KOTA SOLO DAN LIMA KEKUATAN PENJAGA
Suasana sepi begitu terasa ketika kami sampai di pos pendakian Gunung Lawu di Cemoro Sewu, Pos ini ditutup karena cuaca yang tidak menentu. Restoran dan penginapan disekitar pos pun yang biasanya ramai, kini sepi dan suasananya cenderung mencekam. Hanya beberapa warga nampak berjaga di sekitar Jalan Raya Tawangmangu-Sarangan. Pos Cemoro Sewuini merupakan salah satu pos awal jalur pendakian ke puncak Gunung Lawu selain melalui jalur Cemoro Lawang. Kedua jalur tersebut nantinya bertemu di titik Hargo Dalem, tempat yang dianggap misterius dan menjadi tempat upacara labuhan yang biasanya diselenggarakan oleh Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo.
Saya teringat mengenai cerita kesakralan Gunung Lawu dalam pandangan spiritual masyarakat Jawa. Gunung ini dipercaya sebagai salah satu paku yang membuat pulau Jawa tetap pada tempatnya karena pada jaman dahulu dipercaya bahwa pulau Jawa adalah pulau yang terapung yang selalu diombang-ambingkan oleh ombak.
Gunung Lawu juga memiliki peranan penting dalam kesatuan kosmologis Kota Solo yang terletak sekitar 30 km di arah barat. Gunung Lawu dipercaya sebagai tempat muksa sekaligus kediaman Kanjeng Sunan Lawu (dipercaya sebagai salah satu putra Brawijaya V, Raja Majapahit). Kanjeng Sunan Lawu inilah yang kemudian mengadakan perjanjian dengan raja-raja Kerajaan Mataram Surakarta (beribukota di Solo) untuk menjaga negara dari berbagai bencana dan malapetaka yang berasal dari arah timur.Disisi lain, dengan hal yang sama raja-raja Mataram Surakarta juga mengadakan perjanjian dengan Bathari Kalayuwati atau NYI GEDENGPERMONI alias betari durga yang berkedudukan di Hutan Krendawahana (sekitar 20 km utara Kota Solo)

Keraton merupakan tempat bertemunya barang agal ( kasar ) dan barang halus, barang dapat diraba maupun yang tidak dapat diraba, yang kelihatan oleh mata ataupun yang tidak kelihatan oleh mata.
Menurut kepercayaan orang, keraton dijaga oleh badan-badan halus dari empat penjuru, yaitu :
Dari penjuru timur
Kanjeng Soenan Lawoe.
Soenan Lawoe ( raden Goegoer dari Madjopshit )
Soenan Lawoe Bagoes ( putro Sinoehoen Pakoeboewono Ke-II )
Soenan Lawoe Enem ( muda ), saudara Sinoehoen Pakoeboewono Ke-IX, jadi putro Sinoehoen Pakoeboewono Ke-IV, yang menampakkan dirinys di Langenharjo.
Dari penjuru selatan
Kanjeng Ratu Kidul, yang bernama Kanjeng Ratu Kenconosari, tinggal dikareton Sokodomas bale kencono laut selatan. ( Nyai Roro Kidul adalah sebutan para pengawal )
Kyai Udononggo atau kyai Widononggo yang disebut juga bukan pria bukan wanita, tinggal di Dlepih ( sangat dekat dengan Ki Ageng Senopati dan Ingkang Sinuhun Sultan Agung )
Dari penjuru barat
Kanjeng Ratu Sekar Kedaton ( tinggal digunung merapi )
Kyai Sapu Jagad dan Kyai Sapu Regol
Dari penjuru utara
Kanjeng Ratu Bathari Kalayuwati di hutan Krendowahono
( sering pindah ke keraton Tirtodasar sebelah barat pelabuhan Ratu )
Yang berkuasa di Gunung Kendeng ( nama tidak disebut )
Pangeran Singosari yang tinggal di Alas Roban
Kyai Probojoso di lautan utara.
Kosmologi Hindu / Kesatuan Kosmologis

Agaknya mungkin kesatuan kosmologis Jawa yang biasa disebut dengan keblat papat lima pancer merupakan adaptasi dari sistem kosmologis Hindu –agama masyarakat Jawa sebelum kedatangan Islam-, dalam agama Hindu dikenal dewa-dewa yang berjaga di empat penjuru mata angin yang disebut sebagai dewa-dewa lokapala.
Dewa-dewa ini terdiri dari Shiva di tengah, Isvara di timur, Mahadeva di barat, Vishnu di utara dan Brahma di selatan.
Kosmologi China

Berbeda dengan agama Hindu yang berasal dari India, agama China kuno juga memiliki tata kesatuan kosmologis tersendiri. Secara kosmologis China dilindungi oleh lima kekuatan yang ada pada lima penjuru mata angin yang disebut Si Xiang.Lima kekuatan ini bukanlah berwujud dewa-dewa seperti dalam agama Hindu, melainkan berwujud makhluk-makhluk mitologis yang mewakili lima unsur kekuatan dunia.
Naga Hijau di timur mewakili unsur kayu, Burung Merah di selatan mewakili unsur api, Harimau Putih di selatan mewakili unsur logam, Kura-kura Hitam di utara mewakili unsur air, dan yang terakhir adalah Naga Kuning di tengah yang mewakili unsur tanah.
Kelima unsur ini memiliki pengaruh terhadap keharmonisan kehidupan manusia dan aspek-aspek dalam kehidupan tersebut, termasuk rejeki, kesehatan, jodoh, keharmonisan rumah tangga, kemakmuran pertanian, kekuatan kerajaan dan lain-lain.
Shi-Tenno

Agama Shinto di Jepang sedikit banyak mengadopsi tata kosmologis China, Jepang memiliki Shi-tenno Jikokuten atau empat raja yang melindungi Jepang dari roh-roh jahat pembawa malapetaka yang berasal dari empat penjuru mata angin. Keempat raja terdiri dari di timur, Zochoten di selatan, Komokuten di barat dan Tamonten di utara.
Keempat raja ini dipimpin oleh satu raja yang berkedudukan di tengah yaitu Taishakuten. Keempat raja ini selalu dilambangkan dengan sosok lelaki yang berdiri menginjak Jyaki atau roh jahat.
Kota Solo Itu Unik….
Konsep kosmologis Kota Solo ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan konsep kosmologis kebudayaan China, Jepang bahkan Hindu sekalipun. Dalam kosmologis Jawa, kelima pelindung di kelima penjuru mata angin diwakili oleh roh-roh yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama Hindu. Bahkan Bethari Kalayuwati yang berjaga dari utara sekalipun, digambarkan secara berbeda dengan Dewi Durga istri Dewa Siwa. Bethari Kalayuwati digambarkan sebagai sosok roh bukan sosok dewi istri seorang dewa. Padahal selama ini Bethari Kalayuwati dikorelasikan dengan Dewi Durga istri Dewa Siwa.
Sunan Lawu yang bekedudukan di timur digambarkan sebagai manusia sakti yang mengalami muksa (meninggalkan dunia fana menuju keabadian bersama jasad manusiawinya). Begitu pula Kanjeng Ratu Kidul di selatan yang digambarkan sebagai seorang putri bangsa manusia yang menjadi ratu makhluk halus setelah bertapa selama bertahun-tahun. Sementara Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton yang berkedudukan di barat digambarkan secara misterius sebagai sosok yang sulit dilacak asal-usulnya. Semua penjaga diatas mengingatkan kembali akan kuatnya pengaruh budaya pra-hindu
yaitu animisme –kepercayaan terhadap roh-.

Lantas siapa yang berkedudukan di tengah ? Dalam sistem kosmologis Kota Solo yang berperan sebagai pancer yang melengkapi sedulur papat adalah Sang Raja atau yang beri gelar Sinuhun Pakubuwono
(gelar resmi raja-raja Surakarta, Solo adalah Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Pakoe Boewono Senopati Ing Alogo… dan seterusnya).
Pancer atau raja ini memiliki peran sentral dalam membina keharmonisan hubungan antara dunia manusia dengan keempat penjaga yang berkedudukan di keempat arah mata angin. Karena itulah sang raja dianggap bertanggungjawab dalam hal mengadakan persembahan untuk menghormati hubungan harmonis yang dibina antara dunia manusia dengan dunia kasat mata. Mungkin tidak ada hubungannya, namun menarik jika disambungkan bahwa di China, Kaisar dianggap sebagai Sang Naga Kuning yang mewakili unsur bumi termasuk manusia.
Hutan Krendawahana















