This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by RM.KOESEN POERBODININGRAT - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by RM.KOESEN POERBODININGRAT - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by RM.KOESEN POERBODININGRAT - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by RM.KOESEN POERBODININGRAT - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by RM.KOESEN POERBODININGRAT - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, April 18, 2012

Tradisi Ritual Milih Mantu

Bibit-Bobot-Bebet  
  

Fatwa leluhur tersebut bermaksud agar supaya orangtua malaksanakan pemilihan yang seksama akan calon menantunya atau bagi yang berkepentingan memilih calon teman hidupnya.

            Bibit ialah biji, benih

            Bebet ialah jenis

            Bobot ialah nilai

Untuk memilih menantu pria atau wanita, memilih suami atau isteri oleh yang berkepentingan, sebaiknya memilih yang berasal dari bibit yang baik, dari jenis (bebet) yang unggul dan yang nilai (bobot) yang berat.



Fatwa itu mengandung anjuran pula, janganlah orang hanya semata-mata memandang lahiriyah yang terlihat berupa kecantikan dan harta kekayaan. Dua-duanya itu dapat melupakan tujuan “ngudi tuwuh” mendapatkan keturunan yang baik.
CINTA, WASPADA DAN PERTUNANGAN
Peribahasa mengatakan: “cinta itu buta”

Berpedoman, bahwa hidup suami isteri itu mengandung cita-cita luhur yaitu mendapatkan keturunan yang baik, maka janganlah menuruti kata peribahasa tersebut. Pada hakekatnya peribahasa itu sendiri pun mengandung “peringatan”. Memperingtkan, agar supaya dalam bercinta tidak buta mata hati dan mata kepala.

Cinta kasih yang berhubungan erat dengan cita-cita justru harus diliputi oleh waspada dalam hati dan pikiran. Waspada akan tingkah kelakuan satu sama lain dan waspada akan penggoda di dalam hatinya sendiri.

Kewaspadaan itu menghendaki pengamatan dan penghayatan satu sama lain mengenai sikap dan pendirian terhadap hal-hal yang penting yang sudah pasti dijumpai dalam hidup antara lain soal keluarga, agama, kemasyarakatan dan sebagainya.

Perbedaan sikap dan pendirian terhadap hal-hal yang penting seperti diatas, niscaya akan mengakibatkan kesukaran dikemudian hari. Persesuaian haruslah timbul dari keyakinan dan tidak dengan membohongi diri sendiri, misalnya dengan berjanji berkesanggupan dengan sumpah lisan atau tulisan, pernikahan di muka kantor pencatatan sipil dan lain sebagainya.

Pertunangan dengan atau tanpa tukar cincin adalah usaha untuk mendekatkan pria dan wanita yang menjalin kisah dan hendak hidup sebagai suami isteri.’

Pertunangan tidak boleh diartikan lalu boleh bergaul sebebas-bebasnya hingga perbuatan sebagai suami isteri. Dalam hal itu calon isteri haruslah teguh hati, mencegah jangan sampai terjamah kehormatannya.

Ingatlah, bahwa calon suami itu bukan atau belum suaminya.

Sekali terjadi peristiwa dan sang wanita hamil tidak mustahil menjadi persoalan sebagai pangkal persengketaan. Kalau sang pria ingkar, pertunangan putus, sang wanita menjadi korban.

Tradisi Ritual Ruwatan

RUWATAN


Adalah Tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian, atas dosa/kesalahannya yang diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidupnya

Tradisi "upacara /ritual ruwatan" hingga kini masih dipergunakan orang jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. Dalam cerita "wayang" dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di jawa ( jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah pensucian, yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda, agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit yang mengambil tema/cerita Murwakala.
ruwatan1.jpg (11212 bytes)

Dalam tradisi jawa orang yang keberadaannya mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa, maka untuk mensucikan kembali, perlu mengadakan ritual tersebut. Menurut ceriteranya, orang yang manandang sukerto ini, diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri DewiUma, yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut, akhirnya menjelma menjadi raksasa, yang dalam tradisi pewayangan disebut "Kama salah kendang gumulung ". Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan, oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Atas dasar inilah yang kemudian dicarikan solosi ,agar tak termakan Sang Batara Kala ini diperlukan ritual ruwatan. Kata Murwakala/ purwakala berasal dari kata purwa (asalmuasal manusia) ,dan

pada lakon ini, yang menjadi titik pandangnya adalah kesadaran : atas ketidak sempurnanya diri manusia, yang selalu terlibat dalam kesalahan serta bisa berdampak timbulnya bencana (salah kedaden).

Untuk pagelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala biasanya diperlukan perlengkapan sbb :

Alat musik jawa (Gamelan)
Wayang kulit satu kotak (komplit)
Kelir atau layar kain
Blencong atau lampu dari minyak

Selain peralatan tersebut diatas masih diperlukan sesajian yang berupa:

Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setudun, yang sudah matang dan baik, yang ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang, daun meja, daun kara, dan daun kluwih yang semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan. Dua kembang mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri, bunga setaman dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara Kala, orang yang diruwat dan lain-lainya.

Api (batu arang) di dalam anglo, kipas beserta kemenyan (ratus wangi) yang akan dipergunakan Kyai Dalang selama pertunjukan.
Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter, direntangkan dibawah debog (batang pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang, sedangkan di belakang layar sebagai tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih.
Gawangan kelir bagian atas (kayu bambu yang merentang diatas layar) dihias dengan kain batik yang baru 5 (lima) buah, diantaranya kain sindur, kain bango tulak dan dilengkapi dengan padi segedeng (4 ikat pada sebelah menyebelah).

Bermacam-macam nasi antara lain :

Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dsb.
Nasi wuduk dilengkapi dengan; ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, kedele hitam.
Nasi kuning dengan perlengkapan; telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana.

Bermacam-macam jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur).

Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak, sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa, makanan kecil berupa blingo yang diberi warna merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih, kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele, kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen).

Benang lawe, minyak kelapa yang dipergunakan untuk lampu blencong, sebab walaupun siang tetap memakai lampu blencong.

Yang berupa hewan seperti burung dara satu pasang ayam jawa sepasang, bebek sepasang.

Yang berupa sajen antara lain : rujak ditempatkan pada bumbung, rujak edan (rujak dari pisang klutuk ang dicampur dengan air tanpa garam), bambu gading linma ros. Kesemuanya itu diletakan ditampah yang berisi nasi tumpeng, dengan lauk pauknya seperti kuluban panggang telur ayam yang direbus, sambel gepeng, ikan sungai/laut dimasak anpa garam dan ditempatkan di belakang layar tepat pada muka Kyai Dalang.

Sajen buangan yang ditunjukkan kepada dhayang yang berupa takir besar atau kroso yang berisi nasi tumpeng kecil dengan lauk-pauk, jajan pasar (berupa buah-buahan mentah serta uang satu sen. ). Sajen itu dibuang di tempat angker disertai doa (puji/mantra) mohon keselematan.
Sumur atau sendang diambil airnya dan dimasuki kelapa. Kamar mandi yang untuk mandi orang yang diruwat dimasuki kelapa utuh.

ruwatan2.jpg (9864 bytes)

Selesai upacara ngruwat, bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau , kedelai hitam, ikan asin, kluwak, kemiri, telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan.

Monday, April 16, 2012

Jadual Budaya

AGENDA BUDAYA JAWA


Page ini nantinya menyajikan kegiatan-kegiatan budaya Jawa khususnya dan budaya Indonesia pada umumnya seperti ;
  1. Berita kegiatan Seni dan Budaya Jawa di beberapa tempat anatar laini :
  • Taman Sriwedari
  • GKJ
  • Srimulat
  • Teater Utan Kayu
  • Hotel Hilton
  • TMII
  • TIM
  • Bentara Budaya, dll
  1. Pertunjukan
  2. Pemutaran film budaya Jawa
  3. Pementasan
  4. Seminar
  5. Sarasehan
  6. Kursus/Pelatihan
  7. Paguyuban
  8. Workshop, dll.

Jadwal Upacara-upacara besar Karaton Surakarta Hadiningrat 

dalam setahun kedepan:

1. 17 Januari 2013 (5 Mulud 1946): Miyosaken kagungan dalem gangsa sekaten dhateng kagungan dalem mesjid Agung karaton Surakarta Hadiningrat.

2. 24 Januari 2013 (12 Mulud 1946): Grebeg Mulud, miyosaken hajad dalem pareden (gunungan) dhateng kagungan dalem mesjid Agung karaton Surakarta Hadiningrat.

3. 5 Maret 2013 (22 Bakdo Mulud 1946): Kol PB XII

4. 11 Maret 2013 (28 Bakdo Mulud1946): Sesaji Mahesa Lawung ing alas Krendhawahana, Karanganyar.

5. 2 Mei 2013 (21 Jumadilakir 1946): Kol PB XI

6. 6 Mei 2013 (25 Jumadilakir 1946): Kol PBVIII

7. 22 Mei 2013 (12 Rejeb 1946): Kol PB VI

8. 25 Mei 2013 : Wiwit ajar-ajaran Bedhaya Ketawang

9. 4 Juni 2013 (25 Rejeb 1946): Tingalan jumenengan dalem ka 9 SISKS Pakoeboewono XIII.

10. 7 Juli 2013 (28 Ruwah 1946): Kol PB IX

11. 4 Agustus 2013 (27 Pasa 1946): Kol PB VII

12. 5 Agustus 2013 (28 Pasa 1946): Maringaken zakat fitrah

13. 9 Agustus 2013 (2 Sawal 1946): Grebeg pasa, miyosaken hajad dalem pareden (gunungan) dhateng kagungan dalem mesjid Agung.

14. 18 Oktober 2013 (10 Besar 1946): Grebeg Besar, miyosaken hajad dalem pareden (gunungan) dhateng kagungan dalem mesjid Agung karaton Surakarta Hadiningrat.

15. 28 Oktober 2013 ( 23 Besar 1946): Kol PB IV

16. 30 Oktober 2013 ( 25 Besar 1946): Kol PB III

17. 3 November 2013 ( 29 Besar 1946): Kol PB V

18. 4 November 2013 (malam 1 Sura 1947): Miyosaken pusaka dalem (kirab) mubeng Baluwarti njawi.

19. 5 November 2013 (1 Sura 1947): Kol PB X

20. 15 November 2013 ( 11 Sura 1947): Kol PB II

21. 21 November 2013 ( 17 Sura 1947): Pengetan Hadeging Nagari Surakarta Hadiningrat.

Forum Diskusi

Forum Diskusi


Gelombang besar pertama kedatangan orang Tionghoa ke Indonesia terjadi ketika VOC berhasil merebut Jakarta dan menciptakan kota itu menjadi salah satu pusat perdagangan Asia Tenggara. Orang-orang Tionghoa yang memang sudah hadir jauh sebelum itu dikawasan itu, ditambah dengan mereka yang tidak lama setelah Kompeni menancapkan kekuasaan di Jakarta, digunakan oleh VOC untuk memungut pajak dan sebagai perantara antara pemerintah jajahan dengan penduduk lokal. Barangkali mereka itulah yang bisa disebut sebagai kaum perantau karena mereka sudah lanjut dan setelah berhasil mengumpulkan kekayaan, mereka kembali ke Tiongkok untuk melewatkan masa tuanya.
Gelombang berikutnya, gelombang kedua, terjadi tidak lama setelah pertengahan abad ke 19, ketika pemerintah Kolonial Belanda, dalam upaya mengintegrasikan perekonomian tanah jajahan ke arena perekonomian global, memerlukan pekerja untuk mengembangkan perkebunan dan pertambangan. Karena kekurangan tenaga kerja untuk mengisi kedua bidang perekonomian ini, maka di Indonesia untuk waktu panjang, walaupun boleh dikatakan masih sementara
Pada awalnya telah terjadi kontak budaya yang cukup intens antara masyarakat emigran dengan penduduk asli. Perkawinan campur antara mereka dengan perempuan lokal merupakan sesuatu yang biasa, dan dari kontak budaya dan perkawinan silang itu muncullah apa yang disebut sebagai kaum Peranakan dan kebudayaan Peranakan. pAra ilmuwan Barat menamakan kaum Peranakan itu sebagai “Too Indonesian to be called Chinese, and too Chinese to be called Indonesian” (terlalu Indonesia untuk dibilang sebagai orang Tionghoa dan terlalu Tionghoa untuk disebut sebagai orang Indonesia). Namun ketika pemerintah Hindia Belanda mengijinkan para emigran itu untuk membawa keluarga mereka, termasuk wanita, mulai terjadilah polarisasi kultural antara para pendatang baru ini dengan penduduk lokal. Para emigran itu membawa keluarga mereka, termasuk para wanita, mulailah terjadi polarisasi kultural antara para pendatang baru dengan penduduk lokal. Para emigran yang datang dalam gelombang pertama dan kedua itu terdiri dari kaum pekerja
Gelombang besar ketiga kedatangan kaum etnis Tionghoa di Indonesia, terjadi menjelang berakhirnya abd 19 yaitu ketika terjadi kekacauan besar brtupa pemberontakan dan bencana alam yang melanda daratan Tiongkok pada saat dinasti terakhir yaitu Manchu (Qing) tengah menghadapi keruntuhan. Para imigran yang menyingkir ke luar negeri kali ini terdiri dari orang-orang yang relatif terpelajar sehingga keterkaitan mereka dengan negeri leluhur relatif cukup kuat,
Kedatangan emigran gelombang kedua dan ketiga ini, menciptakan kelompok tersendiri yang berlainan dengan kaum peranakan. Mereka itulah yang disebut kaum totok yang orientasunya terhadap kebudayaan Cina masih relatif tebal. Sejak itulah terjadi dikotopi antara kaum peranatak dengan kaum totok. Akan tetapi juga dengan berjalannya waktu serta proses persentuhan budaya antara kaum peranakan, kaum totok dan budaya lokal dan juga adanya perubahan lainnya dalam masyarakat, toh kaum totok itu lama kelamaan menjadi peranakan. Sejak saat itu pula sebenarnya sifat emigran pada masyarakat Tionghoa telah berlangsung hilang. Sejak saat itu juga mereka tinggal selamanya dibumi Nusantara ini dan menjadi masyarakat lokal (pribumi baru).
Kebijaksanaan pemerintahan Belanda yang menerapkan Segregasi dibidang lapangan kerja dan perbedaan strata posisi dalam masyarakat antara orang Indonesia asli dengan golongan etnis Tionghoa, lagi-lagi telah menyebabkan perkembangan yang terpisah antara kelompok tersebut. Golongan etnis Tionghoa tinggal di kota-kota dan berkecimpung dalam perdagangan dan perekonomian, dan mayoritas kaum pribumi tinggal dipedalaman dan bergulat dalam bidang pertanian dan pemerintahan (kaum ningrat). Berbagai peristiwa rahasia pada masa penjajahan diakibatkan oleh kebijaksanaan Kolonial tersebut.
Pada masa-masa kemudian kaum Tionghoa juga memasuki bidang-bidang profesional seperti Insinyur, pengacara, dan perdagangan serta bidang-bidang lain, sedangkan kaum pribumi oleh pemerintah penjajahan Belanda menjadi birokrat yang membantu jalannya pemerintahan tersebut. Pada waktu itu istilah “masalah Cina” muncul dan pemarintahan Belanda membentuk suatu lembaga namanya : Kantoor Voor Chineesche Zaken yang bertugas memberikan masukan dan konsultasi pada pemerintah jajahan dengan masyarakat Tionghoa setempat. Di kantor itu diperkerjakan para sinolog yang ahli dalam adat kebiasaan dan tradisi masyarakat Tionghoa.
Pemerintah Indonesia pasca kolonial meneruskan kebiasaan yang intinya memperlakukan masyarakat keturunan Tionghoa dengan pendekatan ‘Masalah Cina” itu yang sifatnya segregartif. Sejak Indonesia merdeka 1945 telah terjadi kerusuhan rasial anti Tionghoa yang menimbulkan kerugian harta dan jiwa yang cukup besar. Peristiwa 1 Mei 1998 adalah salah satu akibat dari pendekatan “masalah Cina” tersebut. Cara yang digunakan pemerintyah Indonesi aselama 30 tahun terakhir untuk mengatasi masalah ini adalah dengan cara pembaharuan, dimana golongan etnis Tionghoa dianjurkan untuk melebur diri kedalam masyarakat Indonesia dengan cara menanggalkan identitas ke-Tionghoaan mereka. Itu ternyata kuranfg berhasil dibuktikan dengan terjadinya beberapa peristiwa rasial yang masih saja melanda negeri ini. Pembaharuan ternyata tidak dapat menyelesaikan beban nasional untuk mengintegrasikan sepenuhnya antara golongan Tionghoa ke dalam masyarakat Indonesia. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan masyarakat Indonesia auntuk mengatasi masalah ini  
Reformasi dalam masalah intergasi bangsa ini sekarang mulai dijalankan dengan jalan berlainan dengan metode pembauruan. Kini hak-hak golongan Tionghoa sebagai bagian masyarakat Indonesia mulai diakui, mereka diberi hak untuk mengekspresikan diri baik dibidang politik, sosoial, dan kebudayaan serta dibiarkan untuk memelihara identitas mereka sendiri. Selama ini pula pada arus atas telah menyaksikan adanya perubahan untuk mengasimilasikan golongan Tionghoa kedalam masyarakat Indonesia, sedangkan diarus bawah, persentuhan budaya masyarakat Tionghoa dengan masyarakat Indonesia asli sebenarnya telah berlangsung secara intens selama berabad-abad.
Kebudayaan peranakan telah melahirkan prodak-prodak budaya campuran seperti wayang potehi, cokek, dan gambang kromo, bahkan ada sebagian masyarakat Tionghoa yang giat menekuni kebudayaan lokal dan sama sekali melupakan kebudayaan leluhur mereka berasal.
Kesimpulannya label-label stereotipe seperti ekslusif, tidak patriotis, hanya cari untung dan sebutan-sebutan lain yang selama ini ditempelkan pada golongan tionghoa tanpa pandang bulu, adalah sebutan-sebutan yang tidak sesuai dengan tanda-tanda jaman. Mereka telah menjadi salah satu faktor yang tidak terpisahkan lagi dalam kebhineka tunggal ikaan kita. Makaten cariosipun, nuwun.!

SASTRA JAWA DALAM PERJALANAN SEJARAH

ULASAN PAKAR

SASTRA JAWA DALAM PERJALANAN SEJARAH

Perjalanan sejarah sastra Jawa dapat ditelusuri dengan melihat koleksi naskah Jawa yang terdapat dalam pelbagai museum, terutama di museum Yogyakarta, Surakarta, Jakarta dan diluar negri yang banyak terdapat di Negeri Belanda. Dari pelbagai naskah itu kita akamenjumpai naskah yang berupa Babad, Serat-serat, sastra pewayangan, sastra suluk.
Babad umumnya berisi tentang sejarah kerajaan atau tokuhnya, Serat berisi tentang ajaran ajaran atau piwulang atau kisah dalam dunia pewayangan, khususnya pada kisah Mahabrata dan Ramayana, suluk berisi ajaran mengenai hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, ajaran moral, dll.
Jenis sastra Jawa yang paling tua adalah Ramayana Kakawin dan kitab-kitab parwa yang menceritakan nenek moyang Kurawa dan Pandawa. Meskipun kisah Ramayana dan Mahabarata berasal dari India, tetapi isinya yang diambil oleh masyarakat Jawa adalah pertentangan antara yang baik dan yang buruk , yang berakhir dengan kemenangan yang baik. Ada 8 parwa yag dikenal, yaitu : Adiparwa, Wiathaparwa, Udyogaparwa, Bismaparwa, Asramasaparwa, Mosalaparwa, Prathanikaparwa dan Swargarohanaparwa, yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna pada jaman raja Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur pada kahir abad ke 10.
Sastra yang dipengaruhi India itu mendominasi dunia sastra Jawa dalam waktu yang cukup lama, karena baru pada jaman Majapahit muncul pembaharuan sastra Jawa dengan lahirnya Kirab Negarakertagama. Sastra ini mereformasi mitologi India yang sudah menjadi tradisi di lingkungan masyarakat Jawa, yang tokoh-tokohnya kemudian diganti dengan tokoh-tokoh Majapahit secara riil. Kalau pada jaman sebelum Majapahit tokoh-tokoh didalam karya-karya sastra yang ditonjolkan berupa tokoh mitologis, terutama tokoh yang diambil dari cerita Mahabarata dan Ramayana, maka pada jaman Majapahit tokoh-tokoh dalam karya sastra adalah tokoh-tokoh sejarah. Baik tokoh yang hidup dan digambarkan secara riil maupun tokoh sejarah yang hidupnya telah diolah sebagai mitos, misalnya tokoh-tokoh dalam serat-serat Panji dan kitab Pararaton.
Pada jaman Majapahit karya sastra mulai menggarap tokoh-tokoh sejarah yang pola kelakuannya bisa diteladani, seperti Ken Arik, Hayam Wuruk, Rati Tribuwana, Jayakatwang, Sora, Nambil dan sebagainya.

Sastra piwulang

Disamping karya sastra sejarah, pada jaman Majaphit muncul pula karya sastra piwulang yang berisi ajaran tentang norma kelakuan individu dalam masyarakat. Misalnya kitab Nitisastra dan Dharmasunya. Munculnya kitab sastra piwulang ini juga merupakan salah satu pembaharuan di bidang sastra Jawa. Pandangan masyarakat telah bergeser, bukan lagi terpusat pada individu sebagai elemen “jagad gedhe”, melainkan individu secara mandiri telah dihargai sebagai “jagad cilik”. Ajaran moral yang tercantum dalam kedua kitab diatas pada dasarnya menuntun individu agar bertanggungjawab atas jagad ciliknya sendiri.
Setelah Islam masuk, muncullah kitab suluk, kitab yang berisi ajaran tentang tuntunan bersatunya seorang mahluk dengan Tuhannya. Berbeda dengan pandangan Jawa Hindu, seseorang hanya bisa berhubungan dengan Tuhan, kalau dia itu pendeta, raja dan pujangga. Mereka inilah yang dapat bersatu dengan dewa. Sedangkan kitab-kitab suluk mengajarkan seseorang dapat berhubungan dengan Tuhannya tanpa perantara, dan ini berarti suatu penghargaan individu yang sangat tinggi..
Pada jaman Islam ini, disamping kitab-kitab suluk muncul pula kitab-kitab yang berii mitologi Islam seperti kitab Kejajahan, kitab Menak, kitabRengganis dan kitab Ambiya. Karya-karya sastra jaman Hindu-Budha terdesak ke belakang. Lahir pula karya sastra piwulang, seperti serat Nitisruti, serat Nitipraja, dan serat Sewaka, yang ketiganya berisi petunjuk cara mengabdi kepada raja dan cara memerintah.
Metrum macapat
Ketika stabilitas politik terjadi pada jaman Surakarta, para pujangga aktif dengan karya-karya sastranya, dan yang sangat menonjol adalah karya-karya dalam bentuk metrum macapat atau puisi macapat. Karya-karya Jawa Kuna seperti serat Batarayuda, Ramayana, Lokapala, Arjunasasrabau, Wiwahajarwa dirubah dalam bentuk puisi macapat. Demikian pula sastra piwulang, juga dibentuk dalam puisi macapat seperti serat Wicarakeras, Sanasusnu oleh Yasadipura II, Wulang Reh dan Wulang Sunu oleh Sri Sunan Paku Buwana IV, Wedhatama oleh Sri Mangkunegoro IV, serat Centhini oleh Sri Susuhunan Paku Buwono V. Bentuk metrum macapat ini juga muncul dalam karya sastra sejarah seperti Babad Giyanti. Babad Pakepung, Babad Prayut dan sebagainya.
Pada jaman Surakarta ini juga muncul karya sastra yeng bersifat futuristik (ramalan) yang banyak digubah oleh pujangga Ranggawarsita, yang terkenal karena ramalannya dalam Serat Kalatidha.
Pengaruh penjajahan Belanda juga terlihat pada karya-karya sastra pada masanya, terutama setelah berdirinya Balai Pustaka yang menerima naskah sastra Jawa. Ciri khusus dari sastra yang diterbitkan Balai Pustaka ialah tidak lagi mengambil peran tokoh-tokoh wayang, bukan pula tokoh raja-raja, melainkan dari tokoh imaginer dari masyarakat konkret.Pemecahan masalah tidak lagi dicari di alam kayangan atau wasiat adikodrati melainkan ditekankan pada masalah pendidikan,yang waktu itu telah dirintis oleh Pemerintah Hindia Belanda

Surakarta


SALA atau SOLO 

  

SURAKARTA HADININGRAT

SEJARAH BERDIRINYA KOTA SALA

Siapapun mengetahui bahwa hidup dalam penjajahan itu selain terhina, tidak memiliki kebebasan juga sengsara. Kiranya demikianlah yang dialami oleh Raja Keraton Kasunanan di Kartasura, Sri Susuhunan Paku Buwana II. Sang Raja tidak memiliki kebebasan sama sekali. Sampai-sampai untuk memilih calon putra mahkota raja harus terlebih dahulu meminta persetujuan dari pemerintah penjajah, VOC Belanda. Pemerintah Belanda dan VOC Belanda dengan politik ‘pecah belah’ terhadap Karaton Mataram itu berhasil menguasai seluruh kekuasaan raja jajahannya.
Sementara intrik perebutan kekuasaan kerajaan melanda Karaton Kasunanan di Kartasura, yang dilakukan dari dalam keluarga keraton keturunan Mataram, telah menimbulkan kemelut berkepanjangan dan bermusuhan. Di sisi lain pelarian orang-orang orang-orang Cina yang tertindas oleh kompeni VOC Belanda di Jakarta, mereka melarikan diri ke Jawa Tengah. Kemarahan orang-orang Cina tertindas itu ditumpahkannya dalam bentuk pemberontakan orang-orang Cina yang dipimpin oleh Sunan Kuning alias Mas Garendi di tahun 1742 itu juga memperoleh dukungan dari Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said yang memanfaatkan momentum itu. Raden Mas Said sangat marah dan kecewa terhadap kebijaksanaan Karaton Kartasura yang memangkas daerah Sukowati yang dulu diberikan oleh Karaton Kartasura kepada Ayahandanya.
Serangan gencar prajurit pemberontakan Cina berhasil menjebol benteng pertahanan Keraton Kartasura dengan menimbulkan banyak korban jiwa. Menghadapi ancaman itu Paku Buwana II memerintahkan kerabat keraton dan para abdi dalem untuk segera mengungsi ke ke wilayah jawa Timur bagian barat daya, yaitu pacitan hingga ke Ponorogo. Sementara itu prajurit pemberontakan Cina menghancurkan keraton Kartasura dan menjarah kekayaan karaton yang tertinggal.
Pemimpin Prajurit Kompeni VOC Belanda, Mayor Baron Van Hohendorff segera minta bantuan minta bantuan prajurit Kompeni Belanda di Surabaya. Sementara itu adipati Bagus Suroto dari kadipaten Ponorogo yang merasa benci terhadap pemberontakan orang-orang Cina terhadap Keraton Kartasura, lalu menyediakan prajuritnya untuk segera menumpas prajurit pemberontak orang-orang Cina itu.
Peperangan menumpas pemberontakan orang-orang Cina pimpinan Mas Garendi atau Sunan Kuning berlangsung dengan seru. Akhirnya pemberontakan orang-orang Cina berhasil ditumpas. Setelah tertumpasnya pemberontakan orang-orang Cina maka Pangeran Sambernyawa alis Raden Said berjuang sendiri melawan Kompeni Belanda dan Karaton Kartasura.
Ketika kerabat Keraton Kartasura kembali ke keratonnya, keraton sudah hancur. Maka Sri Susuhunan Paku Buwana II memerintahkan para abdi dalemnya untuk membangun karaton yang baru. Untuk itu Paku Buwana II mengutus petinggi keraton yang terdiri dari Tumenggung Tirtowiguna, Pangeran Wijil, Tumenggug Honggowongsono dan abdi dalem lainnya untuk mencari tempat baru untuk lokasi pembangunan Keraton Kasunanan itu. Mereka memanjatkan doa kepada ALLAH SWT untuk memohon petunjukNya.
Rombongan utusan keraton disertai oleh seekor gajah putih berjalan ke timur. Suatu kali mereka mencium bau wangi di tanah Kadipolo. DesaTalang Wangi itu sebenarnya cocok untuk lokasi pembangunan baru, tetapi tanahnya banyak bukitnya. Lalu rombongan menuju kearah timur lagi. Mereka menyebrabgi  sungan Begawan Sala. Mereka tiba di Sonosewu. Tanahnya datar dan dapat menggunakan sungan Begawan Sala sebagai lau lintas. Namun secara spiritual Desa Sonosewu banyak dihuni setan prayangan sehingga tidak baik untuk keraton baru.
Rombongan menuju arah barat, tiba-tiba gajah putih milik keraton berhanti istirahat di dekat daerah berawa. Para petinggi dan abdi dalem keraton kembali memanjatkan doa kepada Allah. Dikeheningan malam mereka mendengar ‘suara tanpa rupa’: “Hai...Engkau yang sedang bertirakat. Kalau Engkau menginginkan sebuah tempat untuk ibukota kerajaan, pergilah ke Desa Sala. Sebab itu dikehendaki Allah dan nantinya akan menjadi kota yang besar dan makmur,........”
Tumenggung Tirtowiguna dan Pangeran Wijil kemudian menemui Kepala desa Dusun, bernama Kyai Sala. Saat pertemuan itu Kyai Sala bercerita , kalau ia mimpi ada utusan keraton yang mencari tempat untuk membangun keraton. Ia juga menerima wisik bahwa dusun itu baik, untuk tempat pembangunan keraton. Herannya kok ada persamaan mimpi, maka Tumenggung Tirtowiguna dan Pangeran Wijil segera melaporkan penemua desa Sala untuk lokasi pembangunan Keraton pindahan dari Kartasura, dan sang raja menyetujuinya.
Sri susuhunan Paku Buwana II merasa sudah cocok apabila desa Sala yang penuh dengan rawa itu untuk ibukota keraton maka disuruhnya para bupati pesisir agar menimbuni rawa itu dengan tanaman lumbu, dengan maksud untuk menyumbat sumber air besar yang terus mengalir. Kepala dusun Kyai Sala menyampaikan usul agar dapat menyumbat sumber air besar didaerah rawa, dengan gong sekar delima. Ketika sang raja dilapori tentang wisik gaib dari Kyai Sala yang bunyinya “untuk menghentikan mengalirnya sumber air, engkau harus menutupnya dengan gong merah delima dan kepala penari serta daum lumbu. Maka oleh Sri Sunan diartikan bahwa gong itu suara paling seru dalam karawitan, maknanya adalah Kyai Sala sikepala dusun yang menghendaki sadangkan kepala penari terkait dengan wayang atau ringgit (bahasa jawa) yang berarti uang. Jelaslah sudah bahwa Kyai Sala menghendaki uang atas tanah halk miliknya, yang akan digunakan untuk karaton. Maka Sri Sunan Paku Buwana II memberinya uang sebanyak 10.000 gulden Belanda (1744) untuk tanah milik Kyai Sala yang akan digunakan untuk mendirikan bangunan karaton baru itu.
Pindahnya Karaton Kasunanan warisan Mataram dari Kartasura ke desa Sala itu merupakan bedol keraton secara total atau menyeluruh, Perpindahan itu dilaksanakan dalam suasana sedih karena keraton Kartasura dirusak oleh pemerintah Cina. Untuk pindahnya karaton itu terlebih dahulu para abdi dalem karaton kasunanan harus membabat hutan belukar , menimbuni rawa digedung lumbu dengan tanah galian dari Tanah Wangi di Kadipolo. Lubang tanah bekas galian itu membentik danau kecil yang setelah ratusan tahun dijadikan Balai Kambang Sriwedari. Seluruh bangunan inti karaton kasunanan kartasura diboyong pindah untuk didirikan kembali di desa Sala.Pada waktu itu pagar kompleks karaton dibuat dari bambu, secara bertahap bagian-bagian karaton lainnya seperti Masjid Agung di alun-alun utara pun dibangun oleh generasi Pemerintahan Paku Buwono selanjutnnya, karena keberadaan bangunan tersebut sangat erat kaitannya dengan kehidupan Karaton Surakarta
MASA REVOLOSI /SERANGAN 4 HARI KOTA SALA
Para pejuang kemerdekaan Kota Solo dengan keberanian luar biasa, dapat mengakhiri kekuasaan Pemerintah Militer Jepang yang keji dan kejam tak berperikemanusiaan terhadap rakyat dan pejuang Indonesia, meskipun persenjataan sangat terbatas dan sederhana. Puncaknya dengan penaklukan terhadap pasukan militer Jepang di timuran ( sekarang Hotel Cakra di jl. Birg Jend Slamet Riyadi ). Hal tersebut karena keterpaduan perjuangan antara Tentara Nasional Indonesia, Tentara Pelajar, bersama rakyat. Bukan hanya perjuangan bersenjata, tetapi diperlukan perjuangan diplomasi seperti dilakukan oleh tokoh pejuang Soemodiningrat yang kebetulan salah satu bangsawan dari Keraton Kasunanan Surakarta. Ketika menaklukan Pimpinan Militer Jepang Watanabe dalam perundingan di Balai Kota Sala. Namun setelah terusirnya kekuasaan Pemerintah Fasis Jepang dari bumi Republik Indonesia ternyata pasukan Belanda datang dengan menunggangi Sekutu / PBB ke Indonesia. Belanda berusaha untuk mencengkeramkan kembali kekuasaannya di bumi nusantara, dan para pejuang kemerdekaan Indonesia melakukan perlawanan bersenjata dengan penuh keberanian untuk mengusir Tentara dan Pemerintahan Penjajahan Belanda.
Katika Pasukan Belanda menyerbu Ibukota Republik Indonesia yang dipindahkan sementara di Yogyakarta pada tanggal, 19 Desember 1948, kemudian pasukan Belanda pun menyerbu kota Sala dua hari kemudian. Maka rakyat bersama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia melakukan perlawanan bersenjata untuk mengusir kekuasaan penjajah Belanda. Dalam kemelut perang kemerdekaan untuk menghindari pasukan militer Belanda menguasai tempat-tempat penting,maka para pejuang kemerdekaan Indonesia melakukan politik bumi hangus termasuk gedung balai kota Sala yang merupakan pusat pemerintahan juga dibakar. Sementara itu rakyat dan para pejuang kemerdekaan republik Indonesia di kota Sala mengungsi keluar kota, perjuangan itu dilakukan dengan begerilya.
Ada peristiwa penting yang patut dicatat ialah saat terhadap pasukan militer jepang yang bertahan disebelah barat gedung koperasi Batari ( oktober 1945 ). Saat itu gugur pejuang Indonesia yang bernama afirin yang ditembak oleh serdadu Jepang yang sedang terkepung. Jenazah Arifin dalam peti yang diselimuti kain merah putih, lebih dulu diusung ramai-ramai di keraton Surkarta. Dalam hal ini Karaton menyediakan kereta berkuda untuk mengangkut jenazah Arifin ke pemakaman di Sekar Pace ( makam pahlawan kusuma bakti ) – Jurug.
Atas perintah panglima Jendral Sudirman maka komandan brigade V divisi II Letkol Slamet Riyadi mengkonsolidasi dengan membentuk komando pertahanan atau Wehrekreise wilayah Solo, lalu dibentuk komando pertempuran Panembahan Senapati yang meliputi daerah karisidenan Sala, Semarang Selatan dan Pacitan. Untuk daerah Solo diberi nama Wehrekreise Arjuna dipimpin oleh Ahmadi, yang terdiri dari lima rayon masing-masing dipimpin oleh Kapten Suhendra, Lettu Sumarto, Kapten Prakoso,( pernah menjadi rektor UNS ) Kapten Abdul Latief, yang ilegal dipimpin oleh Lettu Hartono dengan melakukan gerilya terhadap Belanda.
Di bidang pemerintahan sipil juga dibentuk pemerintahan kota solo yang wali kotannya RM. Suharyo Suryopranoto, hasil persetujuan Room Royen direalisasikan dalam Pemerintahan Penghentian Tembak Menembak oleh Presiden Soekarno tanggal ,3 Agustus 1949, dan ditindak lanjuti oleh Jendral Sudirman dan komando dibawahnya.
Serta Wakil Tinggi Mahkota Belanda di Indonesia AHJ. Lovink ( 11 Agustu 1949 ) dari pengalaman sejarah membuktikan pemerintah Belanda sering ingkar janji, tipu muslihat sehingga para pejuang selalu waspada serta melakukan perluasan daerah kekuasaan di Solo dengan melakukan serangan 4 hari, pada tanggal. 7 – 10 agustus 1949 pada saatitu Belanda bermarkas di Benteng, mendapat bantuan dari batalyon Yogyakarta untuk menyerbu ke Solo, dan memaksa agar Slamet Riyadi menyerah. Dalam pertempuran ini Belanda mengerahkan pesawat tempur dengan menyerang pasar nongko, kampung petangpuluhan, srambatan, pasar kembang yang dianggap kantong pejuang.
150 serdadu Belanda tewas tertembak, sebuah tank milik Belanda berhasil direbut di kampung Purwo Diningratan. Setelah kewalahan menghadapi pejuang, Belanda menyetujui Gencatan Senjata, tanggal 11 Agustu 1949 pukul 00.00. walaupun gencatan senjata ditanda tangani serdadu Belanda ( KNIL ) malah membabi buta menumpahkan kemarahannya dengan menembaki penduduk sipil di Pasar Kembang dengan menewaskan 23 orang, dimana 13 onggota PMI Surakarta dibantai di markas PMI Padmo Negaran Gading serta 9 orang sipil juga tertembak, sedangkan Belanda sebanyak 7 orang serdadunya juga tewas.
Selagi perjuangan Indonesia lagi memuncak, September 1948 Partai Komunis ( PKI ) di bawah Muso cs dari Madiun melakukan pemberontakan di dalam, namun pemerintah Indonesia pada waktu itu berhasil menumpasnya dengan korban Kolonel Sutarto yang tertembak di sebuah gang Kampung Timuran, pada saat itu kota Solo sedang menyelenggarakan PON I bulan September 1948 yang dibuka oleh presiden Soekarno di stadion Sriwedari.
Untuk memperingati pejuang kemerdekaan 4 hari di kota Solo, telah dibangun monumen berupa tugu dihalaman Makorem 74 / Wirastratama Surakarta dan monumen perjuangan 45 di Banjasari. Wong Solo berhutang budi pada pejuang-pejuang tersebut “ InaliLlahi waina Illahi rojiun.......

Obyek Wisata Magis

Borobudur


Berdasarkan atas tulisan yang terdapat pada “kaki” tertutup dari Candi Borobudur yang berbentuk huruf Jawa kuno yang berasal dari huruf pallawa, maka dapat diperkirakan tahun berdirinya Candi tersebut, yaitu pada tahun 850 Masehi, pada waktu pulau Jawa dikuasai oleh keluarga raja-raja Sailendra antara tahun 832-900. Jadi umurnya sudah lebih dari 1.000 tahun.Candi itu terdiri dari 2 juta bongkah batu, sebagian merupakan dinding-dinding berupa relief  yang mengisahkan ajaran Mahayana. Candi tersebut berukuran sisi-sisinya 123 meter, sedang tingginya termasuk puncak stupa yang sudah tidak ada karena disambar petir 42 m. Yang ada sekarang tingginya 31,5 m. Pada hakekatnya Borobudur itu berbentuk stupa, yaitu bangunan suci agama Buddha yang dalam bentuk aslinya merupakan kubah (separoh bola) yang berdiri atas alas dasar dan diberi payung di atasnya.    
Candi itu mempunyai 9 tingkat, yaitu : 6 tingkat di bawah,: "tiap sisinya agak menonjol berliku-liku, sehingga memberi kesan bersudut banyak. 3 tingkat diatasnya:'' berbentuk lingkaran. Dan yang paling atas yang disebut sebagai tingkat ke-10 adalah stupa besar ukuran diametrnya 9,90 m, tinggi 7 m.
Borobudur tidak memiliki ruang-ruang yang dulunya dipakai sebagai tempat memuja seperti candi-candi lainnya. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit, kedua tepinya dibatasi oleh dinding candi, mengelilingi candi tingkat demi tingkat.
Dari satu tingkat lainnya di empat penjuru terdapat pintu gerbang masuk ke tingkat lainnya melalui tangga. Di lorong-lorong inilah para umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Upacara itu disebut pradaksima
Tingkat-10
Sejarawan Belanda Dr. J.G. Casparis dalam desertasinya untuk mendapat gelar doctor pada tahun. 1950 mengemukakan, bahwa Borobudur yang bertingkat 10 menggambarkan secara jelas terlihat filsafat agama Buddha Mahayana yang disebut “Dasabodhisatwabhumi”.
Filsafat itu mengajarkan, bahwa setiap orang yang ingin mencapai tingkat kedudukan sebagai Buddha harus melampaui 10 tingkatan Bodhisatwa. Apabila telah melampaui 10 tingkat itu, maka manusia akan mencapai kesempurnaan dan menjadi seorang Buddha.

Perlu diketahui, bahwa menurut ajaran Buddha Mahaya, diamping Buddha Gautama yang kita kenal dalam sejarah, ada pula tokoh-tokoh Buddha lain-lainnya, masing-masing menurut jamannya, baik di jaman lampau maupun di jaman yang akan datang. Buddha di masa datang kini masih berada di dalam sorga dan masih bertingkat Bodhisatwa adalah calon Buddha di masa datang.
Dr. J. G. Casparis berpendapat, bahwa sebenarnya Borobudur merupakan tempat pemujaan nenek moyang raja-raja Sailendra, agar nenek moyang mencapai ke-Buddhaan.
Sepuluh tingkat Borobudur itu juga melambangkan, bahwa nenek moyang raja Sailendra yang mendirikan Borobudur itu berjumlah 10 orang. Berdasarkan prasasti Karangtengah bertahun 824 M dan prasati Kahulunan bertahun 824 M. Dr. J.G. Casparis berpendapat bahwa pendiri Borobudur adalah raja Sailendra bernama Samaratungga, kira-kira disekitar tahun 824. Bangunan raksasa itu kiranya baru dapat diselesaikan oleh puterinya yaitu Ratu Pramodawardhani.
Dalam hal tersebut para ahli belum terdapat kata sepakat.
Tingkatan –Tingkatan Borobudur
Pada tahun 1929 Prof. Dr. W.F. Stutterheim telah mengemukakan teorinya, bahwa Candi Borobudur itu hakekatnya merupakan “tiruan” dari alam semsta yang menurut ajaran Buddha terdiri atas 3 bagian besar, yaitu: (1). Kamadhatu; (2). Rupadhatu; dan (3). Arupadhatu.
Bagian “kaki” melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau nafsu (keinginan) yang rendah, yaitu dunia manusia biasa seperti dunia kita ini.
Rupadhatu, yaitu dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari ikatan nafsu, tetapi maish terikat oleh rupa dan bentuk, yaitu dunianya orang suci dan merupakan “alam antara” yang memisahkan “alam bawah” (kamadhatu) dengan “alam atas” (arupadhatu).
Arupadhatu, yaitu “alam atas” atau nirwana, tempat para Buddha bersemayam, dimana kebebasan mutlak telah tercapai, bebas dari keinginan dan bebas dari ikatan bentuk dan rupa. Karena itu bagian Arupadhatu itu digambarkan polos, tidak ber-relief.
Patung-patung Dhayani Buddha
Pada bagian Rupadhatu patung Dhayani Buddha digambarkan terbuka, ditempatka di lubang dinding seperti di jendela terbuka. Tetapi dibagian Arupadhatu patung-patung itu ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti didalam kurungan. Dari luar masih tampak patung-patung itu samar-samar.
Cara penempatan patung seperti tersebut rupanya dimaksudkan oelh penciptanya untuk melukiskan wujud samar-samar “antara ada dan tiada” sebagai suatu peralihan makna antra Rupadhatu dan Arupadhatu.
Arupa yang artinya tidak berupa atau tidak berwujud sepenuhnya baru tercapai pada puncak dan pusat candi itu yaitu stupa terbesar  dan tertinggi yang digambarkan polos (tanpa lubang-lubang), sehingga patung didalamnya sama sekali tidak tampak.
Stupa-stupa kurungan patung-patung di bagian Arupadhatu yang bawah bergaris miring, sedang lubang-lubang seperti yang diatasnya bergaris tegak.
Menurut almarhum Prof. Dr. Sucipta Wirjosaputro lubang-lubang seperti tersebut merupakan lambang tentang proses tingkat-tingkat lenyapnya sisa nafsu yang terakhir.
Lubang-lubang yang bergaris miring (lebih rendah dari lainnya) menggambarkan, bahwa di tingkat itu masih ada sisa-sisa dari nafsu, sedang pada tingkat di atasnya yang bergaris tegak menggambarkan nafsu itu telah terkikis habis, dan hati pun telah lurus.  

Reliefnya panjang 3 km; arcanya 505 buah .Relief pada dinding-dinding candi Borobudur itu menurut Drs. Moehkardi dalam intisari jumlahnya ada 1460 adegan, sedang relief yang dekoratief (hiasan) ada 1212 buah. Panjang relief itu kalau disambung-sambung seluruhnya dapat mencapai 2.900 m, jadi hampir 3 km.

Jumlah arcanya ada 505 buah, terdiri dari : -Tingkat ke-1 Rupadhatu ditempat arca-arca Manushi Budha sebanyak 92 buah; -Tiga tingkat selebihnya masing-masing mempunyai 92 buah arca Dhyani Buddha; -Tingkat di atasnya mempunyai 64 arca Dhyani Buddha.  
Selanjutnya di tingkat Arupadhatu terdapat pula arca-arca Dhyani Buddha yang dikurung dalam stupa, masing-masing tingkat sebanyak : 32, 24 dan 16 jumlah 72 buah.
Akhirnya di stupa induk paling atas, dahulunya terdapat pula sebuah patung Sang Adhi Buddha, yaitu Buddha tertinggi dalam agama Buddha Mahaya. Maka julah seluruhnya adalah 3 x 92 buah jumlah 432 + 64 + 1 = 505 buah.
Permainan angka yang mengagumkan.
Drs. Moehkardi mengemukakan adanya permainan angka dalam Candi Borobudur yang amat mengagumkan, sebagai berikut :
Jumlah stupa di tingkat Arupadhatu (stupa puncak tidak di hitung) adalah: 32, 24, 26 yang memiliki perbandingan yang teratur, yaitu 4:3:2, dan semuanya habis dibagi 8.
Ukuran tinggi stupa di tiga tingkat tsb. Adalah: 1,9m; 1,8m; masing-masing bebeda 10 cm. Begitu juga diameter dari stupa-stupa tersebut, mempunyai ukuran tepat sama pula dengan tingginya : 1,9m; 1,8m; 1,7m.
Beberapa bilangan di borobudur, bila dijumlahkan  angka-angkanya akan berakhir menjadi angka 1 kembali. Diduga bahwa itu memang dibuat demikian yang dapat ditafsirkan : angka 1 melambangkan ke-Esaan Sang Adhi Buddha.
Perhatikan bukti-buktinya dibawah ini :
Jumlah tingkatan Borobudur adalah 10, angka-angka dalam 10 bila dijumlahkan hasilnya : 1 + 0 = 1. Jumlah stupa di Arupadhatu yang didalamnya ada patung-patungnya ada : 32 + 24 + 16 + 1 = 73, angka 73 bila dijumlahkan hasilnya: 10 dan seperti diatas 1 + 0 = 10.
Jumlah patung-patung di Borobudur seluruhnya ada 505 buah. Bila angka-angka didalamnya dijumlahkan, hasilnya 5 + 0 + 5 = 10 dan juga seperti diatas 1 + 0 = 1.
Sang Adhi Buddha dalam agama Buddha Mahaya tidak saja dianggap sebagai  Buddha tertinggi, tetapi juga dianggap sebagai Asal dari segala Asal, dan juga asal dari keenam Dhyani Buddha, karenanya ia disebut sebagai “Yang Maha Esa”.
Demikianlah keindahan Borobudur sebagai yang terlihat dan yang terasakan, mengandung filsafat tinggi seperti yang tersimpan dalam sanubari bangsa Timur, khususnya bangsa kita.