Silawang-Kalimantan,Indonesia
56.Silebar-Sumatra,Indonesia
57.Simaloer atau Simalur-Sumatra,Indonesia
58.Simbuang-Sulawesi,Indonesia
59.Simeleue-Sumatra,Indonesia
60.Simpang-Kalimantan,Indonesia
61.Simpang Olim atau Simpang Ulim-Sumatra,Indonesia
62.Singaraja-Bali,Indonesia
63.Singasari-Jawa,Indonesia
64.Singgere-Sulawesi,Indonesia
65.Singingi dan Loras-Sumatra,Indonesia
66.Singkawang-Kalimantan,Indonesia
67.Sintang-Kalimantan,Indonesia
68.Sirimau-Maluku,Indonesia
69.Skala Brak-Sumatra,Indonesia
70.Soasiu-Maluku,Indonesia
71.Soengai Ijoe-Sumatra,Indonesia
72.Solor-Nusa Tenggara,Indonesia
73.sonbai Kecil-Nusa Tenggara,Indonesia
74.Soppeng-Sulawesi,Indonesia
75.Soya-Maluku,Indonesia
76.Sriwijaya-sumatra,Indonesia
77.Stabat-Sumatra,Indonesia
78.Sugaluh-Jawa,Indonesia
79.Suhaid-Kalimantan,Indonesia
80.Suka-Sumatra,Indonesia
81.Sukadana-Kalimantan,Indonesia
83.Sukudua-Sumatra,Indonesia
84.sumbawa-Nusa Tenggara,Indonesia
85.Sumedang Kamulyan-Jawa,Indonesia
86.Sumedang Larang-Jawa,Indonesia
87.Sumenep-Jawa,Indonesia
88.Sunda dan Galuh-Jawa,Indonesia
89.Sungai Kunit-Sumatra,Indonesia
90.Sungai Lemau-Sumatra,Indonesia
91.Sungai Raya-Sumatra,Indonesia
92.Sunggal-Sumatra,Indonesia
93.Sungu Raja-Sumatra,Indonesia
94.Supiori-Papua,Indonesia
95.Suppa-Sulawesi,Indonesia
96.Suroaso-Sumatra,Indonesia
97.Susoh atau Susuh-Sumatra,Indonesia
98.Sutan Muda-Sumatra,Indonesia
99.Sutrana-Nusa Tenggara,Indonesia

T

1.Tabanan-Bali,Indonesia
2.Tabukan-Sulawesi,Indonesia
3.Tabundung-Nusa Tenggara,Indonesia
4.Tado-Nusa Tenggara,Indonesia
5.Taebenu-Nusa Tenggara,Indonesia
6.Tagulandang-Sulawesi,Indonesia
7.Tahuna-Sulawesi,Indonesia
8.Takaip Ebbenomi-Nusa Tenggara,Indonesia
9.Takaip thaiboko-Nusa Tenggara,Indonesia
10.Talae-Nusa Tenggara,Indoesia
11.Talaud-Sulawesi,Indonesia
12.Taleong atau Taliang-Sulawesi,Indonesia
13.Tallo-Sulawesi,Indonesia
14.Tamako-Sulawesi,Indonesia
15.Tambora-Nusa Tenggara,Indonesia
16.Tambusai-Sumatra,Indonesia
17.Tanah Datar-Sumatra,Indonesia
18.Tanah Hitu-Nusa Tenggara,Indonesia
19.Tanah Jawa-Sumatra,Indonesia
20.Tanah Kunu V-Nusa Tenggara,Indonesia
21.Tanah Putih-Sumatra,Indonesia
22.Tanah Rea-Nusa Tenggara,Indonesia
23.Tanah Riung-Nusa Tenggara,Indonesia
24.Tanette-Sulawesi,Indonesia
25.Tangse-Sumatra,Indonesia
26.Tanjungseumanto dan Meureubok-Sumatra,Indonesia
27.Tanjung Kassau-Sumatra,Indonesia
28.Tanjung Pura-Kalimantan,Indonesia
29.Tanjung Puri-Kalimantan,Indonesia
30.Tapaktuan-Sumatra,Indonesia
31.Tapalang-Sulawesi,Indonesia
32.Tapparang-Sulawesi,Indonesia
33.Tarumanegara-Jawa,Indonesia
34.Taruna-Sulawesi,Indonesia
35.Tawaeli-Sulawesi,Indonesia
37.Tawanga-Sulawesi,Indonesia
38.Tefnai-Nusa Tenggara,Indonesia
39.Teluk Semawe-Sumatra,Indonesia
40.Tembong Agung-Jawa,Indonesia
41.Termanu-Nusa Tenggara,Indonesia
42.Ternate-Maluku,Indonesia
43.Terong-Nusa Tenggara,Indonesia
44.Teunom-Sumatra,Indonesia
45.Teupah-Sumatra,Indonesia
46.Thie-Nusa Tenggara,Indonesia
47.tidore-Maluku,Indonesia
48.Tidung-Kalimantan,Indonesia
49.Tiga Mukims Gighen-Sumatra,Indonesia
50.Tiga Mukims Klumpang Pajong-Sumatra,Indonesia
51.Timu-Nusa Tenggara,Indonesia
52.Titeu-Sumatra,Indonesia
53.Tjereweh-Nusa Tenggara,Indonesia
54.Tjingal-Kalimantan,Indonesia
55.Tjinta Raja-Sumatra,Indonesia
56.Tjumbok-Sumatra,Indonesia
57.Tjunda-Sumatra,Indonesia
58.Tobaku-Sulawesi,Indonesia
59.Todo-Nusa Tenggara,Indonesia
60.Tohe-Nusa Tenggara,Indonesia
61.Tojo-Sulawesi,Indonesia
62.Toli Toli-Sulawesi,Indonesia
63.Tomini-Sulawesi,Indonesia
64.Topejawa-Sulawesi,Indonesia
65.Toribulu-Sulawesi,Indonesia
66.Trienggadeng-Sumatra,Indonesia
67.Truseb-Sumatra,Indonesia
68.Tulang Bawang-Sumatra,Indonesia
69.Tungkop-Sumatra,Indonesia
70.Turateya-Sulawesi,Indonesia
71.Turing-Nusa Tenggara,Indonesia


U

1.Ubud-Bali,Indonesia
2.Ulu Tesso-Sumatra,Indonesia
3.Umaclaran-Nusa Tenggara,Indonesia
4.Umbu Ratu Nggay-Nusa Tenggara,Indonesia
5.Una Una-Sulawesi,Indonesia
6.Unga-Sumatra,Indonesia
7.Ujung Pandang-Sulawesi,Indonesia


W

1.Waai-Nusa Tenggara,Indonesia
2.Waigama-Papua,Indonesia
3.Waigeo-Papua,Indonesia
4.Waihale,Waihali,Wehali,Wehale,atau Veale-Nusa Tenggara,Indonesia
5.Waijelu-Nusa Tenggara,Indonesia
6.Waijewa-Nusa Tenggara,Indonesia
7.Wajo-Sulawesi,Indonesia
8.Wanokaka-Nusa Tenggara,Indonesia
9.Watlaar-Maluku,Indonesia
10.Watu Galuh-Jawa,Indonesia
11.Wertuar-Papua,Indonesia
12.Wewiku-Wehali atau Waiwiku-Wehale-Nusa Tenggara,Indonesia
13.Wojila-Sumatra,Indonesia
14.Wolijita-Nusa Tenggara,Indonesia


Y.

1.Yotowawa-Maluku,Indonesia

0 komentar: